Tari Guel  Makna Dibalik Gerak dalam Kearifan Budaya Gayo

Oleh: Hayati**

Tari Guel adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari budaya Gayo yang berada di dataran tinggi Gayo di Aceh Tengah. Tari Guel ditarikan pada berbagai upacara atau penyambutan tamu, salah satunya yaitu pada acara pernikahan.

 Tarian ini cenderung berbeda dengan tarian-tarian tradisional di Aceh kebanyakan, terutama dari segi geraknya, tari guel mempunyai gerakan yang sangat khas dan penuh makna. Sebenarnya gerakan Tari Guel adalah museum gerak tanpa bangunan, tempat untuk menyimpan sejarah Gayo, agar generasi muda Gayo itu sendiri dapat melestarikannya. Sampai sekarang masih banyak cerita dan sejarah Gayo yang masih menjadi kekeberen atau cerita turun menurun.

Sejarah Terjadinya Tari Guel Masyarakat Gayo

Menurut cerita rakyat di Gayo, tari Guel berawal dari mimpi seorang pemuda bernama Sengeda anak Raja Linge ke XIII. Sengeda bermimpi bertemu saudara kandungnya Bener Merie yang telah meninggal karena penghianatan. Mimpi itu menggambarkan Bener Merie memberi petunjuk kepada Sengeda tentang niat mendapatkan Gajah Putih sekaligus cara menggiring Gajah tersebut untuk dibawa dan dipersembahkan kepada Sultan Aceh Darussalam. Karena putri Sultan sangat berhasrat untuk memiliki seekor Gajah Putih.

Untuk mendapatkan gajah putih itu, Sengeda dan beberapa penduduk melakukan do’a, tirakat dan kenduri di tepi sebuah danau dekat makam Bener Meria. Setelah itu dilanjutkan acara menari dengan diiringi lagu dan musik tradisional.

Gerakan yang ada didalam tari Guel antara lain; Munatap yaitu menggambarkan eksistensi diri dan kesadaran, dimana Gajah Putih yang enggan bergeming (bersimpuh). Sehingga harus dirangsang dengan gerak diiringi irama.

Redep, yaitu gerakan bahu dan tangan bergerak lentur dan bervariasi. Jari-jemari penari sesekali terbenam dalam lipatan Opoh Ulen-Ulen (kain kerawang). Tahap ini adalah proses belajar, meniru dan berpikir. Berpikir dan gerak cepat jika mau dapat dan selamat.

Ketibung, sebuah gerakan yang ditandai dengan hentakan kedua kaki berkali-kali secara bergantian ke tanah, mengangkat, menurunkan, dan memutar-mutar kedua tangan, dikombinasikan dengan sorotan mata yang tajam. Gerak inilah tahap yang menggambarkan pengetahuan dan pemahaman, dimana manusia terhadap dengan dua pilihan: menginjak atau diinjak, membunuh atau dibunuh, tuan atau budak, menguasai atau dikuasai.

Kapur Nunguk, yakni sebuah Gerak yang mengepak-ngepakkan Opoh Ulen-Ulen, sambil berputar-putar, maju dan mundur. Gerakannya sangat agresif dan menantang. Tahap ini menggambarkan proses klarifikasi masalah, yang menuntut semua anasir atau “debu-debu” yang menodai agar disingkirkan.

Seneng lintah  atau sengker kalang:gerak yang menggelepar, memiringkan tubuh bagaikan gerak burung elang yang akan menyambar mangsa.

Cincang nangka: gerak ini adalah gerak terakhir pada aksi memasukkan diri ke dalam kemajemukan. Hal ini memiliki makna individu yang harus larut dalam kebersamaan. Yang dituntut bukan lagi keserasian gerak, melainkan penyatuan perasaan dan emosi.

**TBI Semester V Unit A STAIN Gajah Putih

Komentar Anda

SHARE