Penyidikan Terhadap Pelaku Pembunuhan Ayah Kandung di Bener Meriah Dihentikan

REDELONG : Berhalusinasi seolah-olah yang dilihatnya adalah sosok hantu, SR ( 19 ) warga Wih Resap Kecamatan Mesidah Kabupaten Bener Meriah yang mengindap ganguan jiwa menghajar ayah kandungnya dengan mengunakan cangkul hinga tewas.

SR menderita gangguan kejiwaan yang sudah sempat dua kali keluar dari klinik Kejiwaan RS, Takengon dan Lhoksemawe. Yang dikuatkan dengan adanya surat keterangan yang dikeluarkan oleh Kepala Desa ( Reje) Kampung Wih Resap terkait dengan kondisi yang dialami pelaku pembunuhan terhadap ayah kandungnya itu. Hal itu diungkapkan Kapolres Bener Meriah AKBP Fahmi Irwan Ramli, melalui Kabag Sumda Kompol Edi Yaksa, S. Sos saat mengelar konfrensi Pers Kamis ( 7/2/2019 ) diruang offrom Polres setempat.

Edi Yaksan menuturkan kronologis kejadiannya , pada hari Selasa 1 Januari 2019 sekitar pukul 23.00 wib, tetangga korban Bustami mendengar teriakan ” Allahhuakbar ” dari rumah korban, mendengar teriakan tersebut Bustami bersama masyarakat lainnya langsung bergegas mendekati rumah korban. Dirumah korban, masyarakat Wih Resap melihat korban dalam keadaan tergeletak.

Mengetahui hal tersebut, lanjut Kabag Sumda itu, masyarakat langsung mengamankan pelaku yang merupakan masih anak kandung korban kemudian selanjutnya masyarakat melaporkan kejadian itu ke Polsek Mesidah.

Adapun barang bukti yang diamankan, satu buah cangkul bergagang kayu berwarna coklat dengan panjang 86 cm dan berdiameter 4 cm, satu helai sarung bercorak kotak-kotak warna merah muda dengan bercak darah korban, satu helai celana pendek warna abu-abu motif garis-garis, satu helai celana panjang, satu helai kaos dalam, satu helai baju warna hijau, dan satu buah jam tanggan.

Edi Yaksa juga menuturkan, pada saat penyidikan pembantu melakukan pemeriksaan terhadap SR, pelaku banyak mengalami halusinasi seperti orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Dan dari hasil tersebut pelaku langsung dibawa ke Rumah sakit jiwa Banda Aceh pada 2 Januari 2019, guna untuk dilakukan pemeriksaan terhadap kesehatan kejiwaan.

Dari hasil Visum et repertum psikiatrikum terhadap pelaku, SR dinyatakan mengalami gangguan jiwa berubah akal dengan diagnosis gangguan perilaku organik akibat difungsi system susunan syaraf pusat atau otak ( F07.8 ).

Sementara Kasat Reskrim Iptu Wijaya Yudi Stira Putra menuturkan, dengan kondisi pelaku yang mengalami gangguan kejiwaan dari hasil visum tersebut, penyidik sat Reskrim Polres Bener Meriah langsung melakukan gelar pada tanggal 19 Januari 2019.

Hasil gelar perkara yaitu menghentikan proses penyelidikan dan penyidikan terhadap perkara pembunuhan tersebut. Kepada SR diberlakukan pasal 44 ( 1 ) barangsiapa yang mengerjakan sesuatu yang tidak dapat dipertangungjawabkan kepadanya karena kurang mampu akalnya atau karena sakit berubah akal tidak boleh di hukum. Papar Kasat Res Bener Meriah Itu.

Dia menyebutkan, untuk saat ini pelaku masih dirawat di RSJ dan untuk pelaku dinyatakan tidak akan di hukum karena terbukti mengalami gangguan jiwa dengan hasil visum telah diterima pihaknya. ( Gona)