Prof. Dr. Syamsuddin Haris, M.Si : Pilkada  2017 Ujian Terpenting Bagi Aceh

0
​Prof. Dr. Syamsuddin Haris, M.Si

Pilkada di Aceh selalu menjadi sorotan, bukan saja karena daerah ini pernah bergejolak dan mempunyai Partai Lokal serta, UUPA namun juga karena Aceh adalah provinsi yang mempunyai “Keistimewaan”. Prof Dr Syamsuddin Haris, M.Si,  peneliti politik dari LIPI dan dosen di berbagai universitas di Jakarta memberikan pandangannya terhadap perkembangan politik di Aceh khususnya dalam Pilkada yang saat ini telah berlangsung. Berikut petikan  wawancara Roni Marja perwakilan Kabargayo Jakarta dengan   peneliti senior pada Pusat Penelitian Politik ( P2P) LIPI ini.

Bagaimana pandangan anda terhadap Pilkada Aceh 2017 dalam perspektif politik?

Saya kira Pilkada Aceh 2017 merupakan Pilkada yang amat menentukan bagi masa depan Aceh. Mengapa demikian? Karena melalui Pilkada Aceh 2017 kita tidak hanya akan menyaksikan pertarungan politik di antara para mantan kombatan GAM, tetapi juga pertarungan antara mantan peinggi sipil atau pejabat pemerintahan Aceh dalam pengasingan melawan elite militer GAM yang menguasai lapangan. Selain itu, Pilkada Aceh 2017 juga merupakan momen penting untuk melihat dua hal lainnya, yakni pertama, persaingan pasangan calon dari jalur parpol di satu pihak dan jalur perseorangan/independen di lain pihak. Kedua, persaingan pengaruh antara partai-partai nasional di satu pihak, dan partai lokal Aceh di pihak lain.

Bagaimana anda melihat kasus kekerasan politik Pilkada Aceh 2017 meningkat dibandingkan sebelumnya. Bagaimana tanggapan anda mengenai hal ini?


Potensi konflik dan tingkat kerawanan Pilkada Aceh 2017 sudah diperkirakan sebelumnya, baik oleh Bawaslu maupun oleh Polri. Menurut saya, Pilkada Aceh 2017 akan menjadi ujian terpenting bagi masyarakat Aceh, apakah bisa melembagakan Pilkada sebagai ajang peralihan kekuasaan secara damai atau tidak. Peran para tokoh masyarakat, baik tokoh ulama maupun tokoh adat, dalam turut menciptakan suasana kondusif tentu sangat diharapkan. Jika tidak, artinya konflik dan kekerasan terus mewarnai penyelenggaraan pilkada, maka Pilkada Aceh 2017 akan menjadi momen kekalahan rakyat Aceh, dan sebaliknya kemenangan para elite politik belaka. 

Bagaimana pandangan anda terhadap peta kekuatan paslon Gubernur dan Wagub Aceh?

Untuk Pilkada Aceh 2017 saya menduga kuat pasangan calon yang dinilai relatif jujur, berprestasi, dan “bersih” oleh masyarakat, serta dianggap moderat secara politik akan memiliki peluang lebih besar dibandingkan  yang lain. Mengapa demikian, karena Aceh telah mengalami dua kali pilkada langsung atau dua periode pemerintahan hasil pilkada. Masyarakat tentu memiliki memori tentang semua itu. Paslon yang dianggap secara politik terlampau radikal, kurang bersih, dan dinilai “bermasalah”, saya kira sulit memperoleh dukungan signifikan. Namun semua ini tergantung pada beberapa hal lain, diantaranya: sejauh mana politik uang mampu “mendikte” pilihan rakyat Aceh, atau seberapa jauh KIP dan jajarannya mampu menyelenggarakan Pilkada yang bebas, demokratis, dan damai di Aceh. Kendati secara teoritis pasangan Irwandi/Nova lebih berpeluang dibandingkan yang lain, namun sekali lagi semua itu sangat tergantung pada realitas tarik-menarik politik, uang, dan kekerasan di balik penyelenggaraan Pilkada Aceh 2017.

Komentar Anda
SHARE