Soal Gajah di Pintu Rime Gayo, Pemerintah Daerah Dinilai Lamban

Sadra Munawar

REDELONG: Terkait penanganan masalah liar gajah yang memasuki pemukiman warga di Kecamatan Pintu Rime Gayo, aktivis di Bener Meriah menilai Pemerintah Daerah lamban lakukan penanganan.

“Pemerintah dianggap lamban dalam penanganan masalah konflik gajah dengan manusia yang terjadi di kecamatan Pintu Rime Gayo”ujar Sadra Munawar salah seorang aktivis dan tokoh muda di Bener Meriah.

“Jika ditanya soal serius atau tidak, saya mengatakan pemerintah tidak serius tangani bencana ini” Kata Sadra.

Ia mengungkapkan seharusnya Pemerintah Kabupaten Bener Meriah bergerak cepat dan menjadikan masalah ini salah satu fokus pemerintah daerah.

Menurut Sadra, pemerintah daerah secepatnya memberikan solusi sehingga hal ini tidak terus berlanjut, karena yang merasakan dampaknya adalah warga setempat, masyarakat Bener Meriah.

“Lihat saja, seperti hari ini (16/1/2020) gajah masuk ke pekarangan SD Negeri Antara yang kemudian mengganggu aktifitas belajar siswa dan dikhawatirkan akan berdampak terhentinya sementara waktu aktivitas belajar mengajar” Lanjut Sadra.

Secara terpisah Rizki Wan Okta Bina anggota Forum Pengurangan Resiko Bencana (PRB) Aceh mengatakan bahwa idealnya pemerintah Bener Meriah segera menetapkan status fenomena turunnya gajah ke pemukiman masyarakat di Kecamatan Pintu Rime Gayo ini apakah sudah masuk dalam kategori bencana atau tidak.

Jika dianggap merupakan bencana maka harus di susun dokumen rencana teknis penanganan masalah gajah yang bersifat taktis dan komperhensif dengan melibatkan multi stekholder.

“Untuk tahap awal perlu dipetakan luas area dan jumlah penduduk yang terpapar ancaman serta menentukan instansi yang menjadi leading sektor di tingkat kabupaten dalam penanganan ancaman dari gajah ini” Kata Alumni Magister Ilmu Kebencanaan Universitan Syiah Kuala.

Hingga saat ini kawanan gajah masih memasuki pemukiman warga di Pintu Rime Gayo, tepatnya di kawasan kampung Negeri Antara. Akibatnya warga tak berani pergi ke kebun mereka, padahal mayoritas warga berprofesi sebagai petani.

Dari penelusuran Kabargayo, konflik gajah dengan manusia di kawasan ini bahkan telah memakan korban jiwa dan luka-luka. Ratusan rumah warga rusak, ini belum lagi perkebunan masyarakat yang rusak akibat amukan gajah. (Wein Pengembara)

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!