Dampak Crusher PT. NK Tak Beroperasi Proyek Jalan Tansaril-Oak Dikhawatirkan Terhambat

TAKENGON: Pasca direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh “mengamankan” alat berat milik PT. NK yang sedang beroperasi di Linge, Aceh Tengah, Minggu (8/4/2018), dikhawatirkan berdampak pada terhambatnya pengerjaan proyek preversavi jalan Tansaril -Oak.

Kekhawatiran terhambatnya proses pengerjaan proyek yang dibiayai dari APBN ini disebabkan karena Stone Crusher PT. NK beserta fasilitas pendukungnya berhenti beroperasi pasca di gerebek oleh pihak kepolisian. Dampaknya ketersediaan bahan baku untuk proyek jalan strategis tersebut menjadi kurang.

Sebagaimana diketahui sebelumnya sejumlah alat berat PT. NK, yang merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa kontruksi yang sedang bekerja di lokasi penambangan galian C di Desa Kute Payang Kali Sampe, kecamatan Linge, Aceh Tengah digerebek oleh Subdit IV Tindak Pidana Tertentu Direktorat Reskrimsus Polda Aceh, yang dipimpin langsung oleh Kompol Guntur M. Tariq.

Polisi kemudian mengamankan berupa 2 unit eksavator, 2 unit loder dan 10 truck interkuler dan satu orang pengawas lapangan berinisial Y (40) warga Medan, Sumatera Utara dan telah dibawa ke Mapolda Aceh.

Kompol Guntur M. Tariq kepada wartawan mengatakan dari keterangan saksi dan barang bukti yang mereka temukam kegiatan tambang galian C itu tidak memiliki IUP produksi dari pihak yang berwenang dan diduga, lokasi tambang masuk ke dalam kawasan konservasi. Kata Guntur.

Dilain pihak, Heru dari PT.NK saat dikomfirmasi Kabargayo menjelaskan bahwa Crusher PT. NK Cipuga sudah diurus proses perizinannya”Proses perijinan IUP di ESDM Provinsi telah kita lakukan tapi hingga saat ini belum belum terbit izinnya, jadi Crusher PT. NK legal” ujar Heru.

Bukan hanya itu kata Heru, PT.NK juga telah membayar dan resi pengiriman berkas urusan perizinan sudah ada ” Kita telah bayar biaya proses perizinannya ada resi pengiriman berkasnya”jelasnya.

Berhentinya aktivitas Crusher PT. NK beserta fasilitas pendukungnya dikhawatirkan akan berdampak pada proses penyelesaian pembangunan jalan Tansaril -Oak bahkan pada proyek-proyek lainnya.

Proyek preversavi jalan Tansaril -Oak

Mayoritas warga di dataran Tinggi Gayo pada umumnya dan masyarakat Ise-ise dan Linge khususnya berharap permasalahan ini segera berakhir sehingga proses pengerjaan jalan tersebut dapat dilanjutkan kembali seperti sedia kala. Karena proyek preservasi jalan tersebut diharapkan bisa membuka akses ekonomi dan wisata kabupaten Aceh Tengah.

Sementara itu, akibat gencarnya penertiban aktivitas galian C yang dilakukan pihak terkait terutama di wilayan Tengah, (Aceh Tengah dan Bener- Meriah) belakangan ini membuat bahan material pasir dan batu menjadi langka, ini diakui oleh beberapa truk-truk membawa pasir dan batu untuk kebutuhan masyarakat yang sedang membangun rumah juga terhadap proyek intansi pemerintahan.

“Kita berharap kalaupun mau ditertibkan namun harus dipikirkan juga kebutuhan masyarakat untuk material pasir dan batu, sehingga masyarakat bisa membangun”ungkap Aidil supir truk pasir yang mengaku terpaksa harus antri hingga tengah malam untuk mendapatkan satu truk pasir di salah satu galian C yang masih beroperasi. (Putra Gayo)