Zulmaris dan Kisah Pasukan Orange Diantara Tumpukan Sampah

rri.co.id
rri.co.id

Kamis, 28 Juni 2018, sejumlah armada truk dan L-300 Pick-Up mondar-mandir. Suasana riuh pecahkan keheningan. Mengikuti dari belakang, aroma tak sedap menusuk hidung. Mobil itu berisikan sampah yang dikutip di seputaran kota Takengon. Di atas juga terlihat pekerja sibuk dengan aktifitasnya. Tampak tangan kekar mereka jorok. Mereka kompak menggunakan baju berwarna Orange bertuliskan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tengah.

Ditangan salah satu pekerja terlihat memegang kaleng mineral. Sembari mobil berlaju, mereka memilah sampah yang bernilai rupiah. Senyum lebar sesekali tampak di wajah itu sembari canda ria bak beban tak menghampiri.

Mobil itu kemudian tiba-tiba berhenti di depan SPBU Tansarel, Kecamatan Bebesen, Kota Takengon. Disana juga sudah ada Kijang Pick-Up berwarna hitam menunggu. Penulis mengetahui persis pemilik Pick-Up tua itu. Dia adalah Basyir, salah seorang bos penampung barang bekas. Gudangnya terletak tepat di depan Gedung Olah Raga Aceh Tengah, kawasan Pasar Paya Ilang. Disana Basyir mengumpul rongsokan. Pada bagian timur gudang itu pula, Ia tinggal bersama anak istri.

Dari atas mobil sampah, kemudian sosok tua yang belakangan diketahui menyandang nama Zulmaris kemudian menampakkan karung putih lusuh kepada toke rongsokan. Isinya separuh. Setelah ditimbang, barang bekas yang didominasi kaleng mineral dan aluminium lainnya itu dilempar kedalam Kijang Pick-Up.

Sang toke kemudian meraih tas tanpa tali di bagian depan mobil. Isinya rupiah. Uang itu diperuntukkan membayar barang bekas untuk Zulmaris.

Setelah transaksi usai, Zulmaris naik dibagian depan, mobil pengangkut sampah itu tancap gas, melaju kencang ke arah Pegasing, bagian barat kota Takengon. Begitupun dengan toke rongsokan, Ia balik kanan.

Tak sempat berbincang lama. Sembari bergegas, Zulmaris yang tinggal di Desa Kemili, Kecamatan Bebesen itu, kini berkepala tiga. Penghasilannya perbulan dari kerja keras sebagai pengangkut sampah hanya Rp 800 ribu perbulan setelah potong BPJS Rp 76 ribu.

Pendapatan pria berumur 50 tahun itu sedikit bertambah dari sang Istri bernama Kemala Intan yang juga bertugas sebagai penyapu jalan di Dinas Lingkungan Hidup Aceh Tengah. Statusnya sama, tenaga honorer daerah yang ditetapkan melalui surat keputusan bupati beberapa tahun silam.

Dalam perbincangan singkat itu, Zulmaris menceritakan mulai bekerja sebagai pengangkut sampah dari tahun 2008 silam dengan status sebagai tenaga bakti. Upah yang diterimapun juga tidak seberapa, namun seiring berjalan waktu, Pemerintah konsisten menaikkan gaji mereka secara berkala. Begitupun, tugas Zulmaris juga berpindah-pindah, mulai dari pengangkut sampah, pengawas hingga sopir.

“Diangkat jadi PNS-pun gak sanggup dengan tugas nanti. Saya-pun tamatan SMA, mau ditempatkan dimana? Kan ada juga oknum PNS di kantor-kantor cuma duduk saja kerjanya. Gak tau mau kerja apa,” kata Zulmaris, Kamis (28/6/2018).

Keesokan harinya, penulis menyambangi Dinas Lingkungan Didup Aceh Tengah, instansi dimana seragam yang dikenakan Zulmaris dan istrinya menggali rupiah.

Saat bertamu ke Dinas, sosok gadis menyapa. Penulis mengenali baik wanita itu. Ia juga salah seorang adik dari karib penulis.

Nama panggilannya Selvi. Sepengetahuan penulis, Ia masih Single. Dengan seragam dinas, belakangan diketahaui Selvi juga sudah bekerja di sana. Stausnya juga masih mengabdi. Berbeda dengan Zulmaris dan istri, tugasnya Selvi hanya di kantor. Membantu proses administrasi dan tugas kantor lainnya.

Sesaat berbincang, kemudian penulis mengutarakan maksud kedatangan. Ia pula yang mengantar penulis menemui pimpinan Instansi itu.

Di dalam sana tampak sosok berwibawa dengan seragam dinas. Selvi kemudian berbisik memberitahu sosok berkacamata itu adalah Kepala Dinas. Ia menyandang nama Zikriadi.

Kepada penulis Ia gamblang menceritakan keadaan dan status staf. Selain Zulmaris, masih terdapat ratusan lainnya dengan status honor dan upah beragam.

“Mereka honor semua, petugas pengangkut sampah, penyapu jalan, dan petugas taman,”kata Zikriadi.

Upaya pemilahan sampah oleh Zulmaris kala itu, terbilang cerdas. Ia tahu betul peluang pundi rupiah di depan mata.

Pendapatannya dari memilah sampah mungkin lumayan. Saat itu, Ia menerima pecahan dua ribu sebanyak 15 lembar. Mungkin jumlah tersebut untuk dibagikan bersama karibnya.

Jumlah itu pula mampu menambahkan angka gaji yang mereka terima dari Pemerintah.

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar saat diwawancarai wartawan ratusan honorer itu diberi gaji bervariasi. Mulai dari Rp 700 ribu sampai dengan Rp1,2 juta perbulan.

Shabela  mengaku, gaji yang diterima pekerja sudah sesuai dengan beban kerja, yakni 3 jam perhari.

Penanganan sampah di Aceh Tengah kata Shabela, cukup komplit. Rendahnya kesadaran masyarakat, membuat petugas kewalahan.

Kebiasaan membuang sampah pada waktu malam hari, juga dikeluhkan. Disamping ada warga yang membuang sampah tidak pada tempat yang telah disediakan.

Sesaat sosok berwibawa itu merunduk, prihatin dengan nasib dan beban petugas.

Keesokan harinya, penulis kerap menjumpai Zulmaris. Aktifitasnya masih seperti biasa. Berseragam dinas bak petugas profesional. Sosok tua itu, sepertinya cukup menikmati pekerjaan. Tegur sapa sesekali terlempar sembari senyum lebar bibir berkumis tipis itu menyambut.**

Sumber : rri.co.id