Terbesar Pertama, Agus PMTOH Tampil di ICAD

JAKARTA: Ruang 3×4 berwarna putih itu penuh dengan berbagai benda yang unik, aneh, dan terkesan nyeleneh sebab menghadirkan berbagai benda warna yang kontras dengan warna ruangan. Jika diperhatian seksama, kita bisa melihar di sana ada gayung, topi caping, ember, bunga dari gabus berwarna hijau, mobil pengangkut minyak plastik main anak-anak, ikan-ikan, ponsel berwana merah dengan sebuah foto digunting sebagai walpapper, dan berbagai macam benda lainnya.

Orang-orang yang melihat ruang itu, terpaku dan serius memperhatikan. Kadang ada pula yang menyentuh benda tersebut sambil sesekali bertanya, “ini benda apa?”, atau berdiri dengan backgraound benda-benda dan menjadikannya latar untuk berselfi.

Benda-benda itu tak lain adalah bahan pertunjukkan penutur hikayat (pendongeng) tradisional Aceh, Agus PMTOH atau Agus Nur Amal. Biasanya, benda-benda tersebut ditampilkan dalam pertunjukan teater tunggalnya di berbagai kesempatan acara.

“Namun, kali ini, saya tampil sebagai salah satu artis atau seniman yang menampilkan karya saya pada Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) yang diadakan oleh Yayasan Design+Art Indonesia,” kata Agus PMTOH di Grandkemang Hotel, Jakarta Selatan, Selasa, 30 Oktober 2018.

Agus mengungkapkan, dirinya sudah sejak lama menggunakan benda-benda-benda kesehariannya sebagai alat penyampaian pesan moral ke tengah masyarakat. Benda-benda mati tersebut, di tangan dingin Agus PMTOH menjadi hidup dan seolah mampu menghipnotis penonton yang ada di sekitar untuk tertawa.

“Saya menggunakan benda-benda ini sebagai basis kontruksi cerita yang saya kira cukup komunikatif. Sebab setiap benda-benda ini telah saya deformasi dan mengubahnya ke dalam definisi baru, sesuai kebutuhan tema,” kata Agus PMTOH.

Agus juga menjelaskan, instalasi benda-benda yang dibuat secara manual itu yang selama ini dihadirkannya ke tengah tengah publik dengan harapan dapat mematik imajinasi para penontonnya.

“Kemudian, baru para penonton digiring agar dapat menjelajah cerita sederhana bahkan yang rumit sekali pun dalam cerita yang saya sampaikan,” kata lelaki lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.

Agus juga mengungkapkan bahwa, ini adalah pameran ketiga bagi dirinya. Benda-benda yang dipamerkan tersebut, lanjut Agus punya nilai sejarah dan kisah dalam karir Agus PMTOH sejak 1990 hingga saat ini.

“Sebagian benda-benda itu juga menyimpan ceritanya sendiri sebab diambil dari peristiwa tsunami di Aceh dan menjadi bahan cerita. Misalnya, sepatu anak kecil warna-warni dan kepala boneka yang saya pungut di Gampong Pande, daerah paling parah dihantam air gelombang,” ujar Agus.

Agus menambahkan, benda-benda itu juga banyak dijadikan sebagai alat peraga untuk menjelaskan mata pelajaran di sekolah, seperti inside the leaf atau daun sebagai dapur raksasa. “Saya juga menggarap tema-tema bencana seperti topi caping yang pada ujungnya dilekatkan plastik warna merah yang bermakna gunung berapi. Juga benda-benda sebagai memori penculikan aktifis pro demokrasi 1996,” kata Agus.

Indonesian Contemporary Art & Design adalah kegiatan tahunan ke-9 yang secara konsisten diselenggarakan oleh Yayasan Design+Art Indonesia. Dalam ICAD 2018 ini, pameran tersebut dihadiri oleh 30-an pelaku kreatif dari berbagai daerah dan akan berlangsung hingga 30 November 2018 nanti.

Tahun ini, Indonesian Contemporary Art & Design menurunkan tema KISAH. Melalui tema “KISAH” (cerita), digulingkan pula dua pandangan terhadap tema tersebut yakni:

Pertama; Cerita sebagai subjek utama menjadi bingkai karya seniman dan desainer. Di sini, seniman dan desainer akan menceritakan sebuah peristiwa, momen, cerita, kenyataan, atau imajinasi yang dapat dibangun menjadi ‘realitas baru’ yang dapat relevan dalam konteks sekarang dan masa depan.

Kedua; Kisah yang berangkat dari pengalaman seniman dan desainer sebagai proses kerja dalam kurun waktu tertentu. Melalui ini, pengunjung akan diajak untuk menikmati berbagai cerita kreatif dan proses seniman dan desainer yang telah berkontribusi besar terhadap perkembangan desain dan seni kontemporer Indonesia.(Agus Rahmad B.)

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!