Pilkada Aceh Singkil, Empat Paslon Maju Bertarung, Petahan “Pecah Kongsi”

ACEH SINGKIL: Kabupaten yang berjuluk Negeri Syekh Abdurrauf Al-Singkili tak luput dari hiruk pikuknya Pemilukada. Kabupaten pemekaran dari Aceh Selatan, pada 14 April 1999 lalu, siap mensukseskan pesta demokrasi Rabu 15 Februari 2017.  4 Paslon terbaik telah ditetapkan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Singkil 15 Oktober lalu.

Keempat  Paslon tersebut adalah, No. urut 1 ( Safriadi-Sariman) No. urut 2 ( Yakarim Munir-Roesman Hasmy) No. urut 3 ( Dulmusrid-Sazali) No. urut 4 ( Putra Arianto-Hendri Syahputra). Ke empat Paslon akan berjuang untuk memimpin Kabupaten yang terletak di Teluk pesisir ujung barat pulau sumatera ini.

Masa kampanye selama tiga bulan telah dimanfaatkan Paslon untuk “menjual diri” agar terpilih. Bagi masyarakat Aceh Singkil untuk memanfaatkan Pilkada yang akan datang secara positif, guna memilih pemimpin yang “ BIJAK”, serta menjadi momentum dan ujian kematangan demokrasi. Janganlah memilih pemimpin yang hanya mengandalkan “UANG” untuk membeli kekuasaan atau jabatan, sebab biasanya setelah berkuasa bukan melayani tetapi minta dilayani.

Untuk itu, rakyat yang memilih pemimpin jangan tergoda dengan politik uang, terbuai janji-janji. Apalagi dipolitik janji paling gampang diucapkan, begitu mudahnya para kandidat memberi janji, setelah terpilih janji tak terealisasi, namun mereka itu tak dapat dipidana atas kealpaan, apa yang mereka sampaikan saat kampanye. Sebab, tak ada pasal-pasal yang mengatur soal itu.

Disinilah pentingnya peran pemilih untuk jeli dalam menentukan pilihannya pada pilkada serentak di 7 provinsi pemilihan gubernur, 76 Kabupaten untuk pemilihan Bupati dan 18 daerah untuk pemilihan walikota dengan total 101 daerah. Kita yakin semua visi misi paslon saat kampanye nyaris hampir sama untuk “rakyat” demi “rakyat” untuk itu, pemilih harus berfikir secara jernih sebelum menentukan pilihan, agar jangan terlalu lama kita terbodohi oleh kata-kata manis , janji-janji muluk dari kandidat yang kerap mengatasnamakan rakyat.

Cermati dulu latar belakang kandidat calon gubernur, bupati atau walikota. Karena sebagai masyarakat kita sudah begitu lelah melihat dan mendengar gaya politik “KUNO” dari oknum kandidat, baik dalam penyampaian visi misi, debat kandidat, orasi-orasi yang kurang menarik, bahasa yang kurang jelas, kata-kata yang kurang simbolis, kurangnya gagasan cemerlang, kaku, tidak kaya komunikasi.

Lebih parah lagi pada saat kampanye masyarakat dianggap raja sudah di tahta dianggap petaka. Jadi kalau ingin daerah maju dan terbangun pilihlah yang anda yakini dapat membangun kabupaten Aceh Singkil lebih baik lagi. pilihlah calon bupati yang anda yakini siap bekerja keras dan kerja cerdas, kreatif, serta mempunyai planning untuk kemakmuran masyarakat Aceh Singkil kedepan.

Yang menarik pecah kongsi petahana di aceh bukan saja terjadi dilevel gubernur antara zaini – muzakir tetapi terjadi juga di beberapa kabupaten. salah satunya Aceh Singkil. Safriadi – Dulmusrid tidak lagi bersama, mereka mengambil langkah masing-masing. Pertahana safriadi kini berpasangan dengan tokoh muda Sariman yang ahli pertanian, sedangkan Dulmusrid berpasangan dengan Sazali birokrat yang sarat pengalaman.

dua paslon lain Yakarim munir – Roesman Hasmy serta Putra Arianto – Hendri Sahputra siap pula memenangkan ajang pilkada lima tahunan ini. Tentu, bagi masyarakat pemilih di Aceh Singkil sudah terpatri dibenak masing-masing untuk memenangkan “Jagonya”. Kepada pemenang pilkada nantinya bekerjalah untuk rakyat, terhadap calon yang kalah agar restropeksi, karena kegagalan adalah sukses yang tertunda, coba lagi, coba lagi walau terus gagal. (Amin Bani)

Komentar Anda
SHARE