Tim Terpadu Langkah Awal Bebaskan Arena Pacuan Kuda dari Maksiat

0

 

 Pemerintah Daerah Aceh Tengah membentuk Tim Terpadu Penegakan Syariat Islam tujuannya meminalisir pelanggaran Syariat Islam di arena pacuan kuda terutama judi

TAKENGON: Meski terlihat lelah, Syahrial Afri Kepala Dinas Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah ( PP dan WH) Aceh Tengah,  terlihat penuh semangat. Pacuan kuda tahun ini dalam rangka peringatan HUT RI ke-72  ia mendapatkan tugas tambahan. Ia ditunjuk sebagai  Ketua Tim Terpadu Penegakan Syariat Islam di arena pacuan kuda Blang Bebangka.

Berbeda dengan tahun sebelumnya  pacuan kuda yang berlangsung H. M Hasan Gayo Blang Bebangka itu,  semenjak menjadi sorotan berbagai pihak karena dituding kerap menjadi ajang maksiat, seperti maisir ( judi), khamar (minuman keras), khalwat (mesum) dan pelanggaran syariat lainnya, Pemerintah Aceh Tengah nampak berbenah. Salah satunya adalah membentuk Tim Terpadu Penegakan Syariat Islam yang terdiri dari TNI, Polri, POM, Petugas PP dan WH, unsur masyarakat dan Pers.

Jika sebelumnya, upaya pelanggaran Syariat Islam hanya dilakukan dengan himbauan  lewat pengeras suara, spanduk atau selebaran di berbagai sudut lapangan, tahun ini para petugas secara rutin melakukan razia dan menindak tegas para pelaku. Demi meminalisir praktek-praktek maksiat yang dikhawatirkan akan mencoreng perhelatan akbar tradisi rakyat di Aceh Tengah yang sebenarnya dianggap merupakan ajang silahturahmi setiap lapisan masyarakat di Gayo.

“ Hasilnya, angka pelanggaran Qanun Syari’at Islam di lapangan ini bisa ditekan, setidaknya dari tahun sebelumnya”kata Syahrial Afri.

Semenjak dibentuk, hampir tiap hari tim terpadu mendapati kegiatan-kegiatan yang melanggar syariat, terutama yang paling sering adalah judi. Razia bukan hanya dilakukan pada siang hari namun juga dilakukan pada malam hari. Seperti pada hari Jumat, 25/ 8/2017, jelang tengah malam atau pukul 23.42 WIB, Tim Terpadu menggerebek lapak judi dadu di. Dari lapak itu, petugas gabungan mengamankan tiga orang bandar judi yang berasal dari Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dan Kabupaten Gayo Lues.

Ketiga bandar judi tadi diberikan sanksi berupa peringatan dan pembinaan. Mereka diminta untuk tidak lagi membuka lapak judi. Tim Gabungan sebelumnya telah mengimbau kepada masyarakat jika melihat ada indikasi yang mengarah pada pe­langgaran sya­riat Islam baik itu Maisir (judi), khamar (minuman keras), khalwat (mesum) dan berbagai hal lainnya untuk melapor ke posko tim terpadu yang berada disamping tribun selama 24 jam.

“Salah satu tujuan dibentuk tim gabungan terpadu  ini, adalah untuk mempersempit ruang gerak pelanggaran syariat di lapangan pacuan kuda. Terutama, potensi judi dan yang paling sering dipantau adalah start pacuan karena dinilai paling rawan dan berpotensi ada judi” jelas Syahrial Afri.

Kepala Dinas Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah ( PP dan WH) Aceh Tengah, Syahrial Afri . (RRI)

Sesuai SOP tim gabungan melakukan patroli untuk memantau adanya in­dikasi-indikasi pelanggaran, kalau ditemukan langsung  dibawa ke posko untuk dibina dengan membuat perjanjian. Na­mun jika yang bersangkutan kembali kedapatan berbuat hal serupa maka akan dijerat de­ngan Qanun Jinayat dan akan diamankan ke kantor polisi.

Bukan hanya judi, tim terpadu juga pada setiap razia 24 jam selama pacuan kuda selalu mengingatkan kepada masyarakat untuk  tetap mengenakan busana muslim meskipun sedang berada di lapangan pacuan kuda dan mengingatkan kepada muda-mudi yang bukan muhrim agar tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa mengarah kepada khalwat.

“Kita berharap metode razia yang dilakukan oleh tim gabungan ini terus hendaknya didukung dan dipertahankan sehingga penegakan qanun syariat Islam di Kota Dingin Takengon dapat berjalan dengan baik”harapnya.

Perhelatan pacuan kuda di Gayo dinilai adalah salah satu potensi wisata apalagi dengan tersedianya akses tranportasi udara lewat Bandara Rembele, jika digarap dengan benar maka pariwisata di daerah ini akan berkembang dan dapat mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.

Pemerintah setempat dengan didukung semua lapisan masyarakat diminta   terus berupaya untuk membebaskan event budaya ini dari maksiat sehingga Aceh sebagai negeri Syariat Islam tidak tercoreng dan dengan  dibentuknya Tim Terpadu Penegakan Syariat Islam di adalah langkah awal bebaskan arena pacuan kuda dari maksiat. (Arsadi Laksamana)

Komentar Anda
SHARE