Terkait Penghinaan Suku Gayo Oleh Pemilik Akun “Panglima Pidie”. Tagore; Kepolisian Mempunyai Alat Canggih

  • Whatsapp
Ir. H. Tagore Abubakar Ketua Dewan Adat Gayo (foto-putra gayo)

Kabargayo.com, Takengon; Dewan Adat Gayo bersikap tegas terhadap penghinaan terhadap Suku Gayo yang dilakukan oleh “Panglima Pidie”. Gayo menurut Tagore mempunyai indentitas yang sangat jelas, dengan ditemukanya kerangka manusia yang berusia 7.400 tahun lalu hingga 5.040 tahun di Mendale, Kecamatan Kebayakan.

Tagore terus mendesak aparat kepolisian Polda Aceh agar terus memburu akun bernama “Panglima Pidie” tersebut. Penghinaan terhadap satu suku sudah sangat melanggar, “Dan itu tidak perlu delik aduan, kepolisian bisa bergerak sendiri,” jelas Tagore mantan Bupati Bener Meriah.

Dengan kecanggihan alat yang dimiliki oleh aparat kepolisian saat ini, tidak mungkin akun tersebut “menghilang” begitu saja. Asal usul Gayo itu jelas dan sangat dihargai oleh banyak suku lain di Indonesia. “Jangan asal menghina, anda perlu belajar sejarah,” ucap Tagore.  

Harapan Tagore, jangan berusaha memecah persatuan dengan nada yang sangat menyakitkan oleh pemilik suku itu sendiri. “Kita semua mempunyai semangat kebangsaan jangan melemahkan dengan kalimat tak pantas. Kita terus desak Polda agar mencari dan menangkap pemilik akun itu,” terang Tagore Abubakar yang juga pernah sebagai anggota DPR-RI dari Partai PDI-P.

Suku Gayo menurut Tagore Abubakar mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap siapapun yang berdomisili di Aceh Tengah. “Suku kami menginginkan berdampingan dengan siapapun, tanpa ada niat mengusik kebersamaan,” lanjut Tagore, (12/4).

Menurut Tagore, selama ini menurutnya para “pendahulu” pembuat sejarah telah keliru membelokan apa yang benar terjadi di negeri ini. “Pembuat sejarah telah membelokan semua tentang Gayo. Gayo adalah suku asli yang berdiri resmi di wilayah Aceh. Aceh itu wilayah bukan suku,” terang Tagore yang banyak berjalan mencari dan meluruskan sejarah Gayo.

Menurut pemilik PIN tanda keturunan kesultanan Aceh ini, suku Gayo sangat menghargai perbedaan hari ini. “Di Gayo sekarang begitu banyak suku berdiam diri mencari nafkah, tidak pernah suku Gayo mengusiknya,” lanjut Tagore.

Lanjut Tagore, pengakuan Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur`alam (cucu Almarhum Laksamana Keumalahayati) saat penerimaan anugrah gelar pahlawan Nasional di Istana Negara oleh Presiden Republik Indonesia, 10 November 2017 lalu, bahwa kesultanan Aceh Darussalam didirikan oleh turunan Linge /Isaq, Gayo, Johansyah atau Merah Johan.

Disambungkanya lagi, Johansyah dan Merah Mesra sultan pertama kerajaan Aceh Darussalam dengan gelar Sultan Alaidin Johansyah 601-633 H/1203-1235 M, merupakan putra dari Pota Marhum Mahkota Alam dari Linge Gayo.

“Saya hanya mau meluruskan sejarah, dari orang-orang pembuat sejarah yang saat itu mempunyai kepentingan politik. Saat ini kaum melenial harus tahu dan diluruskan, agar semua paham dan tidak asal menghina terhadap suku Gayo,” kata Tagore dengan nada tegas.

Menurut Tagore jaringannya juga terus menelusuri siapa pemilik akun “Panglima Pidie” itu. Harapan kedepan hal semacam ini tidak terulang lagi, agar semua suku di Aceh, bisa hidup dengan damai dan tentram serta nyaman berdampingan. (putra gayo)

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.
  • Whatsapp

Related posts