Sejarah! Putra dari Desa Tertua di Bener Meriah Duduki Dewan

Oleh : Junaidi A Delung*

Pesta Demokrasi pemilihan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden serta wakil rakyat, Legislatif (Dewan) untuk tingkat daerah telah selesai dilaksanakan. Bahkan, dari hasil rekapitulasi oleh pihak penyelenggara Komisi Independen Pemilihan (KIP) dan pihak terkait lainnya memberikan gambaran siapa-siapa saja yang duduk menjadi Presiden dan Wakil serta legislatif di daerah tersebut.

Di Kabupaten Bener Meriah sendiri misalnya, rekapitulasi hasil pemilu 2019 ini telah dapat dinyatakan siapa yang akan menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kabupaten itu. Masyarakat telah memilih dan menunjuk perwakilan mereka masing-masing baik dari dapil I, II dan III untuk duduk di Dewan sebagai bentuk transformasi dalam mewujudkan harapan rakyat yang selama ini barangkali belum terlaksana dengan baik.

Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Bener Meriah Khairul Akhyar SE mengatakan bahwa rekapitulasi suara Pemilu 2019, baik untuk Capres-cawapres, DPD, DPR RI, DPRA, dan DPRK sudah selesai dilaksanakan. Khusus untuk DPRK, dari hasil pleno yang sudah ditetapkan pada Jumat, 3 Mei 2019 lalu pada dini hari dan dinyatakan 10 partai yang memperoleh suara terbanyak dari tiga daerah pemilihan (dapil) di Bener Meriah yang diprediksi akan mengisi kursi anggota legislatif.(sumber: serambinews.com)

Partai Politik (Parpol) dengan suara terbanyak pada urutan pertama ditempati Partai Golkar dengan perolehan 15.899 suara, disusul PKB memiliki 12.708 suara, dan Gerindra 9.294 suara. Selanjutnya NasDem 7.306 suara, dan PDIP 6.625 suara. Sedangkan posisi keenam ditempati Partai Demokrat sebanyak 6.600 suara, Hanura 6.408 suara, PA 5.734 suara, PNA 4.313 suara, dan di urutan kesepuluh ditempati PBB sebanyak 3.592 suara.

Dari rekapitulasi tersebut  dapil I akan diisi sembilan kursi anggota dewan, Dapil II diisi tujuh kursi, dan Dapil III sembilan kursi. Secara khusus pada dapil I Bener Meriah, ada yang wajah baru juga masih ada wajah lama. Ini menandakan, perlu untuk dilihat akan kinerja dan sportivitas mereka seperti apa kedepan dan kebelakang. Berhubung wajah baru jua, wajah lama juga tidak semua duduk lagi mendapatkan kursi panas itu.

Tahun 2018 lalu, Pamflet yang sempat terpampang di Desa Simpang Balik pada tahun 2018 yang lalu dengan tulisan “2019 Ganti DPRK” menjadi isu hangat dan menarik. Barangkali ini yang menjadi Do’a masyarakat saat membaca tulisan itu ketika lewat sehingga wajah baru DPRK terganti dengan wajah yang baru. Dan tentu barangkali DPRK memiliki masalah, oleh karenanya mengapa perlu untuk diganti sesuai tulisan pada pamflet itu.

Disisi lain, juga ada hal yang menarik yang barangkali perlu dikaji bahkan menjadi motivasi serta pelajaran. Seperti dari desa tertua di Bener Meriah, desa Delung misalnya. Dalam catatan sejarah demokrasinya, selama ini beberapa orang calon legislatif dari desa ini sebelumnya sempat maju untuk menjadi dewan namun tidak membuahkan hasil. Mulai dari sejak tahun pertama demokrasi di Bener Meriah hingga tahun 2015 yang lalu masih belum memberikan kabar baik. Bahkan, tidak tanggung-tanggung dalam satu periode itu sebanyak 3 orang calon dari desa ini untuk maju menjadi anggota dewan, lagi-lagi belum memberikan harapan. Sehingga rekapitulasi jaringan calon yang sempat bersaing dalam ajang ini kurang lebih 9 orang, dan satu yang diantaranya diizinkan untuk menduduki salah satu kursi pada lembaga perwakilan rakyat itu tahun 2019 ini.

Jika dikaji secara mendalam, kalau saja ada kekompakan yang dibangun dengan kuat tentu akan menjadi indah dan berhasil melaju pada babak sesungguhnya. Dikatakan demikian karena, kurang lebih sebanyak 900 Kepala Keluarga yang berada di desa ini seharusnya mampu menjebol dan mengantarkan masyarakatnya sebagai perwakilan mereka di dewan. Namun politik yang begitu keras dan kental, sehingga suara harus terbagi dan direnggut keluar lantaran dipengaruhi isu-isu keistimewaan politik oleh calon-calon lain yang berada di luar desa itu.

Guntur Alamsyah

Kendatipun demikian, tidak menjadi masalah yang besar dalam catatan sejarah untuk berbagai pada demokrasi tersebut. Untuk tahun 2018/2019 ini, dua orang putra dari Delung tersebut kembali lagi mengajukan diri untuk melakukan ekspedisi dalam merebut kursi di dewan. Keduanya maju dari partai yang berbeda seperti Guntur Alamsyah dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Khairul Saleh dari Partai NasDem. Meskipun tidak keduanya dapat meraih kursi tersebut, akan tetapi salah satu dari mereka berdua, Guntur Alamsyah dinyatakan lolos dan akan mewakili desa ini menjadi dewan di Bener Meriah. Hal ini sekaligus menjadi sejarah bagi desa Delung, karena beberapa orang yang telah berlaga merebut kursi dewan belum pernah mendapatkan kabar baik, sehingga untuk tahun ini kabar baik itupun diamanahkan lewat Guntur Alamsyah.

