MPU Aceh Tengah Gelar Rakor, Bahas Radikal dan Intoleran

  • Whatsapp

Kabargayo.com, Takengon: Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tengah gelar Rapat Koordinasi (Rakor) dengan lintas sektor yang ada di Kabupaten berhawa sejuk itu. topic yang dibahas dalam kegiatan tersebut Radikalisme ditinjau dari aspek Agama dan hukum

Wakil Ketua MPU Aceh Tengah Drs Amri Jalaludin dalam pidato Iftitah nya menginginkan di Kabupaten tersebut  tidak ada tokoh adat, tokoh ulama, tokoh masyarakat tokoh pemuda dan Ormas-ormas Islam dari semua golongan dan komponen masyarakat yang tersandung dengan faktor pemicu Radikalisme yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Assunah dan hukum yang berlaku dalam Republik ini.

Read More

Ia juga menyampaikan tentang Fatwa MPU Aceh terkait haram hukumnya melakukan tindakan radikalisme dan intoleransi dalam ber-Agama. Dalam Fatwa itu disebutkan Tasabbuh adalah sifat atau sikap tenggang rasa terhadap perbedaan, kedua, toleransi (Tasamuh) pada pokok-pokok aqidah, ibadah dan akhlak tidak dibenarkan.

Ketiga, radikalisme (Tatharruf) adalah sifat atau sikap keras yang berada diluar batas yang sewajarnya, keempat, toleransi (Tasamuh) dianjurkan dalam batasan yang telah diatur oleh agama serta mempertimbangkan kearifan lokal.

Kelima, Toleransi (Tasamuh) terhadap perbedaan dalam agama dan pemahaman yang bersifat pokok-pokok aqidah, ibadah dan akhlak hukumnya adalah haram. Dan yangterakhir adalah Radikalisme (Tatharruf) dalam sikap beragama, meliputi aqidah, ibadah, dakwah dan akhlak adalah haram.

“Kami meminta para Da’I dan Pendidik di Aceh tengah tidak menebarkan sikap intoleran dan radikal, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kelompok terpapar radikalisme. Pemeluk agama dan golongan serta kelompok diminta saling menghargai dan menjauhi sifat, sikap,  prilaku radikalisme dan intoleran,” tegas Amri Jalaluddin, (Selasa 30/03) di Of-room Setdakab setempat.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar menyampaikan duka yang mendalam terhadap insiden bom bunuh diri yang menyasar jemaat sedang beribadah di sebuah katedral di kota makassar. dua orang pelaku tewas dan melukai sejumlah jemaat.

“Peristiwa ini tentu saja mengganggu stabilitas keamanan dan kenyamanan beribadah masyarakat. kami yakin, kita semua mengutuk terjadinya tindakan terorisme ini. mengapa kami katakan terorisme? Sebab peristiwa ini merupakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa ketakutan secara luas, menyebabkan korban, baik jiwa maupun luka-luka, serta menyebabkan kerusakan dan kehancuran fasilitas dengan motif gangguan keamanan. dengan demikian terorisme identik dengan konotasi negative,” pungkas Shabela.

Segala bentuk teror yang terjadi kata dia, bukan hanya dilatarbelakangi oleh perbedaan agama saja. perbedaan ideologi, perbedaan aliran politik, bahkan perbedaan pandangan dalam satu agama pun dapat menyebabkan timbulnya radikalisme maupun terorisme.

“Akan hadir sikap toleransi atas segala perbedaan dan menjadikan perbedaan itu sebagai suatu rahmat. pelangi akan indah jika berwarna warni. jika warnanya sama atau hanya satu warna saja tentu tidak indah,” katanya.

“Tugas kita bersama agar segenap masyarakat kita tidak terjebak dalam paham-paham yang menyesatkan. perlu keterlibatan guru, orang tua, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh lintas agama, pemerintah dan pihak lainnya, baik langsung maupun secara tidak langsung terlibat dalam pembentukan mental dan karakter masyarakat kita.” Timpal Shabela.

Hal lain yang harus turut di waspadai menurut Bupati,derasnya arus informasi tanpa batas melalui media sosial yang sangat menyulitkan terutama bagi para orang tua di rumah untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap keluarga.

“Kiranya perlu sebuah langkah integratif, dimana seluruh pihak yang terlibat dan terkait memiliki persepsi yang sama bahwa memerangi paham menyesatkan merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah saja atau hanya sebatas tanggung jawab orang tua di rumah.” Tutup Bupati Aceh Tengah berharap kegiatan itu menghasilkan rekomendasi untuk Pemerintah.

Sebagai narasumber turut terlibat langsung Kapolres Aceh Tengah AKBP Sandy Sinurat,S.IK DAN Dr Al-Musana Wakil Rektor IAIN Takengon. (KG31)

Related posts