Syiar Islam dan Peran Media Massa di Bulan Ramadhan

  • Whatsapp

Oleh: Junaidi Ari Delung*

Mengawali tulisan ini, senantiasa mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT., yang telah memberikan nikmat Islam, Iman dan Ihsan. Tak luput pula salawat dan salam kepada utusan-Nya nabi Muhammad Rasulullah Saw. Berkat beliau hadirlah Islam sebagai agama rahmatan Lil ‘alamin yang endingnya melahirkan kewajiban bagi umat muslim sedunia menjalankan rukun Islam, satu diantaranya ialah berpuasa pada bulan Ramadhan.

Read More

Menegaskan perintah tersebut, Allah SWT., berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,” (Q.S. Al-Baqarah: 183).

Semua umat muslim dunia menunaikan rukun Islam ketiga ini sesuai dengan ketentuan dan budaya masing-masing. Indonesia misalnya, satu dari beberapa negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, menyambut bulan suci ramadhan dengan penuh kegembiraan. Sehari sebelum puasa contohnya, tradisi masyarakat muslim Indonesia mempersiapkan makanan dengan menyembelih hewan kerbau, sapi dan ayam untuk dimasak dan dimakan bersama. Setiap provinsi, lain pula menamai tradisi dan budaya tersebut seperti di Aceh dikenal dengan ‘Meugang”

Tradisi “Meugang” telah menjadi rahasia umum menyambut puasa ramadhan di Aceh. Berbagai olahan makanan pun disajikan semenarik mungkin pada waktu ini sesuai khas, pemahaman dan kebiasaan masyarakat setempat. Diketahui, Aceh menyimpan banyak ragam suku, bahasa dan budaya seperti, Aceh, Gayo, Alas, Keluet, Jame, Singkil, Subulussalam dan lainnya. Berbeda suku, budaya dan tradisi, berbeda pula dalam menyajikan makanan khas dan memaknai hari “Meugang” ini.

Tulisan ini tidak mengulas secara rinci dan mendalam tradisi menyambut ramadhan di semua suku yang ada di Aceh, melainkan mengulas &Pentingnya Peran Media Massa Dalam Bulan Ramadhan&. Lalu apa hubungannya dengan puasa Ramadhan? tentu jelas ada, lahirnya judul ini justru berangkat dari salah satu himbauan pemerintah belakangan seperti di Kabupaten Bener Meriah, provinsi Aceh.

Bulan ramadhan merupakan satu dari beberapa bulan lainnya yang memiliki  keistimewaan. Bulan yang satu ini misalnya, terdapat banyak pintu keberkahan, rahmat dan ampunan bagi hamba Allah yang siapa saja bersungguh-sungguh dalam meraih keistimewaan tersebut. Salah satu waktu keistimewaan lainnya yang tidak ada pada bulan lain adalah malam kemuliaan “Lailatul Qadar”. Dari itu banyak manusia yang memanfaatkan bulan ini dengan memperbanyak amalan-amalan untuk bekal pribadi,  seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, mendapatkan ilmu dengan membaca dan ada pula memperolehnya dengan mendengarkan ceramah setiap selesai shalat tarawih.

Masyarakat dataran tinggi Gayo misalnya, sebelum hadirnya Radio dan TV, rakyat memanfaatkan ceramah sebagai media transformasi untuk memperoleh ilmu agama. Beruntungnya lagi, untuk menambah wawasan ilmu agama tersebut masih dapat diperoleh pada hari Jum’at, pengajian di masjid, menasah pada waktu magrib hingga isya, dan pengajian di dayah. Selain itu ceramah agama dapat pula ditemui dalam kegiatan budaya lainnya seperti pada takziah dan kenduri, memperingati hari besar Islam; Isra’ Mi’raj, maulid nabi, dan tarawih pada bulan ramadhan. Jika saja kegiatan-kegiatan ini tidak ada dimasyarakat sosial, tentu masyarakat tidak banyak memperoleh ilmu agama bahkan minim, dari itu ceramah agama sangat penting dilangsungkan untuk menunjang penambahan wawasan dan pengetahuan agama terhadap masyarakat, terlebih masyarakat yang awam.

Belakangan ini Pemerintah daerah Kabupaten Bener Meriah telah membuat kesepakatan bersama guna menghindari menyebarnya Virus Corona (Covid-19) pada bulan ramadhan. Kesepakatan itu harus diindahkan oleh masyarakat Bener Meriah, jika saja melanggar aturan-aturan itu tentu akan mendapatkan ganjaran dan sanksi. Salah satu himbauannya adalah tidak berlangsungnya ceramah agama setelah Shalat Isya, Tarawih dan Witir. Maksudnya, untuk sementara waktu Pemerintah dan pihak terkait menunda dan meniadakan terlebih dahulu ceramah agama pada tahun ini mengingat kondisi sosial yang harus dipatuhi.

Sebagai roda pemerintahan bagi rakyatnya, tentu bukan dengan sengaja menyampaikan maklumat anjuran tersebut, melainkan sebagai perintah penting untuk ditaati demi keselamatan umat. Artinya, mencegah lebih baik daripada mengobati&, tidak sedikit nyawa melayang dan mengantarkan manusia kembali keharibaan Pencipta akibat wabah Covid-19 ini. Wajar Pemerintah mengkhawatirkan rakyatnya hingga membuat himbauan seperti itu dengan berpikir panjang untuk memutus mata rantai Covid-19 agar tidak terus tertular dan menyebar.

