Sahriza, Sang Penari Tari Guel  Asal Kenawat Lut

  • Whatsapp
Sahriza

Indonesia dikenal dengan negara kepulauan dan negara beragam corak suku, budaya, agama dan keterampilan seni budaya yang berbeda-beda. Warna kehidupan dari Sabang sampai Merauke.

Tari Guel dari Gayo salah satunya. Begitu pentingnya tarian ini, hingga budaya tersebut terus dilestarikan dengan baik hingga sekarang ini. Tarian ini kerap ditampilkan menyambut petinggi-petinggi negara dan tamu-tamu yang dihormati di masyarakat Gayo. 

Read More

Sahriza adalah salah seorang pelaku Tari Guel kelahiran Kenawat Lut. Tari Guel telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan darinya.Putra bensu  dari pasangan Tantawila dan Maimunah adalah pegiat Tari Guel yang aktif dan banyak jadwal manggung di event pentas seni penting. 

Tari Guel punya sejarah panjang dan terus diajarkan, ditransformasikan serta dilestarikan kepada generasi penerus masyarakat Gayo yang mendiami wilayah tengah Aceh hingga sampai saat ini.

Tari yang terus dijaga baik ini tidak hanya dimainkan di wilayah dataran tinggi Gayo saja, melainkan juga dikembangkan oleh generasi muda khususnya Mahasiswa Gayo yang sedang kuliah di luar daerah. Baik di beberapa kampus di Aceh maupun di beberapa kampus di Indonesia. 

Cerita Sahriza yang akrab disapa Ijal menggeluti Tari Guel bermula sejak 9 tahun belakangan saat sekolah di MAN 2 Takengon. Waktu itu ia diamanahkan oleh seniornya sebagai penari Tari Guel pada kegiatan Pramuka di kabupaten Gayo Lues tahun 2011. Padahal dirinya sama sekali tidak banyak mengetahui gerakan-gerakan yang ada pada tari Guel itu. Namun karena semangat yang tinggi, semua itu bisa dilalui hingga dilewatinya dengan baik.

Makin meminati Tari Guel, Ijal mendalami khazanahnya  dengan mencari referensi. Namun karena referensi tersebut tidak ditemukan olehnya, akhirnya ia pun memutuskan untuk belajar dengan otodidak dan meniru gerakan-gerakannya dari acara pertandingan piasan kesenian. Salah satu acara Piasan yang sering dimanfaatkan Ijal adalah kegiatan seni pada setiap akhir tahun yang berlangsung di GOS Takengon,  Aceh Tengah.

Tahun depannya yaitu 2012, sebuah wadah kegiatan piasan seni MAN 2 Takengon ikut andil pada kegiatan seni akhir tahun tersebut. Dihari itu pula awal perdana Ijal tampil pertama kalinya. Keikutsertaannya dalam lomba itu ternyata membuahkan hasil dengan meraih juara tiga kategori Tari Guel.

Keberhasilannya menjadi penari Tari Guel tidak terlepas dari orang terdekat dan bantuan teman-teman. “Orang yang berjasa dalam melatih saya adalah saudara Wen Mahyuddin. Saat ini ia berdomisili di kampung asir-asir. Saya mengucapkan banyak terimakasih, semoga apa yang diajarkan terus bisa bermanfaat untuk saya dan orang lain,” kata Ijal.

“Dialah awal mulanya yang mengajarkan saya tentang tari Guel itu sendiri, tentang ketukan dalam tari Guel, dan lainnya. Dari situlah awal ketertarikan saya tentang tari Guel,” ungkapnya.

Sahriza dalam sebuah pagelaran Tari Guel

 Setelah selesai menempuh pendidikan di MAN 2 Takengon itu, tahun 2013 ia melanjutkan kuliah di Banda Aceh pada jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) Fakultasnya Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry di Banda Aceh.

