STRATEGI PEMERINTAH MEMPERTAHANKAN UMKM

  • Whatsapp
Penulis, Ghulam Ali, Staf Kasubbag Umum KPPN Takengon

Awal maret 2020 Arab Saudi menunda penyelenggaraan ibadah umroh, Jepang meliburkan seluruh siswa maupun mahasiswa, para karyawan diminta untuk melakukan pekerjaan dari rumah, berbagai event olahraga maupun konser musik juga dibatalkan, nilai tukar rupiah melemah dibandingakn dolar, harga batu bara serta minyak dunia juga ikut melemah. Pandemi covid-19 tanpa diduga datang menyerbu seluruh belahan bumi tak terkecuali Indonesia yang sedang berjuang menaiki tangga perekonomian dunia.

Meski virus ini tak kasat mata namun ia mampu membalikkan keadaan yang sebelumnya biasa saja kini menjadi kahar. Bukan hanya sektor Kesehatan yang dibombardir virus mematikan ini namun juga sektor pendidikan, lingkungan, social, politik sampai ekonomi sekali pun.

Sektor ekonomi merupakan sektor yang paling terdampak oleh pandemi ini mulai dari penurunan GDP berbagai negara, fluktuasi nilai tukar valuta asing yang naik turun dan gak stabil, industri perdagangan terhambat, ekspor-impor terganggu, pembangunan ekonomi juga melambat, produktivitas kerja menurun, angka pengangguran meningkat, hingga daya beli masyarkat yang menurun. 

Menghadapi situasi yang serba sulit ini bukanlah perkara yang mudah banyak perusahaan harus mengurangi jumlah pegawainya akibat dari menurunnya produksi barang yang dilakukan, tak sedikit juga yang sampai harus gulung tikar karena tak mampu menanggung biaya produksi yang melebihi pendapatan.

Seperti yang kita ketahui umkm menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, namun disaat seperti ini justru umkm lah yang terkena serangan paling parah, perusahaan besar saja harus tertatih-tatih menghadapi kondisi seperti ini, apalagi umkm yang modal maupun kemampuannnya terbatas. 

Keadaan ekonomi yang semakin tak karuan menyebabkan banyak orang yang lebih memprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pokok terlebih dahulu. Bagi Sebagian orang jangankan hendak membeli kain batik, hiasan rumah, sepatu kulit ataupun tas hasil kerajinan tangan, beras untuk dimakan si kecil esok hari saja ia belum tentu ada. Ditambah cicilan motor yang harus segera dilunasi karena sudah jatuh tempo.

Namun para penggiat umkm pun butuh pemasukan untuk menghidupi keluarganya yang apabila omset penjualan kian hari kian menurun darimana ia bisa mencukupi semua itu.

Menurut data kementrian koperasi dan UKM setidaknya terdapat 37.000 pelaku UMKM Indonesia telah terdampak usahanya akibat pandemi covid-19.  dari jumlah tersebut, sebanyak 69 persen UMKM diperkirakan mengalami penurunan omset penjualan, 9 persen mengalami kesulitan distribusi barang produksi, 13 persen mengalami kesulitan dalam akses terhadap modal usaha, dan sekitar 4 persen UMKM mengalami penurunan produksi secara drastis hingga tidak melanjutkan produksi untuk sementara.

Walaupun ujian demi ujian datang silih berganti namun putus asa bukanlah tempat untuk berlabuh, pemerintah Indonesia melihat pandemi covid bukanlah sebagai sebuah situasi yang tidak bisa dihadapi, melalui program pemulihan ekonomi nasional pemerintah terus berupaya menjaga agar pertumbuhan dan dampak kesejahteraan tidak menuju scenario sangat berat.  Program pemulihan ekonomi nasional adalah rangkaian kegiatan untuk pemulihan perekonomin nasional yang merupakan bagian dari kebijakan keuangan negara.

Bagaikan angin segar ditengah situasi yang serba susah terutama bagi pelaku usaha karena program ini bertujuan melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku usaha dalam menjalankan usahanya selama pandemic covid-19. Untuk UMKM sendiri, program pemulihan ekonomi nasional diharapkan dapat memperpanjang napas UMKM dan meningkatkan kinerja UMKM yang berkontribusi pada perekonomian Indonesia.

Dukungan kepada UMKM yang tengah berjuang mempertahankan usahanya  diberikan dalam bentuk subsidi bunga dengan total 34,15 triliun rupiah, insentif pajak dengan total 28,06 triliun rupiah serta penjaminan untuk kredit modal kerja baru UMKM dengan total 6 triliun rupiah. Dengan dijalankannya serangakaian program pemulihan ekonomi nasional tersebut UMKM diharapkan dapat kembali mempertahankan usahanya, sekaligus untuk Kembali meningkatkan kinerjanya untuk dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi domestik. 

Bertumbuh bukanlah suatu hal yang mudah, bertahan saja sudah merupakan suatu pencapaian yang berarti ditengah situasi yang serba tak menentu ini. Namun, bukankah bangsa kita dari dulu sudah terbiasa menghadapi situasi yang sulit dan selalu saja berhasil keluar dari situasi sulit tersebut. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tangguh, bangsa yang melihat suatu masalah bukan sebagai beban yang menyiksa Pundak namun sebagai sebuah tantangan yang apabila berhasil melewatinya maka akan naik ke level yang lebih baik dari sebelumnya, dan tentu saja tak ada yang meragukan Indonesia dalam melakukan hal tersebut. Charles Darwin dengan teori evolusinya pernah berkata bukan yang paling kuat yang akan menang tetapi yang paling adaptif lah yang akan selalu bertahan. Kini saatnya para pelaku usaha UMKM di indonesia menunjukkan taringnya Kembali seperti yang sudah dilakukan pada krisis krisis sebelumnya. Bertahan, bertahan, bertahan dan perlahan demi perlahan kembali bangkit menyokong perekonomian Indonesia mencapai masyarakat adil dan makmur.*

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.
  • Whatsapp

Related posts