Sumber Kebencian Ditilik dari Sisi Pragmatik dan Psikologi Sosial

Oleh : Dr. Joni MN, M.Pd.B.I.*

Kebencian dapat dideskripsikan sebagai lawan daripada  cinta  atau  persahabatan; tetapi banyak orang yang menganggap bahwa lawan daripada cinta adalah ketidakpedulian ini persepsi yang keliru. Kalau ketidak perdulian lawanya adalah acuh. Namun, ketidakpedulian tersebut masuk ke dalam ruang kebencian.

Kebencian merupakan emosi yang sangat kuat dan melambangkan ketidaksukaan, permusuhan, atau  antipati kepada seseorang, dan hal semacam ini bersumber dari kobaran api amarah. Hal ini juga dapat berdampak pada keinginan untuk, menghindari, menghancurkan atau menghilangkan bahkan merusak kebaikan seseorang, atau barang juga menciptakan fenomena yang baik.

Menciptakan hoaks, bertindak ekstrim terhadap sesama, menggosip yakni membicarakan kejelekan orang, meremehkan orang, menjatuhkan nama baik seseorang, dan mendiskriminasikan orang lain, ini adalah gambaran bentuk-bentuk dari sumber kebencian yang kita prodak atas dasar kobaran api amarah yang ada dalam nafsu almarah. Yang harus dicari solusinya ialah bagaimana api amarah itu tercipta dalam diri seseorang?.

Kebencian

Kebenciannyang diciptakan dalam berbagai bentuk dapat memicu pertikaian dan konflik dengan sesama ataupun dengan orang luar. Tidak jarang ini juga dengan sesama saudara, hal ini dapat dilihat ketila Pilkada, Pilpres pada waktu yang lalu, dampak ini masih terbawa sampai sekarang, sesama saudara saling membenci. Akhir-akhir ini, kebencian semacam inilah yang menjadi sumber konflik.

Konflik, yakni Menurut Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.

Dan kebencian yang bermuara kepada konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi (Folger & Poole: 1984).

Jadi sumber dari komplik adalah disampaikan melalui media komunikasi yang isinya tentang kebencian terhadap seseorang atau suatu fenomena.

Menurut ajaran Islam bahwa jika ada sikap yang mendorong kebencian, baik itu kepada negara, perorangan, pemerintah atau golongan lain, maka itu sesungguhnya bukan sifat Islam,”. Arahan ini dapat diketahui pada isi ayat Al-Qur’an, surah Al Maa-idah, ayat: 8, sebagai berikut:

“… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” .

Kebencian kajian Pragmatik dan Psikologi Sosial

Benci Perspektif Pragmatik

Berdasarkan konsep Pragmatik yang bersumber dari asal kata ” Pragmime” Dimaknai dengan tindakkan manusia. Dapat disimpulkan bahwa tindakkan kebencian ini sudah melanggar maksim sopanb dan santun serta sudah melecehkan norma-norma kemanusiaan.

Jika kebencian hadir di tengah-tengah masyarakat, maka maksim: (1) sopan, santun, (2) kerja sama, dan kewajaran sudah dilanggar, akhirnya akan dapat mencoreng muka dan mejatuhkan martabat seseorang.

Benci Perspektif Psikologi Sosial

Ditilik berdasarkan kajian ini, jika sempat terbangun rasa kebencian di dalam diri individu dan kelompok masyarakatnya, maka mereka sudah merusak hubungan kemanusiaannya dan sudah melanggar kode etik sosial kemasyarakatannya.

Menurut Joseph E. Mc. Grath (1965) menyatakan bahwa : “Psikologi sosial adalah ilmu yang menyelidiki tingkah laku manusia sebagaimana dipengaruhi oleh kehadiran, keyakinan, tindakan, dan lambang-lambang dari orang lain.”


Berdasarkan paparan dan pendapat dari para pakar serta ayat suci (dalam konsep Islam) dapat diambil intinya bahwa, orang yang senang mengumbar kebencian adalah orang sedang membangun komplik yang kemudian muaranya kepada perpecahan dan dendam.

Sumber-sumber komplik ialah dari kebencian yang berasal dari nafsu almarah dalam diri seseorang. Hal imi semua terkonsep di dalam diri seseorang karena nafsu mutma’inahnya sudah terkalahkan, atau dalam istilah kasarnya, kebaikan di dalam diri seseorang itu sudah terinjak-injak oleh kejelekan/ keburulan.

Orang-orang yang sering menabur kebencian adalah bentul orang benci terjadap kebaikan, tidak senang adanya kerja sama, benci sopan dan santun bahkan membenci kewajaran. Padahal sipat dasar manusia adalah “baik”. Tidak ada satu manusia pun yang ingin diperlakukan tidak baik, pasti semua manusia menginginkam kebaikan.

Jadi, orang yang benci kebaikan adalah orang yang hati dan perasaannya didominasi dengan kebencian. Bentuk orang semacam ini merupakan kategori orang yang perilaku dan tindakkannya jauh dari nilai ” Takwa”. Sipat ini adalah sipat yang merusak, memecah belah, tidak beradab, dan orang sangat senang melihat kehancuran orang lain.

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sumber yang menimbulkan kebencian adalah orang yang membenci kedamaian, kenyamanan dan keharmunisan hidup bersama. Selanjutnya, sumber kebencian di dalam diri seseorang akibat terinjak-injaknya nafsu mutma’inah dalam diri pribadi seseorang, dan pikiran dan hasratnya selalu dipengaruhi oleh nafsu amarah akibat meningkatnya keinginan (nafsu lawamah).

Konflik-konflik dan perpecahan dalam hidup bersama bersumber atas kebencian seseorang yang tidak terpenuhinya keinginannya dan orang tersebut dipicu oleh nafsu lawamah (yang menginginkan jabatan, harta, tahta/ jabatan, atau perempuan, dsb).

Kembali kepada rasa (perasaan) diri, hindarilah mengumbar kebencian, karena kita sendiri akan merasa tidak suka jika dibenci oleh orang lain. Artinya, dapat di analogikan bahwa: jika orang mengatakan kita “A” sudah tentu orang juga akan sakit perasaannya jika kita mengatakan “A” kepada orang tersebut.

Yang bagus itu membangun sinergisitas dengan modal kebaikan, sopan, santun, tulus, saling menghargai satu sama lain, hindari penyakit sosial atau anti pati kepada pihak/ orang lain. Karena perilaku ini dapat menggapai apa yang sudah menjadi target dan goal kita bersama, yang end (tujuan) keharmonisan, kedamaian, dan kenyaman hidup bersama.

*Penulis: Dosen ALWASHLIYAH Takengon dan Ka. Penelitian, Penelitian di MAG (Majelis Adat) Takengon – Aceh Tengah.

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!