Dolar Naik Turun, Harap-harap Cemas Petani Kopi

Kebun Kopi Gayo/Win Ruhdi Bathin
Kebun Kopi Gayo/Win Ruhdi Bathin

Oleh : Jurnalisa **

Biji kopi dengan rasa dan aroma yang tiada tara, dihasilkan dari tangan-tangan kokoh masyarakat Gayo dari kebun-kebun rakyat Aceh Tengah. Hampir seluruh masyarakat Gayo di Dataran Tinggi Gayo menanam kopi Arabika. Kopi Gayo, sampai saat ini sudah “Melanglang dunia”. Dari rasa dan aroma dan hal lainya kopi Gayo selalu mendapatkan harga tertinggi di terminal Internasional dibanding dengan kopi-kopi lainya dari Indonesia.

Delapan puluh persen masyarakat Tanoh Gayo menghidupi keluarga dari hasil penjualan kopi. Berkebun sudah mendarah daging, dan semua hasil kebun kopi untuk membiayai seluruh sektor kehidupan masyarakatnya. Dollar terus menekan rupiah sejauh ini. Pertanyaanya apakah setelah dollar naik, harga kopi juga ikut naik.

Menurut Armiadi salah seorang pelaku kopi di Aceh Tengah juga sebagai sekretaris Koperasi Baburayan, mengatakan sejauh ini harga kopi masih biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa kehidupan petani kopi dengan dolar naik. Asumsi masyarakat umum kalau dolar naik, petani kopi akan sejahtera, “tidak begitu,” kata Armiadi.

Masa panen kopi di Aceh Tengah, memang saat ini sudah dimulai. Dan hal ini akan terjadi selama tiga bulan kedepan. Dengan naiknya dolar sejauh ini harga kopi Gayo masih tetap bertahan diharga Rp.80-85 ribu perkilogram. Dan harga ini menurut Armiadi masih dalam posisi normal.

Menurutnya sejauh pembeli (eksportir-red) belum bergerak untuk melakukan nego atau transaksi jual-beli dengan masyarakat petani kopi. Hal ini belum dilakukan karena semua pembeli masih melihat kecukupan bahan (kopi) yang tersedia di masyarakat, lain itu juga ada kekhawatiran pembeli terhadap dolar yang masih naik turun. “Bagi pembeli dua hal tadi sangat mempengaruhi keinginan mereka untuk bertransaksi dengan petani.

Saat ini ada 24 eksportir yang “sedia” membeli kopi dari masyarakat. Namun karena pertimbangan tadi buyer masih melihat lebih jauh kondisi ekonomi secara menyeluruh. “Harap-harap cemas ini juga terjadi pada buyer, karena jelas mereka tidak mau rugi,” jelas Armiadi.

Sejauh ini yang paling mengembirakan harga kopi dari Aceh Tengah di terminal dunia selalu mendapatkan nilai lebih. Hal ini menjadi kebanggaan sendiri pagi buyer lokal. “Harga kopi Gayo mendapatkan nilai lebih tinggi dari kopi yang berasal dari luar Aceh Tengah, ini harus kita pertahankan kedepan,” lanjut Armiadi yang sudah malang melintang di dunia kopi dan menurutnya harga kopi Gayo tidak pernah turun.

Menurut Armiadi pembeli tingkat dunia juga mulai pandai untuk tidak membeli kopi Gayo. Karena rasa dan kenikmatan kopi Gayo yang tiada tara, sebagaian pembeli (eksportir-red) mengalihkan pembelian terhadap kopi lain, misalnya dari Papua. “Kopi Papua hampir-hampir mendekati rasa dengan kopi Gayo. Eksportir membeli kopi yang mendekati rasa kopi Gayo dengan harga terjangkau,” ucap Armiadi.

Tahun ini belum ada yang mengambil kontrak, karena panen belum tentu hasilnya, selain dollar yang masih belum stabil. Seharusnya ini akan berdampak besar kalau produksi kopi nampak turun, kontrak sudah banyak serta dolar naik. Hal ini bisa kenaikan yang signifikan terhadap kopi Gayo dalam satu kilogramnya. “Bisa mencapai Rp.100 ribu perkilogram dan ni luar biasa,” ujar Armiadi penuh harap.

Tahun ini adalah tahun yang paling menghawatirkan bagi eskportir. Ini semua tergantung dolar, stabil atau tidak dan hasil panen (produksi kopi ) dari petani kopi, apakah sama dengan dua tahun terakhir (stabilnya) belum ada istimasi tepat.

“Harga kopi sejauh ini belum bisa kita pastikan naik, karena faktor-faktor tadi, yaitu jumlah produksi serta kesetabilan dollar. Karena keduanya saling mempengaruhi,” kata Armiadi sambil menjelaskan rata-rata eksportir masih punya utang kopi untuk tahun 2017 lalu.

Jadi menurut Armiadi juga Ketua Asosiasi Produsen Kopi Indonesia ini naiknya harga kopi tidak seperti yang dibayangkan masyarakat umum saat ini. Karena dolar naik terus harga kopi juga ikut naik. “Tidak seperti itu, ada banyak faktor yang mempengaruhi kenaikan harga kopi selain produktifitas dan dollar,’ jelasnya.*

*Penulis Adalah Wartawan Harian Rakyat Aceh
Tulisan ini telah terbit di Koran Harian Rakyat Aceh, Kamis 11 Oktober 2018

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!