Tugas Muslim Terhadap Kitab Suci (Refleksi Nuzul Al-Quran 1441 H)

  • Whatsapp
Oleh: DR. Hamdan. MA*

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Al-Quran didefinisikan dengan beragam definisi namun secara sederhana Al-Quran adalah kitab suci ummat Islam yang Allah turunkan kepada manusia melalui utusannya yakni Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril sebagai petunjuk bagi manusia dalam menempuh kehidupan di dunia, dimulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An Nas  dianggap ibadah bagi yang membacanya.

Fungsi kitab suci Al-Quranul karim bagi umat Islam tidak dapat diragukan, bahkan menjadi bagian dari pilar-pilar keimanan. Kewajiban mengimani kitab suci adalah mutlaq adanya, bahkan umat Islam bukan hanya diwajibkan untuk mengimani kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW akan tetapi kepada seluruh kitab yang diturunkan  kepada nabi lainnya.

Namun keimanan kepada Al-Quranul karim haruslah dibarengi dengan kewajiban kaum muslimin terhadap Al-Quran tersebut. Para ulama menjelaskan ada beberapa kewajiban yang mesti dilakukan kaum muslimin terhadap kitab suci. Ada yang  memaparkan adanya 4 kewajiban, dan ada pula yang mengatakan bahwa ada 5 kewajiban yang mesti dilakukan terhadap Al-Quran. Bagi sebagian ulama memasukkan kewajiban menghafal sebagai kewajiban yang tersendiri sehingga menjadi 5, namun kewajiban menghafal bagi penulis tidaklah dimasukkan kepada kewajiban yang bersifat  fardu ain, namun bersifat kewajiban kifayah.

Akan tetapi bagi yang menginginkan keutamaan tersendiri dengan menghafalkannya maka ini menjadi sebuah keutamaan. Akan tetapi kewajiban dan mempelajari baik mengenai bacaan, pemahaman, mengamalkan dan mendakwahkannya minimal kepada keluarga terdekat adalah kewajiban yang bersifat fardhu ‘ain.

Kewajiban-kewajiban tersebut mestilah dilaksanakan agar kita tidak  masuk kepada bagian orang yang di adukan rasulullah kepada Allah. Sebab Rasulullah SAW pernah mengadukan umatnya yang menjadikan Al-Quran sebagai sesuatu yang diacuhkan, sebagaimana dalam firman Allah dalam Q.S. Furqan: 30 yang artinya ”berkatalah Rasul wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan”.

Yang dimaksud dengan Al-Quran yang ditinggalkan dan diabaikan memiliki banyak penafsiran yang dapat diambil dari ayat tersebut, diantaranya adalah pengaduan Rasulullah kepada Allah ketika beliau menyampaikan dakwah dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran namun banyak mereka yang menolak beriman kepada Al-Quran, bahkan secara luas dari penafsiran ayat tersebut mengabaikan Al-Quran bisa mengabaikan kewajiban mempelajari dan membaca, memahami dan  mengamalkannya serta kewajiban mendakwahkannya.

Pertama, Kewajiban  mempelajari bacaan  Al-Quran. Pada dasarnya membaca Al-Quran memiliki keutamaan yang sangat dianjurkan. Membaca Al-Quran merupakan amalan yang yang sangat dicintai Allah sehingga menjadi amalan rutin para ulama dan orang shalih. Cukup banyak keterangan ayat maupun hadits serta perkataan ulama yang menganjurkan untuk memiliki keinginan yang kuat dalam membaca Al-Quran.

Membaca Al-Quran yang terkadang diistilahkan dengan tartil, tilawah maupun qiraah.  Kewajiban mempelajari bacaaan Al-quran berdasarkan makharijul huruf yang tepat, sehingga tidak merubah huruf-hurufnya adalah satu tuntutan agar tidak terjadi lahn (kesalahan dalam membaca kitab suci tersebut).

Di antara alasan bahwa kita dianjurkan untuk membaca Al-Quran dengan tidak mengandung lain (kesalahan) ketika membacanya adalah ketika seseorang membaca Al-Quran, bagi orang yang tidak jelas hurufnya akan mengakibatkan pergeseran makna dari lafazh yang dibacakan meskipun lafazh yang dibaca tidak berpengaruh kepada pergeseran makna, namun tetap sesuatu yang dilarang.

Kemampuan seorang muslim terutama dalam membaca Al-Quran semestinya ditingkatkan terutama bagi yang masih mempunyai kelemahan ketika membaca quran. Kemampuan tersebut pada dasarnya adalah kemampuan awal bagi seorang muslim, sebab ketika shalat seseorang diharuskan untuk membaca Al-fatihah sebagai rukun shalat maka para ulama menetapkan bahwa membaca surah tersebut disyaratkan dengan tidak menukar huruf yang ada dengan huruf yang lainnya maupun meninggalkan tasydid dan lainnya dalam ruang lingkup lahn (kesalahan).

