Upaya Selamatkan Burni Pepanyi Gunung Ujen, Forum Penyelamatan Dibentuk

  • Whatsapp
Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar didampingi kepala desa terdampak musibah banjir bandang paya tumpi dan Camat Kebayakan serta pihak FDKP (Foto/Kabargayo)

KABARGAYO.COM, Takengon: Pasca terjadinya banjir bandang pada 13 Mei 2020 lalu, empat kampung yang terdampak atas musibah ini (Bukit Sama, Paya Tumpi Baru, Paya Tumpi Induk dan Paya Tumpi) terus bergerak melakukan upaya-upaya mitigasi bencana, termasuk membentuk Forum Pengurangan Resiko Bencana (F-PRB) berbasis lingkungan.

Kepala Desa Paya Tumpi Baru Idrus Saputra S,Pd mengatakan, empat desa tersebut sepakat dibentuk forum penyelamatan Bur ni Pepanyi Gunung Ujen, dalam waktu dekat pihaknya akan membuat konsep terkait aksi yang akan dilakukan setelah forum itu terbentuk.

Read More

“Kami juga berharap Bupati Aceh Tengah mengeluarkan Perbup terkait forum kampung penanggulangan resiko bencana, sebagai amanat dari pemerintah pusat melalui Undang-undang dan Surat Edaran  Gubernur Aceh tentang forum penanggulangan resiko bencana,” kata Idrus, Jum’at (04/09/2020) diruang kerjanya.

Menurutnya, Aceh Tengah sudah sepantasnya mengeluarkan Perbup itu sebagai wujud kepedulian terhadap Bencana didaerah ini. “Berbicara bencana bukan hanya bencana alam, namun kebakaran dan gempa bumi mencakup dalam forum ini, bahkan empat desa di Paya Tumpi telah ditetapkan BPBD sebagai zona rawan bencana, kami ingin lepas dari zona ini, bukan berarti ketika hujan turun kami terus sibuk mencari payung, namun kami harus siap siaga dengan mitigasi bencana,” terang Idrus.

Sebelum Perbup itu dikeluarkan kaa dia, pihaknya terus bergerak melakukan mitigasi terhadap potensi rawan bencana di Bur Pepanyi Gunung Ujen.

“Kami juga berharap Pemda tidak berkutat dengan dialektika dan retorika semata, kami ingin aksi nyata, bukan hanya berbicara Covid-19, Pemda juga harus mampu berbicara bencana untuk menjadi perhatian bersama,” pinta Idrus.

Diketahui bersama, banjir bandang Paya Tumpi menyedot perhatian berbagai pihak, terjadinya bencana itu akibat abainya terhadap lingkungan sekitar. Pemerintahan kampung terus mencari solusi dengan memperingati sebulan pasca banjir bandang untuk mengingat kembali dan mendiskusikan apa yang harus dilakukan kedepan serta meminta pendapat dari para ahli serta peneliti menelisik penyebab musibah itu.

“Kami pemerinthan kampung terus menyikapi bencana ini, apa yang harus dilakukan selanjutnya supaya kejadian yang sama tak lagi terulang, termasuk menggelar FGD dengan masyarakat yang lahanya terdampak atas musibah ini dan menjaring pendapat apa sebenarnya yang mereka inginkan,” terang Idrus.

Turut juga menggelar FGD dengan kampung-kampung yang terdampak langsung yaitu Bukit Sama, Paya Tumpi Baru, Paya Tumpi dan Paya Tumpi Satu satu untuk menggali informasi apa yang dibutuhkan dan akan dilakukan selanjutnya.

“Kami terus menerima dukungan termasuk dari Forum Das Kreung Peusangan (FDKP) baik moril materil dan support supaya tidak lelet terkait persoalan bencana. “Pemda selalu hadir ketika ada kegiatan pasca terjadinya banjir bandang paya tumpi, ini turut kami apresiasi,” tutup Idrus. (KG31)

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.

Related posts