Piala Esports Aceh Tengah Usai, ini Juaranya

  • Whatsapp
Para jura bepose bersama pengurus Esports Aceh Tengah, GM Prakside Naddya, Ketua KONI Aceh Tengah Djumhur. (Photo/Kabargayo)

Kabargayo.com, Takengon: Tounament Esports Aceh Tengah resmi ditutup oleh Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (Koni), Ir Djumhur. Kegiatan final diselenggarakan di aula Parkside Petro Gayo Hotel, Minggu 07 November 2021.

Game yang dipertandingkan oleh panitia adalah permainan peranti bergerak berjenis MOBA Mobbile Legenda Bang Bang dan Pro Evolution Soccer (PES) kini dikenal dengan sebutan eFootball.

Read More

Keluar sebagai juara di final adalah untuk PES, Juara satu diraih oleh Khairul Fata, juara dua Rahmatsyah Putra, juara 3 Agung Firmansyah dan juara empat adalah Syahlan Habibi. Sedangkan untuk juara Mobile Legenda adalah, juara satu diraih oleh tim ESI Aceh Tengah, juara tim Mythical, juara tiga tim Glory dan juara empat diraih oleh tim Jangkrik Boss.

Ketua umum Esports Seluruh Indonesia (ESI) cabang Aceh Tengah, Wen Yusri Rahman mengatakan, kegiatan itu sebelumnya dibungkus dengan Piala Bupati Aceh Tengah, dengan adanya gonjang-ganjing dalam pelaksanaanya sehingga di urungkan dan menjadi piala Esports.

Kata dia, Esports sangat menghargai ulama dengan Fatwa MPU yang telah dikeluarkan dan saat ini menjadi polemik dilapangan. Dalam Fatwa itu mengharamkan game PUBG dan sejenisnya.

“Untuk itu kegiatan ini kami ganti menjadi piala Esports Aceh Tengah, dalam pelaksanaanya, turut kami lakukan sosialisasi kepada masyarakat dan kepada para Gamers, organisasi ini adalah untuk membina atlet, sampaikan dengan baik,” kata pria yang kerap disapa Wyra itu.

“Kami menghargai Fatwa MPU Aceh, sehingga dalam pelaksanaanya kami tiadakan yang namanya PUBG, yang bersifat kekerasan, untuk itu hanya ML Bang Bang dan PES yang dipertandingkan,” timpalnya sembari meminta MPU Aceh lebih mengkhusukan Fatwa yang berkaitan dengan Game online.

Atlet yang berhasil menang dalam kegiatan itu diharapkan menjadi corong sosialisasi kepada para masyarakat dan para pecinta Game yang ada di Kabupaten berhawa sejuk itu. Kehadiran Esport adalah untuk membina sehingga Aceh mampu bersaing ditingkat Nasional bahkan internasional.

“Di PON Papua ada delapan Game yang dipertandingkan, kita harus persiapkan diri, untuk itu kita lakukan pembinaan, bukan setelah menjadi atlet kita biarkan tanpa ada tanggung jawab selaku anak kepada orang tua, bukan begitu,” kata Wyra.

 “Kami dari ESI Aceh Tengah berharap, agar para atlet yang sudah mengikuti kejuaraan ini, agar melakukan sosialisasi dengan santun. Dan kami tegaskan, sampaikan dengan santun apabila menjawab berbagai isu negatif tentang esport,” tegas Win Y Rahman.

Selanjutnya kata Wyra, kegiatan E-sport menunggu hasil FGD ditingkat provinsi antara ESI Provinsi dengan seluruh stake holder terkait. (KG31)

Related posts