Sebenarnya mempelajari Al-Quran bukan saja dalam aspek membaca al-Quran sebagaimana berdasarkan qaidah ilmu tajwid yang dituntut akan tetapi setelah seorang muslim mampu membaca Al-Quran dengan baik, kemudian berupaya untuk memahami isi kandungannya dengan mempelajari maksud yang terkandung dalam satu ayat baik berupa hukum, hikmah, pelajaran, petunjuk yang dapat digali dari kandungan ayat dengan bergam cara diantara adalah membaca hasil pemikiran ulama dalam bidang tafsir.

Kedua, Setelah mampu membaca kitab Al Qur’an dengan baik dan benar, maka seorang muslim diharuskan untuk memahami isi Al-Quran. . Pada dasarnya banyak alasan yang mengharuskan mengapa seorang muslim dituntut untuk memahami isi Al Qur’an ;Dalam banyak ayat Qur’an misalnya dalam Surah Annisa’: 82 dijelaskan “ mengapa mereka tidak merenungi Al-Quran” maupun dalam Q.S.Muhammad: 24″ maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Quran atau hati mereka terkunci”. Ayat – ayat tersebut merupakan dalil bahwasanya satu keharusan Al-Quran untuk dibaca dan juga difahami.

Alasan lain yang mesti dimaklumi adalah bahwasanya Al-Quran diturunkan Allah  sebagai petunjuk dalam mengarungi kehidupan, didalamnya berisi beragam ketentuan yang berisi tentang ketauhidan, ibadah, sejarah, janji dan ancaman  Allah. Oleh karena itu sudah sepantasnya memahaminya agar dapat dijadikan panduan dalam kehidupan seorang mukmin.

Sebagai orang awam  tentunya memahami Al-Quran tidak bisa hanya  dengan membaca Al-quran lalu serta merta dipahami. Banyak sekali metode yang dapat diikuti agar mampu memahami Al-Quran. Misalnya dengan belajar kepada para ulama yang memahaminya ataupun dengan membaca banyak kitab  tafsir yang dikarang oleh para ulama, misalnya tafsir Ibnu Katsir, Thabari dan lainnya.

Ketiga, Mengamalkan Al-Quran. Setelah seorang muslim mampu membaca dan memahamin isi Al Qur’an dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya.  Mengamalkan setelah memahami adalah sebuah tuntutan, sebab sangat besar larangan ketika seseorang hanya memahami tanpa mengamalkannya. 

Allah menjelaskan dalam Q.S.Al-A’raf: 3 yang artinya “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari tuhan kalian, dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya, amat sedikit sekali diantara kalian yang mengambil pelajaran”. Ayat tersebut yang mengatakan ikutilah yang berarti umat Islam harus menjadikan Al-Quran sebagai imam dalam kehidupannya. 

Nabi Muhammad.SAW adalah seorang nabi yang harus dijadikan suri tauladan yang baik (Uswah Hasanah). Ketika para sahabat  menanyakan kepada Sayyidah Aisyah tentang bagaimana dengan akhlaq Rasulullah, maka beliau menjelaskan bahwasanya akhlaq Rasulullah adalah Al-Quran. Demikian pula salah satu gelar yang disematkan kepada beliu adalah Al-Quran berjalan. Ini berarti Beliau selalu mengaplikasikan Al-Quran dalam kehidupannya. 

Keempat, Mengajarkan Al-Quran. Dalam sebuah hadits Rasulullah menjelaskan bahwa “Sebaik – baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”. Hadits tersebut adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Usman bin Affan. Serta dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam  Bukhari dari Usman bin Affan dengan redaksi yang sedikit berbeda Rasulullah bersabda yang artinya “Sesungguhnya orang yang paling utama diantara kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya’’.

Hadits tersebut menggambarkan betapa belajar dan mengajarkan al-Quran kepada orang lain adalah salah satu keutamaan yang dapat diraih berdasarkan  kemampuan yang dimiliki.

Demikianlah tuntutan dan kewajiban yang semestinya menjadi dikerjakan seorang muslim terhadap kitab al-Quran, tuntutan yang dimaksudkan adalah perintah yang harus dijalankan oleh seorang muslim dalam mengimani ktab suci Al-Quran dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan.

*Penulis adalah Dosen IAIN Takengon 

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.
  • Whatsapp

Related posts