Sulitnya Menempuh Semelit dan Semangkuk Daging Rusa

  • Whatsapp
Akses menuju kampung Semelit kecamatan Ketol masih memperihatinkan.

Kabargayo.com, Takengon: Menuju dusun Semelit, Kampung Kekuyang, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengahm jangan nekat kesana kalau kita tidak mempersiapkan diri dengan matang, terutama alat transportasi. Jalan yang meliuk di atas dan balik gunung hijau berbau tanah dan dedaunan, menemani 18 kilometer perjalanan menuju, dusun Semelit yang mempunyai sungai cabang tiga.

Read More

Entah karena seringnya mendengarkan nama Dusun Semelit, Bupati Aceh Tengah bergegas merapatkan SKPK untuk melihat langsung daerah yang kono sering disebut sebagai “rumah” binatang bernama rusa. Dengan mengunakan pakaian kebesaran (berwarna Kuning) Shabela melangkah ke dalam mobil diapit oleh ajudan.

Sebelum berangkat Shabela berujar, “Daerah ini sangat potensial untuk berbagai bidang, hanya saja sarana jalan menuju kesana sangat tidak layak. Kita mau pastikan dengan melihat langsung dan bertemu dengan masyarakat,” kata Shabela.

Sebelumnya tidak ada yang mengira kalau medan yang dilalui begitu berat. Beberapa mobil berplat merah terpaksa parkir ditengah jalan, karena tidak bisa menempuh medan yang terjal dan sewajarnya dilalui oleh para petualang dengan mengunakan mobil Double Cabin.

“Mobil saya terpaksa diparkirkan dipingir jalan,” kata Sarwa Jailani, awal nekat menembus lapisan pegunungan dengan mobil Inova. Dalam perjalanan beberapa mobil dengan mulus melalui batu terjal dan beberapa jembatan yang seadanya terpasang.

Dalam perjalanan beberapa warga yang ingin bertatap muka langsung dengan bupati langsung, menumpang di mobil yang melintas. Dengan jarak 18 kilometer dari Kampung Kekuyang, karena sarana jalan banyak rintangan, perjalanan ditempuh selama dua jam, dalam hutan berkelok lebat, Kecamatan Ketol.

Beberapa mobil sering kali harus mendapat bantuan warga setempat untuk bisa melalui lumpur dan bebatuan. Mobil double cabin awalnya mulus, tengah perjalanan mulai terlihat “bonyok” karena terkena hantaman batu dan lumpur.

Memasuki hutan lebat, warga Dusun Semelit sangat gigih dan kreatif. Hidup sebagai petani mereka mulai membuka lahan dengn menanam cabai, tembakau, tomat serta beberapa palawija lainya.

Selama ini menurut warga yang sangat menjadi kendala adalah sarana transportasi jalan. Pada musim tertentu, masyarakat sangat kewalahan mengeluarkan hasil panen. “Tidak banyak yang bisa kami lakukan, karena sarana jalan yang payah untuk menembus ke kota,” kata Ajir warga Semelit.

Alam Dusun Semelit sebelumnya lima tahun lalu, menurut warga pernah dibangun irigasi dan hal lain yang mengunakan dana APBK. Namun sayangnya menurut salah seorang tertua di dusun itu, semua terbuang percuma tidak ada yang bisa dimanfaatkan oleh warga.

“Hampir belasan miliar dana ABPK sia-sia tidak bisa bangunan dimanfaatkan warga. Seperti Cetak sawah baru, hari ini tinggal petakan sawah yang mulai berumput tinggi,” kata warga.

Atas dasar itu, Shabela ingin melihat langsung rakyatnya yang penuh dengan cerita dan harapan, di tanah itu konon menurut cerita, pernah berdiri satu kerajaan kecil bernama kerajaan Semelit. Dan Bebesen awalnya berasal dari Dusun Semelit. Karena diburu oleh Batak 27 akhirnya “bebesen” mandah ke Kota yang sekarang disebut Kampung Bebesen.

“Awal cerita begitu. Semelit adalah asal-usul Bebesen. Karena diburu oleh batak 27 akhirnya Bebesen mandah ke kota. Yang hari ini kita sebut Kampung Bebesen,” kata Shabela dihadapan warga Semelit.

Sampai dilokasi rombongan “petualang” dusun Semelit yang berjumlah 50 orang langsung Sholat berjamaah, dipinggir sungai cabang tiga. Disebut sungai cabang tiga, karena aliran sungai terbagi tiga arah.

Dibawah tenda bercampur warna, sudah terbentang tikar dengan tiga menu (ikan) yang siap disantap rombongan. Rasa lapar sebenarnya sudah dari tengah perjalanan. Namun Snac kacang Atom (pembelian Uswatuddin) membuat rasa lapar “tertunda”. Duduk bersila, disamping bupati ada Asisten I, Mursid, Kasdim Mayor Inf Samsir serta anggota DPRK Partai PKS, Susilawati serta petua dusun Semelit.

