TTS Gayo Gure, Sebuah Kepedulian Menjaga Bahasa Gayo

TAKENGON: Namanya Kamaruddin, ia berasal dari Kampung Owaq Kecamatan Linge Kabupaten Aceh Tengah, kini ia berupaya untuk menyelamatkan sekaligus melestarikan bahasa adat istiadat Gayo melalui karyanya Teka Teki Silang (TTS) Gayo Gure.

Pria kelahiran 02 Agustus 1980 itu mengaku, diluncurkanya TTS Gayo Gure itu salah satu cara mencegah ancaman dan kepunahan budaya luhur orang Gayo yang merupakan sebuah identitas dan harus dijaga dan diselamatkan dengan cara yang tepat dan sedini mungkin dari pengaruh tekhnologi serta kemajuan zaman.

“Generasi muda saat ini harus dibekali dengan pemahaman serta wawasan tentang kedaerahan, khususnya dibidang bahasa, makna adat Istiadat dan budaya Gayo, sehingga cinta terhadap Negeri dan daerahnya akan tumbuh,” kata Kamaruddin saat Launching Teka-teki Silang Gayo Gure, beberapa hari yang lalu di Gedung Offrom Setdakab setempat.

Kamaruddin mengaku, awalnya buku TTS tersebut dikerjakan hanya sebatas iseng melepas kepenatan, namun seiring waktu ia berpikir rancangan TTS yang ia buat itu dapat menyelamatkan bahasa Gayo kini terancam punah. Meski dalam perjalananya Kamaruddin terkendala dengan keterbatasan biaya.

“Dalam perjalanan pembuatan buku ini saya bertanya kepada orang-orang tua yang paham tentang bahasa adat serta berkoordinasi dengan pihak Majelis Adat Gayo Kabupaten Aceh Tengah, meski kami terbentur dengan keterbatasan biaya” jelas Kamaruddin.

Ia berharap, setelah diluncurkan karyanya itu generasi muda Gayo merasa terpanggil untuk menyelamatkan bahasa Gayo melalui ide-ide yang kreatif, begitupun Pemerintah Daerah kata dia, harus peduli dengan bahasa Gayo.

“Pemerintah Daerah harus peduli dengan bahasa Gayo, kepedulian pemerintah akan hal ini sangat dinantikan, memelihara dan menyelamatkan bahasa adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama,” tutup Kamaruddin.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tengah Karimansyah turut mengapresiasi ide kreatif Kamaruddin dalam upaya menyelamatkan bahasa gayo itu melalui teka teki silang Gayo gure.

“Kami bangga kepada saudara yang telah berkarya demi menyelamatkan bahasa gayo, kita ketahui bersama, jika bahasa gayo tidak dilestarikan, kemungkinan bahasa keseharian kita ini hanya bertahan 20 tahun lagi, ini tugas kita semua dan ini kami katakan tugas yang sangat berat,” jelas Karimansyah.

Ia berharap, Majelis Adat Gayo Kabupaten Aceh Tengah lebih “Ekstra” dalam melakukan sosialisasi tentang keadatan, bahasa daerah sekaligus memperkuat adat dan budaya daerah ditengah-tengah masyarakat.

“Selanjutnya silahkan berkoordinasi dengan Majelis Adat Gayo Aceh Tengah, dalam hal ini eksistensi MAG sangat berperan penting,” tutup Sekda Aceh Tengah itu.

Untuk diketahui, Teka Teki Silang Gayo Gure itu diluncurkan dalam 3 edisi, diantaranya edisi remaja, edisi dewasa dan edisi umum. Sementara ini penulis Kamaruddin sedang menggodok TTS Gayo Gure untuk edisi Anak-anak.

Usai launching TTS Gayo Gure itu, peserta yang hadir diberikan kesempatan (Kuis) untuk mengisi TTS tersebut dengan sempurna. Yang berhasil mengisi diberikan Piagam penghargaan dan trophy dari penulis.

Yang berhasil mengisi dengan sempurna TTS tersebut diantaranya, Juara 1 Hajar Ashwad (Dosen Gajah Putih Takengon), Juara II Genali Selewa Jadi (Kepala SD Jamat) dan Juara III Juliana Fitri yang merupakan Mahasiswa STAIN Gajah Putih Takengon. (Karmiadi)

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!