Ramadhan, Momen Memperbaiki Hati

  • Whatsapp
Oleh: Johansyah*

Manusia diberikan tiga media pengetahuan untuk dapat menyerap ayat-ayat Allah Swt. Media tersebut yaitu; penglihatan, pendengaran, dan hati (lihat QS. An-Nahl: 78). Dari ketiga media tersebut, hatilah yang menjadi komandannya. Dialah yang memberikan komando bagi anggota tubuh yang lainnya, termasuk mata dan telinga. Kata hati sendiri dalam al-Qur’an disebut dengan beberapa istilah, yaitu ‘aql, qalb, fu’ad, lubb, sirr, hingga sirr al ashrar. Khusus istilah ini akan di bahasa pada sesi lain. Di sini kita fokus dulu pada salah satu hikmah puasa yang pada intinya untuk merawat dan menata hati.

Sekiranya mengacu pada uraian awal surah al-Baqarah, ada tiga ketegori hati. Pertama, hati yang taat (Qalbun Tha’ah). Hati yang sehat adalah hati yang tunduk dan patuh kepada Tuhan. Melaksanakan perintah-Nya, dan berusaha meninggalkan larangan-Nya. Di awal surah kedua ini dideskripsikan bahwa orang yang memiliki qalbun Tha’ah itu adalah muttaqin dengan beberapa kriteria yang melekat pada dirinya; meyakini eksistensi Tuhan dan memiliki visi jauh ke depan, cerdas dalam membangun komunikasi, baik secara vertikal dan horizontal, dan memiliki kepedulian tinggi, patuh aturan (agama, negara, dan budaya), dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Kedua, hati yang terkunci (Qalbun Makhtum) atau hati yang membelot. Ini adalah jenis hati yang keras sehingga tidak mau menerima nasehat, maupun peringatan. Pada ayat 6-7 surah al-Baqarah dijelaskan bahwa bagi hati yang tertutup itu sama saja, diberi peringatan atau tidak, mereka tetap tidak yakin. Hati, pendengaran, dan penglihatan mereka kemudian disegel (makhtum) atau ditutup, sehingga tidak pernah menemukan ketenangan (adzabun alim).

Ketiga, hati yang atau sakit (Qalbun maridh), atau hati yang mendua (selingkuh). Hal ini dijelaskan pada ayat berikutnya. Dimana kriteria hati yang sakit itu adalah mudah mengakui diri baik di hadapan orang baik, mengaku bertanggung jawab, hingga mengibuli Tuhan dan orang baik padahal dia yang dikibuli tapi tidak merasakannya. Hati seperti ini juga mudah mengaku bahwa dia adalah sosok yang senantiasa menggemakan perubahan, padahal dia adalah dalam perusak tapi seolah-olah dia tidak melakukannya. 

Karakter yang paling buruk dari hati model ini adalah mendua (selingkuh akidah). Bertemu orang baik, dia pura-pura baik. Bertemu orang jahat, dia pun jahat. Itulah karakter dia yang sebenarnya. Sikap mereka ini senantiasa akan menyulitkan mereka sendiri sampai kapan pun dan di mana pun mereka berada karena dibutakan dan dibisukan dari kebenaran.

Kalau hati kita tergolong pada yang pertama, tentu tidak repot untuk merawatnya, tinggal terus menjaganya secara istiqamah. Tapi kalau hati tergolong pada yang kedua dan ketiga, ini celaka dua belas. Persoalan kategori hati ini bukan semata dalam perspektif akidah. Bahwa kemudian ada kategori orang yang Islam, kafir, dan Atheis atau tidak jelas agama. 

Secara substansial-implementatif, justru dalam internal Islam itupun hati karakter jenis kedua dan ketiga ini banyak sekali. Banyak yang mengaku Islam, tapi keras hatinya, gengsi bahkan menolak nasihat, sombong, dan angkuh. Ada juga yang memang dia Islam, tapi suka menipu, kampanye menebar janji, tampil bicara di depan umum menyatakan diri siap melakukan perubahan, padahal dia hanya berambisi meraih kekuasaan. Bahkan mungkin dalam kampanye dia sering teriak takbir (Allahu akbar), tapi sesungguhnya dia mengecilkan-Nya. Setelah itu tidak ada sebuah perubahan pun yang dilakukannya kecuali hanya mengurusi kepentingan diri dan kelompoknya.