Nasi dan sayur dibagikan secara adat Gayo, santun dengan mengunakan talam. Menghidangkan makanan untuk “raja” sudah tentu tidak bisa secara warung. Namun dengan adab dan sopan santun.

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar bersama rombongan dijamu dengan menu daging Rusa di Semelit , kecamatan Ketol

Didepan Shabela Abubakar terlihat ikan Pangang (ikan sungai), karena aroma bakar sudah tentu membuat rasa lapar kian menusuk perut yang keroncongan. Selain ikan sungai, daging Rusa, sejak perjalanan sudah terbayang, karena daerah Semelit selama ini juga dikenal sebagai “ternak” rusa.

“Emmm ini dia yang kita cari (daging rusa-red), selain akan mendengarkan keluhan masyarakat Semelit,” kata Amir Hamzah kepala Bappeda Aceh Tengah. Rezeki tak akan kemana, perjalanan jauh, melewati sungai, bebatuan, belahan gunung dan terjalnya batu terbalas. Hidangan penutup juga sangat penting, durian dusun Semelit. “emmm begitu sempurna hidangan ini,” kata Zikriadi yang begitu lahap menyantap beberapa durian.

Begitu juga bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar selain menu daging Rusa, orang nomor satu didaerah dingin itu dengan lahap menyantap ikan “raja” gegaring. “Ini saya juga tidak bisa mengabiskan semua,” ucap Shabela sambi menyerahkan piring.

Usai menyantap masakan ibu-ibu PKK dusun Semelit, waktu sudah menunjukan pukul 17.00. Acara inti dibuka, Shabela menginginkan nanti dalam musrenbang kecamatan beberapa aitem yang penting akan kita “sahuti” dan pertimbangkan. Untuk sarana jalan, pemerintah kabupaten akan mengupayakan TMMD, seperti beberapa lokasi yang telah berhasil.

Untuk permasalahan lahan hutan lindung, Shabela mengatakan kalau dipakai untuk kepentingan masyarakat bisa kita pinjam pakai, nanti akan kita coba tempuh tingkat yang lebih tinggi di Jakarta.

Bupati Shabela didampangi unsur Forkompinda saat berinteraksi dengan warga Semelit Kecamatan Ketol

“Untuk lahan hutan lindung, saya rasa tidak ada masalah nanti bisa kita pinjam pakai ke pemerintah pusat,” kata bupati dihadapan masyarakat Semelit sambil menyarankan tanaman tembakau cukup bagus di daerah dusun Semelit.

Harapan warga Semelit tidak setengah-setengah, ingin merdeka seperti desa lainya yang ada di Indonesia. Apalagi Semelit mempunyai historis tersendiri seperti adanya kerajaan kecil pada masanya saat itu.

Bupati Shabela tidak berjanji, akan menjadi “Supermen” untuk pertumbuhan ekonomi warga Semelit, namun akan mendengarkan keluh kesah warga disana. Menempuh perjalanan selama hampir tiga jam menelusuri lapisan pengunungan untuk bertemu warga Semelit, Shabela puas.

“Saya puas mendengarkan keluhan mereka, semoga nanti ada yang bisa kita perbuat untuk mereka. Kehidupan mereka harus semerdeka warga di tempat lain,” ucap Shabela dalam perjalana pulang.

Pulang Berjibaku Lumpur

Dari perjalanan pergi rombongan sudah membayangkan, kalau perjalanan pulang medannya lebih berat, karena mendaki jalan berliku hingga ke perkampungan Kekuyang, lain itu karakter tanah sudah becek dilalui puluhan mobil.

Berjibaku dengan lumpur saat melewati ruas jalan menuju Semelit

Benar saja, beberapa mobil double cabin yang konon dibuat untuk melewati medan berat, terpaksa dibantu warga, agar bisa keluar dari lumpur. Begitu juga mobil Bupati Shabela yang disupiri Rajak. Karena beratnya Medan Semelit, beberapa kali mobil tergelincir kekiri dan ke kanan.

Untung sinar bulan malam itu menerangi hutan dusun Semelit. Pukul 21.00 masih ditengah hutan dengan aktivitas mendorong dan memasang alat bantu untuk mengeluarkan mobil dari lumpur.

Akhirnya, kekompakan tim “petualang” dusun Semelit berhasil keluar sekira pukul 21.40 menit. Perjalanan panjang menuju Dusun Semelit, penuh dengan cerita dan harapan warga semoga semua impian mereka segera tercapai.

Pojok Dusun Semelit berbatas Kabupaten Pidie (Tangse-red), mudah-mudahan kedepan tetap menjadi perhatian pemerintah, siapapun pemimpinya. Karena sejarah Gayo sebagian berasal dari Dusun Semelit. Perjalanan singkat ini juga didokumentasikan oleh “pasukan” Humas di bawah pimpinan “Bro” Salman yang beberapa kali harus naik turun mobil berjibaku dengan lumpur.   (Putra Gayo)

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.

Related posts