Soal Taushiyiah MPU Aceh, Ini Kata Sarkawi

  • Whatsapp

Kabargayo.com, Redelong :Menanggapi Taushiyiah MPU Aceh Nomor 4 Tahun 2020, yang salah satu putusannya memperbolehkan mengganti shalat Jum’at dengan shalat Dzuhur, Bupati Bener Meriah, Abuya Tgk. H. Sarkawi menyebutkan hal tersebut memang diperbolehkan dan memang ada dalilnya.

“Itu boleh, ketika kondisi tidak memungkinkan melakukan shalat Jum’at,” jelas Sarkawi kepada Wartawan, Selasa 31 Maret 2020.

Read More

Sementara untuk kawasan Bener Meriah, Sarkawi pihaknya masih memonitor hingga malam Jum’at ini.

“Kalau kondisinya seperti saat ini, maka shalat Jum’at akan tetap dilakukan, karena daerah belum menetapkan situasi yang genting, tentunya dengan beberapa bimbingan,” Terang Bupati yang akrab disapa Abuya.

“Namun, jika kondisinya berubah, kita akan meminta pertimbangan MPU untuk menggantikan shalat Jum’at dengan Dzuhur,” sebutnya.

Dalam putusannya, MPU menetapkan tujuh putusan, salah satu di antaranya adalah, memperbolehkan umat untuk tidak shalat Jumat di masjid dan menggantinya dengan shalat Dzuhur di rumah.

Taushiyiah tersebut diterbitkan oleh MPU Aceh, setelah menggelar Rapat Pimpinan Khusus MPU Aceh, sejak Senin, sebagaimana disampaikan Kepala Sekretariat MPU Aceh, Murni, di ruang kerjanya, Selasa (31/3/2020).

Berikut ini adalah tujuh poin putusan hasil Rapat Pimpinan Khusus MPU Aceh, yang ditetapkan tanggal 31 Maret 2020:

Pertama, Setiap muslim wajib berikhtiar menjaga dan menjauhkan dirinya dari wabah penyakit menular dengan senantiasa beribadah, berdzikir dan berdo’a serta memperhatikan petunjuk medis.

Kedua, Dalam hal dan keadaan wabah penyakit (Covid-19) dengan potensi menular yang semakin merebak dan meluas secara pasti (Muhaqqaq)  dan berdasarkan petunjuk medis serta ketetapan pemerintah, seorang muslim boleh tidak melakukan shalat berjama’ah di masjid-masjid, meunasah atau mushalla dan tidak melaksanakan Shalat Jum’at berjama’ah tetapi menggantinya dengan Shalat Dzuhur di kediaman masing-masing.

Ketiga, Setiap pengurus Masjid, Meunasah dan Mushalla tetap mengumandangkan Azan pada setiap waktu shalat fardhu dengan lafadz yang ma’ruf.

Keempat, Masjid yang melaksanakan shalat berjama’ah dan shalat Jum’at berdasarkan pertimbangan kemaslahatan di tempat itu, wajib memperhatikan prosedur medis dan protokol kesehatan seperti jarak antar jama’ah  (physical distancing) dan lain-lain.

Kelima, Masyarakat diminta tidak mengadakan dan melakukan acara-acara keramaian berupa tasyakkuran, kenduri, tahlil dan samadiah, zikir/rateb bersama, dan lain-lain sampai dengan dicabutnya kondisi darurat.

Keenam, Mengingat situasi wabah penyakit yang terus merebak, maka masyarakat diimbau tidak melakukan perjalanan keluar daerah, dan yang berada di perantauan tidak kembali ke Aceh, kecuali karena sangat mendesak dan bersedia di karantina oleh pemerintah.

Ketujuh, Masyarakat diminta untuk mematuhi instruksi dan protokol yang ditetapkan oleh pemerintah dalam menghadapi wabah penyakit (epidemik) Covid-19, termasuk tidak keluar rumah pada waktu pemberlakuan jam malam dan tetap menjaga jarak aman di tempat keramaian (social distancing). (Ars)

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.

Related posts