Potret Pilu “Gubuk Derita” Mayni berlantai Tanah, Nyaris Rubuh

Hanya berjarak sekitar 300 meter  dari kantor Camat Pintu Rime Gayo, mirisnya kondisi rumah  Mayni seperti luput dari perhatian, Nyaris rubuh berlantaikan tanah  dan bocor di musim hujan. 

REDELONG: Memasuki rumah Mayni, tepatnya berada di Kampung Teget Blang Rakal dusun Timang Rasa kecamatan Pintu Rime Gayo Bener Meriah, siapapun akan merasa miris. Menggugah iba dan mengetuk perasaan. Rumah berbahan kayu itu sebenarnya sudah tak layak huni.

Dari sela-sela papan dinding rumah cahaya matahari menembus, jika musim penghujan udara dingin merasuk membuat tulang menggigil dingin.

Rumah dengan ukuran 4×5 tampak sesak, dihuni oleh 7 orang, Mayni bersama sang suami Anwar bersama ketiga anaknya dan kedua orang tua Mayni yang sudah renta.

“Kami ingin sekali merehab rumah ini, tapi kami tidak punya biaya”ujar Mayni lirih.

Anwar sebagai kepala keluarga, berprofesi sebagai buruh pengutip kopi, kalau tidak musim panen kopi ia bekerja serabutan untuk menghidupi keluarga. Ia tak mempunyai kebun seperti umumnya warga setempat yang mayoritas petani dengan tanah kebun milik sendiri.

Rumah yang hampir lapuk itu, mempunyai tiga ruangan, ruang tamu dengan tikar dari karung baret berdempet dengan tumpukan lemari, sejumlah ember berisi berbagai barang-barang keperluan keluarga berdesakan.

Ruang kedua,  kamar tidur sempit dengan kelambu kumal tampa dipan dan beradu dengan baju-baju. Ruangan ini menjadi kamar tidur Mayni bersama sang suami dan anak bungsu mereka, sementara kedua anak mereka lainnya tidur diruang tamu yang sama-sama beralaskan tanah.

Ruangan ketiga yakni dapur yang terbagi dua dua sisi, tungku dapur kayu bakar dan bale-bale dari papan reyot tempat kedua mertua Anwar tidur. Berhimpitan dengan peralatan dapur seadanya dan kepulan asap kayu bakar bercampur plastik-plastik bekas untuk bahan bakar.

Di belakang dapur, kamar mandi terbuka dengan jamban diatas parit  airnya mengalir di kebun kopi yang bukan milik mereka.  Rumah yang nyaris rubuh itu adalah rumah warisan dari orang tua Mayni dan telah dihuni tiga generasi.

Ketiga anak Mayni yang sulung tengah mengenyam pendidikan di Pesantren  jalan Lintang Takengon, anak kedua duduk di Kelas 3 SD sedangkan yang paling kecil masih berumur 3 tahun.

Pengakuan Mayni, pihak desa pernah akan memberikan bantuan rehab rumah, senilai Rp. 10 Juta. Tapi ditolak Mayni.  Alasannya,  jumlah yang diberikan itu tidak cukup untuk memperbaiki rumahnya.

“Bukan kami sombong menolak bantuan pihak desa, namun kalau 10 juta yang diberikan paling yang dikerjakan hanya bak mandi saja, sedangkan selanjutnya kami tidak mendapatkan bantuan lagi dari desa,” jelasnya.

Soal bantuan untuk rumah, Mayni menuturkan banyak yang datang mengunjungi sebagian memotret dan didata, namun tetap saja tampa kejelasan.

“Sering datang kesini orang meminta data miskin dan memotret seluruh isi rumah ini, katanya rumah ini akan diperbaiki,  nyatanya hingga saat ini masih belum jelas,” keluhnya.

Sejauh ini ia tercatat sebagai penerima bantuan Raskin dan PKH. Raskin diterima sebulan sekali dan PKH diterima 3 bulan sekali.

Saat melakukan liputan ke rumah Mayni, awak media sempat memberikan bantuan sekedarnya kepada Mayni sebagai salah satu bentuk keprihatinan awak media yang meliput terutama dalam bulan Suci Ramadhan ini.

“Ingin sekali rumah ini kami perbaiki, namun apa daya, penghasilan kami hanya dari kerja panen kopi di kebun orang, dengan penghasilan yang sangat minim, cukup untuk makan,” katanya.

Baca: Camat PRG: Rumah Mayni Direhab dari Dana Desa Usai Idul Fitri Tahun ini

Kondisi keluarga Mayni dengan keadaan rumah yang memprihatinkan adalah potret buram kemiskinan di Bener Meriah. Butuh perhatian dan uluran tangan. (Arsadi Laksamana)

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!