Saat TPA Uwer Tetemi Ditanami Semangka

0

Tanaman-semangka-di-TPA-Uwer-Tetemi-mulai-berbuah-300x169TAKENGON – Keberadaannya sempat menjadi polemik berkepanjangan beberapa waktu yang lalu, sehingga menimbulkan problem sampah yang cukup akut di kota Takengon dan sekitarnya.

Tapi setelah terjadi kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dengan masyarakat yang berada di sekitarnya, kini operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Uwer Tetemi yang berada di kampung Mulie Jadi kecamatan Silih Nara itu kembali normal.

Berbeda dengan penanganan tempat pembuangan sampah lainnya yang membiarkan sampah dalam kondisi terbuka dan menjadi “lahan” usaha bagi para pemulung, pengelolaan TPA Uwer Tetemi agak spesifik. Karena sebelumnya, masyarakat yang berada di sekitar TPA itu pernah memprotes keberadaan tempat pembuangan sampah ini yang konon menyebabkan banyaknya lalat hijau (mamok ijo) dan mewabahnya berbagai penyakit.

Namun akhirnya “konflik” itupun mendapatkan win win solution, dimana sampah dari seputaran kota Takengon dapat disalurkan ke TPA, sementara dampak negatif keberadaan TPA bagi masyarakat sekitarnya juga bisa diminimalisir.

Caranya, setiap sampah yang sampai ke TPA langsung diratakan dengan alat berat kemudian ditimbun dengan tanah, sehingga aroma tak sedap dari tempat pembuangan sampah itu dapat di eliminir.

Pembuangan sampah ke TPA juga dilakukan pada malam hari, sehingga truk-truk pengangkut sampah itu tidak mengganggu masyarakat  di sepanjang jalur yang dilaluinya dan juga masyarakat yang berada di sekitar TPA. Ya, meskipun daya tampung TPA ini agak terbatas, tapi minimal saat ini, masalah sampah di kota dingin ini sudah dapat tertanggulangi dengan baik.

Sudah agak lama masalah TPA Uwer Tetemi “sengap” dari pemberitaan media, beberapa hari lalu ada “kabar baik” dari tempat pembuangan sampah ini.  Sampah-sampah organic yang ditimbun dengan tanah di tempat itu, ternyata cepat berproses menjadi pupuk organic yang cukup baik, tanah penutup sampah itupun kemudian mendapat efek dari keberadaan sampah organic yang sudah berubah menjadi pupuk itu, secara otomatis tanah penimbun itupun jadi ikut subur.

Hal itu sudah dibuktikan dengan “uji coba” yang dilakukan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan, Ir. Zikriadi, MM. Secara iseng dia mencoba menanam beberapa bibit semangka di atas tanah timbunan sampah tersebut, dan tanpa dinyana , coba-coba  yang dilakukan oleh sarjana pertanian alumni Unsyiah itu menunjukkan respon yang sangat baik.

Bibit semangka yang ditanam Zikri, terlihat tumbuh subur diatas hamparan tanah timbunan sampah itu, bahkan sudah mulai terlihat buah-buah semangka berwarna hijau bergaris loreng bermunculan disela-sela tanaman yang tumbuh subur menjalar itu.

“Alhamdulillah, uji coba tanam bibit semangka di Uwer Tetemi ini menunjukkan hasil yang menggembirakan, bibit semangka yang kami tanam beberapa waktu yang lalu, tumbuh dengan baik, bahkan sudah mulai berbuah,” ungkap Zikri sambil menunjuk hamparan tanaman semangka di TPA itu

Jika ujicoba ini menunjukkan tren positif, rencananya Zikri akan mengajak masyarakat sekitar untuk ikut memanfaatkan lahan TPA sebagai lahan usaha tani semangka, sehingga keberadaan tempat pembuangan sampah ini juga bisa memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitarnya,

“Kita akan tunggu hasilnya beberapa minggu ke depan, jika tanaman ini secara analisis usaha tani menguntungkan, kita akan libatkan masyarakat sekitar untuk berpartisipasi, sehingga mereka juga dapat menikmati manfaat ekonomi dari keberadaan TPA ini,” lanjut Zikri, yang selalu terlihat akrab dengan para petugas kebersihan ini.

Sebuah “terobosan” positif tentunya, apa yang telah dilakukan oleh Kepala BLHKP ini, karena dia sudah mampu merubah imej tempat pembuangan sampah yang konon jadi sumber penyakit menjadi sumber pendapatan masyarakat. (REL)

Komentar Anda
SHARE