Hati kategori kedua sangat sulit dan kecil peluangnya untuk dapat disembuhkan karena sudah pada kategori penyakit jiwa kronis. Ibarat kanker, sudah stadium akhir, tinggal menunggu waktu. Adapun untuk kategori hati yang ketiga, ini jelas memerlukan perawatan khusus. Ibarat sakit fisik, kalau sakitnya ringat mungkin bisa rawat jalan, tapi kalau sakitnya berat, tentu harus rawat inap. Hanya saja, dokternya adalah dirinya sendiri. Tidak ada yang mampu menyembuhkannya keculai dirinya sendiri dengan seizin Allah. 

Maka Ramadhan ini dipersiapkan sebagai rumah rawat jiwa selama sebulan. Penyakit yang mungkin disembuhkannya adalah kategori penyakit hati yang ketiga. Kalau yang kedua itu mustahil bagi manusia, tapi di pihak lain Tuhan menegaskan bahwa Dia menunjuki siapa pun yang dikehendaki-Nya. Sementara kategori hati yang pertama akan terus bertambah sehat dan kuat. Untuk golongan hati yang ketiga pun baru bisa optimal dan maksimal kalau seorang yang puasa benar-benar mengikuti tata tertib ramadhan yang telah ditetapkan.

Di hatilah bersemayamnya ruh atau jiwa itu berasal dari langit. Berbeda dengan jasmani yang diciptakan dari tanah. Karena berasal dari langit, maka nutrisi yang dibutuhkan ruhani pun adalah nutrisi yang bersumber dari langit. Tidak seperti jasmani, makanannya dari bumi. Apa itu nutrisi langit? Berupa keimanan yang dirajut melalui pengabdian yang tulus kepada Allah, kemudian diimplementasikan dalam kehidupan di semua aspeknya.

Jika menyadari peran Ramadhan bagi kesehatan jiwa manusia, sejatinya manusialah yang mewajibkan dirinya sendiri untuk berpuasa sekiranya tidak ada perintah khusus dari Allah untuk menjalankannya. Seharusnya manusia bersyukur ketika Allah mewajibkan puasa, karena tanpa Ramadhan ini, mungkin hanya segelintir orang yang peduli terhadap kesehatan jiwanya. Begitulah, Allah benar-benar Maha Mengetahui, bahwa puasa sangat membantu menyehatkan hati manusia yang sakit, dan menguatkan hati manusia yang sudah sehat sebelumnya.

Sebaiknya jangan terlalu percaya diri bahwa kita dalam kondisi sehat wal afiyat. Secara fisik mungkin, tapi secara kejiwaan sebaiknya diteliti lagi. Apakah jiwa kita itu stabil atau labil, membutuhkan perawatan atau tidak? Apalagi, biasanya yang banyak dikhawatirkan orang adalah sakit fisik. Semua akan sibuk mencari dokter atau perawat agar sakit mereka terobati. Sementara kalau sakit ruhani umumnya orang tidak merasakan, bahkan terkadang menikmatinya.

Dalam berbagai ulasan tulisan saya sering kutip hadits ini untuk menggugah hati kita; ‘sesungguhnya pada diri manusia itu ada segumpal daging. Apabila dia baik, maka baiklah semuanya. Kalau dia jelek maka jeleklah semua. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati’ (Hadits). Untuk itu jangan main-main dengan hati. Inilah mutiara transendental yang sejatinya kita rawat dengan baik dengan memberikan sentuhan cahaya ketuhanan agar dia mampu memancarkan sinar kebaikan dalam sikap dan perilaku keseharian kita.

Semoga ramadhan ini benar-benar kita manfaatkan sebagai rumah rawat inap ruhaniyah. Sejenak kita lebih fokus pada program akhirat, dengan sedikit mengurangi volume perhatian terhadap hiruk-pikuk dunia yang sering melalaikan. Mari berserah diri kepada Allah di Ramadhan mulia ini. Mari kita ikuti tata tertib Ramadhan yang sudah digariskan-Nya sehingga ramadhan ini benar-benar mampu menjadikan jiwa kita sehat. Semoga bermanfaat. Amin.

*Penulis adalah Peminat Kajian Sosial-Keagamaan

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.
  • Whatsapp

Related posts