Misriadi, Reje Berprestasi dari Kampung Hakim Bale Bujang

Misriadi, Reje Kampung Hakim Bale Bujang bersalaman dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar saat menerima penghargaan di Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur Batu, Kamis (5/12/2019).| foto: Fb Adi Bale

TAKENGON: Kesungguhan dan dedikasi akan menghasilkan prestasi. Meski dibutuhkan kerja keras dan tekad kuat untuk meraih apa yang diinginkan namun percayalah semua akan terbayar dengan hasil yang didapat kemudian.

Ungkapan tadi, setidaknya menggambarkan apa yang kini diraih oleh Misriadi, Reje Kampung Hakim Bale Bujang. Inovasi yang ia buat bersama masyarakat desa yang berada dipinggiran Danau Lut Tawar itu, kini telah membuahkan hasil. Kini kawasan Bur Telege yang berada di Kampung Hakim Bale Bujang menjadi salah satu destinasi wisata andalan di dataran Tinggi Gayo, terutama di Aceh Tengah.

Baru-baru ini, Misriadi menerima penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar. Penyerahan ini dilakukan dalam acara Gerakan Nasional Pemulihan Daerah Aliran Sungai (GNPDAS) yang digelar di Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur Batu, Kamis (5/12/2019).

Misriadi adalah Kepala Desa satu-satunya di Aceh yang menerima penghargaan bergengsi ini. Penghargaan ini diberikan setiap tahun kepada yang dianggap layak mendapatkannya.

Latar belakang Misriadi mendapatkan penghargaan ini, karena dinilai telah membuktikan keberpihakannya dalam pengelolaan di wilayah Kampung HBB berbasis kelestarian lingkungan. Kampung Hakim berada di tepi Danau Laut Tawar, hulu Sungai Peusangan yang mengalir sampai Selat Malaka melintasi Kabupaten Bener Meriah, Bireuen, Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara.

Berdasarkan penilaian pihak Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kampung Hakim Bale Bujang dibawah kepemimpinan Misriadi telah berhasil merehabilitasi daerah tangkapan air danau, mendirikan Badan Usaha Milik Gampong (BUMK), melakukan pengembangan ekowisata, konservasi burung di areal sekitar danau dan sejak tahun 2000 melakukan penanaman kembali pohon di tepi Danau Laut Tawar.

Serius terhadap kelestarian lingkungan, Kampung Hakim Bale Bujang menerbitkan qanun kampung tentang lingkungan hidup. Berisi tentang 14 larangan yang jika dilanggar akan diproses secara adat dan dikenakan sanksi denda, yang dilakukan Kampung Hakim Bale Bujang sebenarnya bisa dicontoh bagi kampung atau desa-desa lainnya yang mengeluarkan aturan kampung dalam menjaga lingkungan.

Bur Telege

Bur Telege kini menjelma bagai gadis cantik yang cantik jelita, mengundang hasrat untuk mengunjunginya. Dari puncak Bur Telege, pemandangan kota Takengon terlihat jelas. Pemandangan indah danau Lut Tawar sangat mempesona memanjakan mata dan dapat memberikan inspirasi jika menatapnya.

Keberhasilan Bur Telege merupakan satu inovasi pariwisata kampung. Kerjasama yang baik antara aparatur kampung dengan warga.

Bur Telege kemudian menjadi salah satu percontohan pengelolaan objek wisata yang dikelola dan digagas oleh warga. Pemerintah kemudian memberikan dukungan, baik dari Pemerintah Daerah maupun Kementerian terkait.

“Kami bersyukur, Bur Telege mendapat respon tinggi dari masyarakat, walau belum sempurna,”ujar Misriadi.

Pemugaran Bur Telege yang berada di ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut ini dimulai pada 2017, tempat yang dulunya semak belukar “disulap” menjadi tempat menarik yang dikunjungi. Seratusan pemuda kampung Bale terlibat dalam pengelolaan mulai dari yang mengurusi parkir hingga mengurusi Cafe dan kios.

“Pemerintahan Kampung hanya memfasilitasi saja, karena semuanya kreasi anak-anak muda,”jelasnya.

Berlahan-lahan namun pasti apa yang dilakukan Misriadi bersama masyarakat Hakim Bale Bujang telah memberi arti, untuk perubahan besar tak cukup hanya dengan kata-kata atau retorika belaka. Semua gagasan dan ide besar harus dilakukan dengan tindakan nyata. (Arsadi)

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!