Jika dilihat dari garis sejarah, sepengetahuan penulis, Guntur Alamsyah merupakan salah satu keturunan dari Muyang Kute yang ke-14. Ia merupakan anak dari sejarawan Bener Meriah Tgk Jafaruddin B yang saat ini menjadi bagian dari pengurus Majelis Adat Gayo (MAG) Kabupaten Bener Meriah. Hal ini diketahui, beberapa tahun lalu penulis sempat menjalin komunikasi personal atau bertemu langsung dengan Tgk Jafaruddin yang menyinggung masalah adat dan sejarah di Bener Meriah dan mengatakan bahwa Guntur Alamsyah merupakan salah satu keturunan dari Muyang Kute yang ke-14.

Tidak hanya Guntur Alamsyah yang merupakan keturunan Muyang Kute, menurut Tgk Jafaruddin B tersebut, di Desa Delung sendiri secara garis besar merupakan berdarah keturunan Muyang Kute termasuk Khairul Saleh (calon Dewan dari NasDem). Ia juga merupakan keturunan dari anak Muyang Kute dari Rusip Bener Meriah, yang saat ini sebagian besar mendiami desa tua itu.

Secara khusus, bagi masyarakat desa Delung, majunya Guntur Alamsyah mewakili rakyat di DPR Kabupaten menjadi catatan penting bagi masyarakat desa setempat dan secara umum masyarakat luas Bener Meriah. Bagi penulis, ini merupakan suatu keberkahan sekaligus menjadi jawaban penting dalam menjawab  pernyataan yang dilontarkan oleh beberapa kaum elit politik dan masyarakat luar Delung yang sempat dirasakan sebelumnya, karena belum kunjung menduduki kursi dewan dan hari ini telah dikabulkan untuk duduk.

Disisi lain, beberapa calon sebelumnya dari desa ini yang belum berkesempatan untuk mendapatkan duduk di Dewan, sudah terobati akan hadirnya sosok Guntur Alamsyah mewakili mereka di Dewan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam isu yang berkembang saat ini tidak menutup kemungkinan bahwa Guntur Alamsyah diprediksi akan menjadi wakil ketua. Meskipun menanti jawaban resmi dari pihak mereka pada bulan Agustus mendatang.

Secara komunikasi tidak langsung (nonverbal) berlangsungnya proses demokrasi dari catatan demokrasi desa ini sejak tahun 2005 hingga 2015, dapat dijadikan suatu kesimpulan pembelajaran yang sangat penting bagi generasi muda, calon-calon wakil rakyat serta masyarakat umum secara luas dimasa mendatang. Hal ini dikarenakan bahwa untuk mendapatkan suatu harapan di dewan diperlukan proses panjang untuk dapat meraihnya. Selain proses, oposisi dari semangat jiwa kita yang membara juga harus terus-menerus tetap bangkit dan tetap dijaga serta terus berjuang dalam meraihnya. Meskipun tidak bisa digapai pada kali pertamanya, tentu beberapa kalinya pasti akan bisa dicapai. Kalau bukan diri sendiri yang berhasil meriahnya siapa lagi. Kendatipun diri kita yang belum beruntung mendapatkannya, barangkali Allah SWT., titip dan serahkan kepada saudara kita yang sudah mapan untuk meraihnya.

Akhir kata, sebagai pengamat dan masyarakat biasa, siapapun yang menjadi anggota dewan untuk 5 tahun kedepannya, pastikan dalam membangun daerah Kabupaten Bener Meriah dengan niat yang sebaik-baiknya dan tulus dalam membangun Kabupaten Kopi itu. Sehingga dengan demikian mampu untuk bersaing dalam proses pembangunan daerah yang lebih maju dan sejahtera. Kalau hanya berpoya saja dan niat yang lain dari yang seharusnya tentu ini tidak menunjukkan karakter kepemimpinan yang sebenarnya. Bahkan, masyarakat tidak tanggung-tanggung untuk memanjatkan Do’a  kembali layaknya Pamflet diatas “Tahun Depan Ganti DPRK”.

Sebagai manusia yang lemah, perlu untuk diingat bahwa cahaya berada diatas cahaya. Artinya, diatas cahaya masih ada cahaya lagi yang labuh tinggi, untuk kongkritnya, diatas langit masih ada langit lagi. Perumpamaan ini merupakan ibaratkan keterwakilan rakyat dalam menjabat anggota dewan yang merupakan penghargaan tersendiri bagi dewan bahwa dirinya merupakan orang pilihan yang diyakini mampu bekerja untuk masyarakatnya. Tidak menutup kemungkinan jua bahwa, kehadiran kita dalam parlemen legislatif itu bisa jadi menjadi jembatan kepada arah yang lebih baik untuk bangkit dan maju dalam membangun Kabupaten Bener Meriah, atau bahkan sebaliknya masyarakatnya akan tenggelam lantaran ulah kita. Wallahu A’lam bishawab.[]

*Pengamat Sosial, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam pada Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!