Sifat Tajassus Tidak Berakal

  • Whatsapp

Oleh: Dr. Joni MN, M.Pd.B.I 


Mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang lain dengan maksud menaikan pamor diri sendiri adalah suatu bentuk tindakan yang kerdil dan bodoh. Karena semakin sering kita merendahkan orang lain dengan tujuan agar dirinya menjadi lebih hebat dari orang tersebut adalah bentuk tindakkan yang bodoh dan pikiran yang kerdil, karena hanya orang yang tidak baik melakukan tindakan yang tidak baik. Kalau orang yang memiliki watak dan pikiran yang baik pasti ia tahu ..” Oh..ini baik dan itu yang tidak baik”.

Mendapatkan dan mengharapkan pujian dari orang lain setelah merendahkan orang lain tidak membuktikan dan juga tidak mengubah apa-apa pada diri. Mungkin seseorang dipuji karena lebih baik darinya tapi nyatanya dia hanyalah terlihat lebih buruk dari orang yang ia rendahkan.

Read More

Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah berkata. bahwa perilaku ini masuk ke dalam kategori “Tajassus”. Kemudian, beliau berpendapat bahwa , “tajassus tersebut bermakna adalah cabang dari kemunafikan.


Untuk perbuatan ini ALLAH SWT melarang keras agar tidak dilakukan, seperti firman ALLAH yang terdapat di dalam QS, Al-Hujurat : 12, yakni;

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”.

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya:
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.


Kemudian, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, sebagai berikut:
Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.”.

Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.”


Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi berkata dalam sebuah kitabnya yang dikutip oleh Syekh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr dalam tulisannya sebagai berikut,

”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya.

Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”. dan secara psikologika orang tersebut memiliki jiwa kurang sehat alias sakit.

*Penulis adalah Dosen STIT Al Washliyah Takengon

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.

Related posts