Dengan hadirnya himbauan tersebut, tentu ramadhan tanpa ceramah terasa kurang dan berbeda. Masyarakat tidak lagi memperoleh ilmu agama secara langsung dari Tengku, kecuali hari Jum’at.  Bahkan tanpa ceramah bisa membuat masyarakat menjadi lebih awam lagi karena kurangnya mendengar &mauizatul Hasanah&. Tapi semua itu bukanlah suatu kendala yang berarti bagi masyarakat dalam memperoleh nasihat agama dari ceramah, karena masih banyak cara dan jalan pintas lain dalam memperoleh ilmu agama tersebut salah satunya dari ceramah yang disiarkan komunikasi massa.

Prof. Hafied Changara dalam bukunya “Pengantar Ilmu Komunikasi” memaknai komunikasi massa sebagai;

Proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi, surat kabar, dan film& (Hafied Cangara, 2011: 36-37).

Artinya, memperoleh suatu ilmu tidak mesti harus mendapatkannya secara langsung dengan bertatap muka dari Tengku dan ulama melainkan bisa diraih dengan peran media massa yaitu program ceramah yang telah menjadi agenda rutin dalam bulan Ramadhan. Istilah lain mendengarkan ceramah dari media massa dalam ilmu komunikasi disebut dengan komunikasi satu arah. Komunikasi ini terjadi dari jarak jauh, dimana Komunikator (sumber; pesan; suara) yang ada di radio dan televisi, surat kabar menyampaikannya kepada Komunikan (penerima; pendengar) khalayak ramai atau publik tanpa bisa berinteraksi secara langsung namun dapat didengarkan atau dibaca apa yang disampaikan Komunikator.

Sebelum perkembangan teknologi, umpan balik yang diterima pendengar sangat lambat dan terbatas. Namun sejak maju dan berkembangnya teknologi yang begitu cepat, khususnya radio dan televisi, umpan balik bisa dilakukan dengan cepat kepada penyiar melalui program interaktif (Hafied Cangara, 2011: 36-37).

Kehadiran Radio dan televisi menjadi mediasi penting mensyiarkan ajaran Islam khususnya ceramah kepada masyarakat, apalagi dalam situasi dan kondisi negara Indonesia masih diselimuti Covid-19 yang tidak tau kapan akan berakhir. Ceramah yang disampaikan oleh ustadz dan ulama yang disiarkan oleh media massa ini tidak kalah menarik dari ceramah biasanya secara langsung, apalagi diisi oleh ustadz dan ulama pilihan yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Setidaknya upaya ini bisa membantu proses penambahan ilmu agama masyarakat sembari  menanti waktu berbuka. Tidak hanya jelang berbuka saja disajikan ceramah agama atau bergenre Islam, melainkan juga jelang waktu sahur dan menunggu waktu imsak. Dari itu, tidak ada alasan lagi untuk tidak memperoleh ilmu agama khususnya ceramah dalam kehidupan sosial sehari-hari di zaman teknologi canggih ini.

Tradisi di Gayo khususnya, sebagian besar masyarakat pasti merindukan suasana Ramadhan seperti tahun lalu dan tahun sebelumnya. Selesai shalat Isya, Tarawih dan Witir, penceramah bangun menyampaikan nasihat yang baik &Mauizatul Hasanah& kepada masyarakat, sembari mendengarkan ceramah tersebut disuguhkan kopi dan teh oleh bebujang (anak muda lajang) kepada orang tua, ibu-ibu (yang mau) dan anak-anak yang ada di dalam menasah dan masjid. Selesai ceramah bercerita sejenak, pulang, dan kemudian dilanjutkan tadarus oleh bebujang hingga sampai waktu sahur tiba.

Beda cara dalam memperoleh ilmu bagi masyarakat awam, beda pula bagi mereka para cendikiawan dan mahasiswa. Memanfaatkan segala sisi situasi dan kondisi yang kritis sekalipun akan diambil hikmah dan ibrah apalagi didalamnya terdapat ilmu bermanfaat. Pada suasana dan kondisi keritis (Covid-19) ini misalnya, memperoleh ilmu bisa dimanfaatkan dari buku-buku, Jurnal, YouTube, Internet, koran dan lainnya. Kehadiran teknologi begitu canggih ini menyuguhkan manfaat banyak bagi kalangan cendikiawan, mahasiswa khususnya, apalagi untuk mendapatkan buku-buku yang telah dijadikan dalam bentuk pdf bisa ditemui dari berbagai kampus di Indonesia di internet.

Semoga tulisan ini bermanfaat dengan kesimpulan, bahwa harapannya dalam memperoleh ilmu hendaknya diperoleh secara langsung dari guru, Tengku dan ulama. Namun karena kondisi dan keadaan yang tidak memungkinkan, dengan mengharap Ridha Allah SWT., semoga dengan jalan seperti diatas tadi juga tidak mengurangi esensi dari segi keberkahannya dengan memperolehnya secara langsung dari sang guru, tengku dan ulama.

Dengan menyadari bahwa  dunia  memang mengalami perubahan waktu dan masa, sehingga berubah pula pola pemikiran manusia dalam mengembangkan ilmu khususnya dibidang teknologi. Wallahu A’lam bissawaf.

*Junaidi Ari Delung, merupakan mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.

Related posts