“Pil Pahit” Petani Tomat, Harga Anjlok Terbuang Sia-sia

  • Whatsapp
Sejumlah Anggota DPRK Bener Meriah didampingi oleh Kepala Kampung Delung Asli saat petani tomat yang sedang melaksanakan panen di Kampung Delung, Rabu (1/4/2020)- Foto: Ri

Kabargayo.com, Redelong: Krisis wabah virus Corona (Covid-19) telah berdampak bagi para petani. Seperti yang terjadi di Bener Meriah, petani tomat di kabupaten ini harus menelan pil pahit, harga anjlok hingga Rp 1000 perkilo.

Sedikitnya permintaan mengakibatkan hasil panen tidak laku terjual sehingga banyaknya tomat yang terbuang sia-sia.

Read More

Hal tersebut diketahui ketika Sejumlah Anggota DPRK Bener Meriah melakukan sidak lapangan ke lahan  petani tomat  di Kampung Delung Tue Kecamatan Bukit serta kesejumlah pedagang di Pusat Pasar Sayur Sentral Rabu (1/4/2020).    

Ketua Komi A DPRK Bener Meriah Abubakar dalam menerangkan setelah mendapatkan keluhan dari masyarakat terkait redahnya harga jual pelawija pihaknya melaksanakan sidak dan melakukan wawancara langsung dengan petani dan pedagang.

Dari hasil sidak tersebut, pihaknya mengetahui bahwa banyaknya tomat yang terbuang akibat tidak laku dan harga beli yang saat ini sangat murah berkisar Rp 1000  per kg sementara  harga jual di pasar tumpah di daerah lain masih sangat tinggi.  

“ Untuk harga jual tomat di pasar tumpah  Lhoksukon  Aceh Utara mislanya tadi pagi di jual dengan harga Rp6000 per kg sementara di Kabupaten Bireuen seharga  Rp 5000 per kg  kok harga beli dari petani di Bener Meriah hanya Rp 1000,” katanya.

Menurutnya, setelah melakukan investigasi kelapangan semua pedagang  menyampaikan hal yang sama bahwa  barang hasil palawija tersebut tidak dapat dibawa ke pasar akibat ada beberapa pasar yang sudah tutup seperti halnya pasar Penayung Banda Aceh.

Ia menambahkan banyak tomat yang harus di buang akibat tidak tersedianya pasar dan kurangnya permintaan.” Seharusnya jika permintaan berkurang harga jual juga sudah pasti turun namun saat ini harga jual di daerah lain masih mahal,” tanya Bakar.     

Sementara itu anggota DPR Lainnya, Julham selaku Ketua Badan Legislasi dirinya mengaku miris melihat kondisi tersebut.

Pihaknya kata Zulham mengaku akan terus berupaya untuk mencari solusi dan juga mendorong pemerintah untuk mencari mengambil langkah-langkah yang kongkrit untuk membantu petani.   

Semntara itu Yuzmuha politisi partai menambahkan, petani merupakan salah satu orang yang berdampak wabah virus corona yang mengakibatkan harga jual palawija petani di Bener Meriah anjlok sehingga menurutnya, petani yang terdampak juga berhak mendapatkan bantuan dari Pemerintah.

Yuzmuha juga mendesak Pemerintah Aceh melalui  Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh juga berperan aktif dan membantu kendala yang dihadapi oleh petani saat ini di gayo.   

Selain itu menurutnya, petani juga kesulitan untuk mendapatkan harga pupuk bersubsidi dan membeli dengan harga di atas Harga eceren tertinggi sehingga pihaknya juga akan mendesak pemerintah daerah untuk segera menertibkan.

“ Setelah kami berkunjung ke salah satu penjual pupuk bersubsidi jenis poska seharunya sesuai dengan harga Het Rp 115.000 per sak namun dijual dengan harga 150.000 per sak,” katanya.

Sementara itu salah seorang petani tomat Sabri warga Delung Tue kepada wartawan mengatakan, selain harga yang turun, tomat juga sulit untuk di jual sehingga banyak tomat yang terbuang sia-sia.” Tidak hanya rugi, kami juga berhutang akibat modal yang dikeluarkan cukup tinggi, “ sebutnya.(RI)

Related posts