Tanggapan  Rafly Kande Terkait Respon Irwandi di Facebook

0

 

BANDA ACEH: Kedatangan Wakil PM Turki Ke Aceh mendapat respon dari berbagai pihak. Salah satunya dari Senator Aceh, Rafly Kande beberapa hari yang lalu (14/10). Ternyata komentar tersebut kemudian mendapat “pantun balasan” yang direspon kurang baik oleh Irwandi Yusuf melalui akun Facebooknya “Saya menyambut Deputy PM Turki dengan cara Turki, bukan dengan cara primitif” tutur Irwandi.

Sementara itu, Rafli Kande menyayangkan tanggapan kurang baik Gubernur Aceh itu.

“Sebenarnya kekecewaan saya terkait penyambutan Fikri Isik (Wakil PM Turki dan Mantan Menteri Pertahanan) itu ke Aceh tidaklah berlebihan. Saya hanya menyayangkan penyambutan tersebut kurang mendapat informasi dari berbagai pihak, khususnya masyarakat Aceh yang tidak mendapat informasi sebelum kedatangan orang nomor dua Turki tersebut, sehingga penyambutan nya kurang meriah,”ungkap Rafli.

Sebagaimana kita ketahui, lanjut Rafli, secara historis Aceh dan Turki memiliki romantisme hubungan masa lalu antara Turki Usmani dan Kerajaan Aceh Darussalam, maka alangkah baiknya sebelum kedatangan delegasi Turki itu mesti disampaikan secara terbuka kepada masyarakat Aceh, misalnya melalui radio-radio di Aceh. Di sinilah pentingnya peran Humas menyampaikan hal tersebut agar penyambutannya dilaksanakan lebih meriah. Ungkap anggota DPD RI asal Aceh ini.

“Selain itu, momen tersebut bisa kita manfaatkan sebagai wadah pengenalan kearifan lokal yang ada di Aceh,” ujar Rafli.

Rafli menyebutkan, apa salahnya kalau dalam momen tersebut kita adakan peusijeuk dan acara seremonial keacehan. Apalagi salah satu putra terbaik Aceh, Takdir Feriza yang pernah menjuarai MTQ di Turki bisa tampil dalam penyambutan tersebut. Karena dia pernah mengharumkan nama Aceh di Turki.”

“Coba kita perhatikan sebuah kota kecil di Serbia, Kota Novi. Beberapa hari yang lalu begitu meriah menyambut kedatangan Presiden Erdogan. Karena pemerintahnya menyampaikan secara terbuka kepada masyarakat kota Novi menyambut kedatangan orang nomor satu di Turki. Sementara kita di Aceh yang mayoritas muslim dan sudah memiliki hubungan yang kuat dengan Turki kalah meriah dibandingkan kota kecil yang penduduk negaranya minoritas muslim,”   kata Rafli.

“Karena itu, komentar saya beberapa hari yang lalu, tidak mesti direspon secara sinis oleh Gubernur Aceh. Apalagi menyebut kata “primitif”, seolah-olah adat Aceh itu primitif. Seharusnya hal itu menjadi kritikan konstruktif bagi pemerintah Aceh agar ke depan lebih “wow” dalam menyambut tamu. Sebab peumeulia jamee itu adat geutanyo. Bak elok-elok kito badosanak (Beuget-get lah tanyoe meutaloe wareh),” pungkasnya.(REL)

Komentar Anda
SHARE