“Setelah saya kuliah di Banda Aceh tahun 2013, disanalah saya semakin penasaran tentang tari Guel. Hingga akhirnya ada sanggar seni yang menurut saya sangat cocok untuk menyalurkan bakat seni saya itu,” jelas pria kelahiran tahun 1995 ini.

Pada 2014, Ijal  bergabung dengan MAPESGA Organisasi ini merupakan salah satu paguyuban mahasiswa Gayo di Banda Aceh khusus mengenai sejarah dan seni. Disini ia terus belajar, mendalami, dan mengembangkan bakatnya itu dari senior-senior yang melakoni kesenian tari Guel di MAPESGA.

“Disanalah saya banyak belajar tentang tari Guel. Saya sangat bersyukur, berkat organisasi ini nama saya sedikit tenar,” imbuhnya, yang pada akhirnya sempat menjadi wakil ketua umum Mapesga mendampingi Kadri dari desa Delung Tue, Bener Meriah sebagai ketua umumnya.

Ijal mengatakan, melalui organisasi MAPESGA itu, dirinya banyak ikut berpartisipasi pada event-event lokal, nasional maupun event internasional. Bahkan, banyak pula kegiatan-kegiatan lainnya yang diikuti oleh Ijal, mulai dari mengisi acara televisi nasional seperti “Ragam Indonesia” dan beberapa televisi lokal lainnya yang ada di provinsi Aceh.

Tahun 2017, Ijal dan teman-temannya ikut andil dalam kegiatan Sail Sabang. Ijal dipercayakan sebagai penari tari Guel menyambut wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Kehadiran orang nomor dua di Indonesia ini serta pejabat tinggi lainnya di Sabang dalam rangka penyambutan kapal Pesiar di pulau ini.

Tak hanya di Sabang, Ijal sering menampilkan Tari Guel pada kegiatan acara Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), penyambutan para petinggi-petinggi, serta beberapa acara lain.

Saat ditanyai diantara undangan yang paling wah selama menjadi penari Guel, Ijal menjawab saat berada di Sail Sabang tahun 2017 lalu.

Dalam sepekan, terkadang Ijal dan teman-teman sering di undang untuk tampil Tari Guel sebanyak empat kali. Baik seperti di acara-acara seminar, bahkan di acara pernikahan (Sinte mungerje) dan lainnya.

Selama Pandemi Corona ini, Ijal menyebutkan sebenarnya ia banyak di undang di beberapa kegiatan besar lain seperti di Sabang, bahkan ke Istana Negara Jakarta  Namun karena situasi dan keadaan yang tidak memungkinkan.

“Namun karena Corona ini, hal itu harus ditunda untuk sementara waktu hingga wabah ini berakhir,” jelasnya.

Kendati demikian, 22 April 2020 lalu, ia dan teman-temannya sempat ikut serta dalam pengambilan dokumentasi oleh tim dari Banda Aceh. Pengambilan dokumentasi itu berlangsung di Burtemun Bale Redelong, Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah bersama Fauzan Azima.

Untuk menari Tari Guel, kata Ijal dibutuhkan penjiwaan yang mendalam, seperti gerak tubuh. Selain itu, nyawa dari Tari Guel juga tidak bisa dipisahkan dari musiknya sendiri.

“Baik dari Gegedem, suling, canang, gong. Kalau dapat rasa kenikmatan musiknya, disitulah akan dirasakan keindahan tari Guel yang sebenarnya,” tutup Ijal.

Begitulah sekelumit dari sosok Sahriza alias Ijal Wen Argayoni, generasi muda Pegiat Tari Guel asal Kenawat Lut, Takengon Aceh Tengah. Siapa yang menduga, kesuksesan dalam memerankan Tari Guel berpihak kepada Ijal dan mengharumkan namanya. Seperti kata orang bijak apapun karir dipilih teruslah menekuninya dan nikmati, sukses  kemudian pasti diraih.(Junaidi Ari Delung)

Related posts