Sebelum Dihanyutkan, Para Tersangka Sempat Rencanakan Kubur Korban Hidup-Hidup

REDELONG :Satuan Reskrim polres Bener Meriah menggelar rekontruksi tindak pidana dugaan kasus pebunuhan berencana terhadap Syahril Akbar yang terjadi di hutan kala enang-enang desa Menderek Kecamatan Pintu Rime Gayo pada tanggal 25 Desember 2017.

Dalam rekonstruksi yang diperagakan tersangka di Mapolres Bener Meriah, Selasa 30 Januari 2018. Sebanyak 74 adegan diperagakan ketiga tersangka masing-masing Mulyadi tersangka 1, Hamdan tersangka 2, dan Sunarzi tersangka 3.

Koronologis kejadian, tersangka Mulyadi menebang pohon kayu jenis Rambung dengan mengunakan mesin Senso, namun karena pohon yang ditebangnya tidak tumbang dia menyuruh tersangka Hamdan untuk menebangnya kembali.

Pada saat tersangka Hamdan akan menebang batang kayu Rambung, dengan posisi kayu tersebut sudah dalam keadaan miring kearah kanan yang cabangnya terlilit dengan cabang kayu jenis Rambung lainnya yang berjarak sekitar 5 meter. Dimana pada saat itu tersangka Hamdan mengetahui korban Syahril Akbar sedang memasak dengan jarak 25 meter dari pohon kayu mereka tebang, kedau tersangka mengira kayu tersebut tumbangnya tidak kearah korban Syahril Akbar, sehingga tersangka Hamdan melanjutkan penebangan hingga kayu tersebut tumbang.

Ketika kayu yang ditebang tersangka Hamdan tumbang, ternyata satu cabang kayu yang ditebang menimpa korban yang mengakibatkan tangan sebelah kiri korban patah dan paha sebelah kanan juga diperkirakan patah akibat terkena hantaman batang kayu.

Tersangka Hamdan mulia curiga, kalau korban Syahril Akbar tertimpa setelah kayu yang ditebangnya tumbang, kemudian dia meletakkan mesin Senso guna untuk mencari korban Syahril Akbar ditempat korban sedang memasak sambil berteriak memangil-mangil nama korban.

Setiba ditempat masak tadi, tersangka Hamdan melihat korban Syahril Akbar telah tertimpa kayu dengan posisi telentang dibawah batang kayu berdiameter 70 cm, saat itu korban sedang merintih kesakitan akibat tangan kiri dan paha kanan diperkirakan patah. Mengetahui hal tersebut tersangka Hamdan lalu memanggil tersangka Mulyadi, dengan cara berteriak dan meminta tersangka Mulyadi membawakan mesin Senso tadi seraya memberitahukan korban Syahril Akbar telah tertimpa kayu.

Di adegan selanjutnya, setelah tersangka Hamdan menyimpan mesin Senso yang disuruh tersangka Mulyadi lalu kembali kegubuk, pada saat itu tersangka Mulyadi meminta tersangka Hamdan untuk bersama-sama melakukan penganiayaan dengan tujuan agar korban Syahril Akbar meningal dunia dan tidak menjadi urusan, namun tersangka Hamdan tidak mau.

Selanjutnya tersangka Mulyadi memberitahukan kepada tersangka Sunarzi dengan mengatakan , ” kita ada musibah, Syahril Akbar ketimpa kayu, kami sudah tidak sanggup mikirinya, mungkin kamu ada solusi Sunarzi” tersangka Sunarzi menjawab ” kenapa tidak beritahu dari tadi, dan aku sudah curiga dari tadi” tersangka Hamdan mengatalan ” saya takut nanti abang kari” hingga tersangka Sunarzi kembali mengatakan ” kenapa tidak bilang dari tadi siang, kan tadi siang orang rame disana bisa membantu kita” tersangka Mulyadi lantas menjawab ” saya takut dan jika Syahril Akbar kita bawa, banyak uang saya keluar untuk biaya berobatnya, mau habis uang saya ukuran seratus juta”.

Ketiga tersangka sempat pulang kerumah mereka, dan meninggalkan korban dihutan. Sekembalinya kehutanan di pos jaga Gajah di dusun sosial Kampung Menderek, ketiga tersangka sempat memakai narkotika jenis Sabu yang disiapkan oleh tersangka Mulyadi, disitu ketiga tersangka membuat rencana/skenario bagaimana cara agar menutupi perbuatan tersangka Mulyadi dan tersangka Hamdan. Dimana kayu mereka terbang telah menimpa korban Syahril Akbar yang mereka tinggal dalam keadaan hidup. Kemudian tersangka Mulyadi memberikan ide untuk merekayasa kematian korban seolah-olah korban Syahril kecelakaan sepeda motor dengan meletakkan korban dipinggir jalan, dan sepeda motor jenis CB dirusak bagian rem dan dijatuhkan dari atas jalan yang berjurang sehingga orang mengira korban kecelakaan. Namun ide tersebut tidak disetujui tersangka Hamdan dan tersangka Sunarzi, kemudian tersangka Sunarzi memberikan ide agar korban dukuburkan dilokasi tertimpa kayu tadi agar tidak diketahui orang, ide tersebut tidak disetujui tersangka Mulyadi dengan alasan terlalu lama urusannya karena takut keburu diketahui orang lain.

Akhirnya tersangka Mulyadi memberikan ide, kalau korban dilanjutkan kesungai Peusangen kala enang-enang yang tidak jauh dari lokasi korban, ide tersebut disetujui kedua tersangka lainnya. Saat dihanyutkan diduga korban masih hidup dengan kondisi pingsan.

Mayat korban ditemukan setelah setelah tiga warga Menderek mencari ikan, dimana pada hari Sabtu tanggal 30 Desember 2017 Saksi Bohari, Selami dan Mahmud pergi mencari ikan dari desa Menderek menuju sungai Peusangen.

Sesampainya dipinggir sungai tepatnya Berawang Karang, dusun Jalung desa Blang Rakal Kecamatan Pintu Rime Gayo. Saksi Selami yang berjalan didepan melihat dua ekor binatang biawak berlari, kemudian tidak lama kemudian saksi Selami melihat mayat dengan posisi terlungkup, mengetahui tersebut kemudian saksi Selami memanggil saksi Bohari dan saksi Mahmud guna untuk melihat lebih jelas mayat korban.

Ketiga saksi tersebut kemudian melaporkan ke polsek Pintu Rime Gayo, setelah aparat kepolisian Polsek Pintu Rime Gayo tiba mayat tersebut lalu dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD) Muyang Kute. (Gona )

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!