Warga Bandung Terbang ke Takengon Mengais Rejeki Jualan Bendera

  • Whatsapp
Kang Asep tengah menjual Bendera Merah Putih dan umbul-umbul di depan GOS Takengon (Photo/kabargayo)

Kabargayo.com, Takengon: Momen peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Ke-76 tinggal menghitung hari, setiap Warga Negara Indonesia (WNI) wajib mengibarkan Bendera Merah Putih.

Bahkan, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) telah mengeluarkan surat No. 003.1/3743/SJ tanggal 30 Juni 2021, dan diteruskan dengan surat Bupati Aceh Tengah No. 003.1/ 2207 /Pem, tentang Pelaksanaan Pemasangan Bendera, Dekorasi, Umbul-umbul, Poster, Spanduk, Baliho atau hiasan lainnya secara serentak sejak tanggal 1 Juli s/d 31 Agustus 2021.

Read More

Salah seroang warga Cipondoh, Tangerang, Banten, Namanya Epul (47) tahun, memanfaatkan kesempatan emas itu, untuk berjualan bendera dan pernak-pernik kebutuhan 17 Agustus.

Ia melenggang ke Kabupaten Aceh Tengah seorang diri menggunakan jasa angkutan umum dari Bandung menuju ke Kabupaten berhawa sejuk itu.

Pria yang kerap disapa Asep itu mengetahui Kabupaten Aceh Tengah dari Channel Youtube, kata dia, Aceh Tengah merupakan sentral masyarakat yang berpenghasilan cukup bersumber dari Kopi Gayo.

“Saya lihat dari Media Sosial Youtobe, warga disini penghasilan andalanya adalah Kopi, saya tertarik untuk jualan disini karena berfikir punya penghasilan tetap dan pasti dagangan saya akan laris,” kata Epul saat berbincang dengan Kabargayo.com, Selasa 03/08/2021.

Ia memilih lokasi berjualan di Depan Gedung Olah Seni (GOS) Takengon, sentral pedagang menjual jajanan keliling dengan Sepeda Motor, bahkan tempat asik menikmati secangkir kopi Gayo di pagi dan sore hari dilokasi itu.

Pria kelahiran Bandung itu itu baru pertama kali menjejakkan kaki di Aceh Tengah. Menurut Asep, ia tidak sendiri disini, banyak rekan-rekanya dari daerah asal yang sama berjualan atribut musiman itu.

“Banyak kawan-kawan saya berjualan disini, bisa dikatakan, yang jualan Bendera didominasi oleh orang Bandung, meski ada yang sudah lama disini,” kata Asep sembari menunjuk temanya se profesi disebarang jalan raya.

Keseharian Asep sebelumnya bukanlah penjual bendera, ia merupakan pedagang kerupuk Bandung. Namun ia tertarik menjual Bendera karena informasi dari rekan-rekanya telah berhasil dari jualan kebutuhan 17 Agustus itu.

“Sebelumnya saya juga sudah pernah berjualan di Simpang Empat Nagan Raya, lalu tahun ini saya gali informasi dari teman-teman di Bener Meriah bagaimana kehidupan di Aceh Tengah,” kata dia, setelah informasi itu terkumpul Asep menggali lebih jauh lewat jejaring Media Sosial.

Asep mengaku memborong barang daganganya itu didaerah Garut, harga jual bervariasi, mulai dari Rp5000, hingga Rp300.000, tergantung kebutuhan dan isi kantong.

“Kalau harga murah meriah, Bandir Rp40 ribu,Umbul-umbul Rp35 ribu dan Bendera Ceplok Rp5 ribu, stok banyak, bisa diborong,” ungkap Asep berharap warga melirik daganganya itu.

Demi memenuhi kebutuhan keluarganya yang ada di Bandung, Asep rela jadi anak kost di Takengon, ia mengaku menyewa kos selama 15 hari dengan merogoh kocek sebesar Rp300 ribu, sesuai jadwal, pada tanggal 16 Agustus mendatang ia akan balik kanan ke kampung halaman.

Situasi sulit saat ini yang tengah dirundung Pandemi Covid-19 membuat ekonomi warga lesu, ditambah lagi harga kopi tengah turun dan belum memasuki masa panen.

“Minat pembeli masih kurang, kalau kasarnya baru 3 persen yang masih terjual, mudah-mudahan kedepan makin banyak, biasanya, pembeli rame di tanggal-tanggal 10 Agustus,” ujar Asep menyampaikan pengalamanya.

Secara umum, ia menilai warga Aceh Tengah merupakan penduduk yang ramah, ia menilai, hampir sama dengan daerah Jawa. Menurut pengalamanya, ia pernah menjadi orang yang dicurigai disuatu daerah.

“Disini warganya ramah-ramah, ada tuh disuatu daerah sala dilihatin orang terus, merasa dicurigai, toh saya hanya mencari rejeki mencukupi kebutuhan keluarga saya, apalagi ini dagangan musiman,” timpalnya sembari mengaku Gayo terkenal dengan Kota yang ramah.

Terkahir ia berpesan, ditengah situasi sulit saat ini, semua pihak harus bersabar, Pandemi Covid-19 mengajarkan kita semua untuk terus berinovasi, menjalankan aturan yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah, namun usaha harus tetap jalan dengan cara kita sendiri.

“Tetap berusaha dengan Protokol Kesehatan (Prokes), ada batsan-batasan yang harus kita jalani, kita juga tidak ingin menjadi korban wabah ini, harus antisipasi,” pesan Asep, berharap wabah ini segera berlalu. (KG31)

Related posts