Selamat Jalan Ramadhan

Oleh Dr. Zulkarnain. M.Ag


Ulama terkemuka Ibnul Qayim Jauzi, konon pernah mengutarakan bahwa bulan Ramadhan itu hadir laksana sebuah kenderaan besar, ia siap mengangkut penumpang yang berkenan menaikinya, dan terus berjalan selama satu bulan lamanya, ia berjalan menuju terminal Ar-Rahman.

Read More

Kenderaan Ramadhan dilengkapi dengan pasilitas instalasi perbaiki diri manuisa secara lahir dan batin. Penumpang ‘kenderaan’ Ramadhan yang tiba di terminal Ar-Rahman itulah orang-orang yang menjadi bersih nan suci (‘ied fitri).

Menyambut ‘ied fitri, 1 syawal, umat muslim menggemakan tabir, tahlil, tahmid; mengumandangkan asma Allah yang maha besar lagi agung. Penggemaan ini merupakan indikasi ketulusikhlasan hati yang telah bersih suci,sebagai capaian kualitas diri yang telah diperoleh selama bulan Ramadhan.


Lantunan takbir pada malam 1 syawal itulah tanda kita melakukan pisah-sambut antara bulan Ramadhan dan bulan Syawal. Kemenagan diri yang telah diperoleh dari Pendidikan bulan Ramadhan dirayakan pada 1 Syawal melaksanakan shalat sunat disebut dengan shalat sunat ‘ied fitri. Syari’at pelaksaan shalat ‘ied Fitri itu adalah dilapangan terbuka. Dan tata laksana shalat ‘ied Fithri pun berbeda dengan shalat sunat lainnya.


Pada saat melantunkan takbir, tahlil dan tahmid, sejumlah orang mengalami gejolak psikologis penuh haru, sedih dan bahkan berurai air mata, karena telah menikmati bulan Ramadhan, hatinya terasa berat turun dari kenderaan Ramadhan. Kecemasan teramat mendalam, setelah ramadhan berlalu disiplin diri akan pudar dan bahkan lepas kendali.


Perkuat silaturrahmi, berjabat tangan sebagai symbol saling memaafkan dan saling mendo’akan untuk kebaikan, dan bahkan berziarah ke makam orang tua-keluarga yang telah lebih dahulu meninggal dunia merupakan tradisi yang dilakoni saat iedul fitri.

Kepuasan batin terpenuhi ketika silaturrahmi dilakukan bukan hanya dengan sesama saudara yang masih hidup, tetapi juga dengan sanak saudara yang telah meninggal dunia dengan menziarahi makamnya, inilah yang menjadi alas dasar budaya mudik.


Namun demikian, tidak sedikit orang yang bereforia kemenangan-berlebaran adalah titik pemicu awal terdeletnya program Ramadhan yang telah terinstal dalam diri. Indikasi yang nampaknyata seperti fenomena masjid dan menasah muali sepi dari jama’ah, tempat wisata bahkan jauh lebih ramai dikunjungi, semoga saja yang merayakan kemengannya di tempat-tempat wisata tetap berupaya mengontrol diri, dan tidak melakukan pelanggaran syari’at Islam. *

Related posts