Suka Duka Petani Banyuwangi Meraup Untung dari Budidaya Buah Naga

BANYUWANGI:Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia telah mengenal buah naga. Umumnya buah ini dijadikan minuman jus. Kandungan antioksidan dan kadar vitamin C yang dikandung membuat buah ini dipandang sebagai buah sehat dan berkhasiat.

Di balik tersebarnya buah naga di penjuru negeri, ada petani Banyuwangi yang menjadikan buah ini menjadi begitu populer. Salah satunya adalah Mukri, 66 tahun, dan juga anaknya, Santoso, usia 30 tahunan. Mereka tinggal di bagian selatan Banyuwangi, tepatnya di Desa Ngadimulyo, Kecamatan Purwoharjo.

Mukri berkisah dulunya ia adalah petani sawah. Selain itu ia juga memiliki ladang jeruk manis. Total lahannya tidak besar, sekitar satu hektar. Semula ia menggantungkan diri pada sawahnya. Namun tiga tahun lalu, ia memutuskan beralih menjadi petani buah naga. Alasannya, penghasilan dari bersawah semakin tidak memadai. Maka, beralihlah ia menjadi petani buah naga yang sedang populer.

Mukri menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun ini, hampir semua petani di Banyuwangi bagian selatan menanam buah naga. Bahkan masyarakat biasapun juga banyak yang menanam buah ini. Menurut Mukri, buah naga mudah ditanam dan tidak rewel dalam perawatan. Ditopang oleh kondisi tanah yang dominan lempung dan cuaca panas di Banyuwangi menjadikan buah naga tumbuh subur di kabupaten ini, khususnya Banyuwangi bagian selatan. Memang terlihat bahwa sepanjang jalan, deretan kebun buah naga banyak ditemui. Bahkan terlihat di pekaranganpun buah ini ditanami masyarakat.

Saat buah naga sedang booming dan harganya baik, Mukri mengatakan dalam satu kali panen ia bisa mendapatkan keuntungan sampai dengan Rp 20 juta. Musim panen sendiri biasa terjadi saat musim penghujan, antara September sampai Maret. Namun belakangan harganya menurun drastis, yakni hanya 50 persen dari yang biasa didapatkan. Mukri mensinyalir bahwa gelombang tanam yang begitu besar membuat buah naga begitu berlimpah saat musim panen. Akibatnya harga turun drastis karena suplai yang begitu banyak.

Mukri juga bercerita bahwa dari akhir tahun 2017, buah naga yang ditanam masyarakat banyak yang mengalami serangan penyakit sejenis cacar buah. Akibatnya daun membusuk dan buah tidak bisa besar maksimal. Untuk mengatasi penyakit buah yang sedang mewabah ini, Mukri melakukan penyemprotan dengan bahan tertentu, seperti yang banyak dilakukan petani lainnya. “Mudah-mudahan penyakit ini cepat berlalu,’ gumam lelaki berdarah Jawa Tengah ini sambil memandangi kebun naganya yang tidak seberapa luas. Mukri nampak diam sesaat.

Namun saat ditanya apakah ia masih bersemangat bertani buah naga, kesunyian berganti. “Saya sudah terlanjur senang buah naga. Dan saya yakin, harga buah ini bisa membaik lagi,” tuturnya bergairah sambil menyungging senyum.

Kini, tidak hanya Mukri yang bertani buah naga. Tiga anaknyapun, termasuk Santoso, telah menggantungkan hidup dari buah ini. Bagi mereka, buah naga adalah pemberi harapan.(INT)

SHARE