Pentingnya Jadikan Bahasa Gayo sebagai bahasa ibu Demi Menjaga Kelestarian

0

Suhardiman Asarga Linge

Seharusnya penggunaan bahasa disesuaikan dengan situasi dan kondisi, Bahasa Daerah biasanya digunakan saat berada di tengah keluarga, saudara, atau acara adat istiadat, atau antar sesama pemilik bahasa tersebut.

Demikian juga Bahasa Indonesia adalah Bahasa Negara yaitu Bahasa kesatuan bangsa Indonesia digunakan ketika berinteraksi dengan orang luar daerah atau dalam acara formal maka akan terjalin persatuan dan kesatuan. Sementara Bahasa Inggris merupakan Bahasa Internasional yaitu sebagai komunikasi dengan dunia internasional.

Disini saya akan mengulas sedikit masalah Bahasa berhubung karena saya sendiri asli suku Gayo  dan bernegarakan Indonesia. Bahasa daerah dataran tinggi Gayo yang saat ini sudah mulai punah secara perlahan. Banyak alasan yang menjadi pemicu atau penyebab kepunahan bahasa daerah tersebut, namun yang menjadi pertanyaan disini Apakah pentingnya kita mempertahankan bahasa daerah, dan bagaimana solusi agar bahasa Gayo tidak terancam dari gempuran kepunahan?

Perlu diketahui bahasa daerah merupakan lambang identitas suatu daerah maka dari itu masyarakat gayo harus tetap menjaga kelestarian bahasa daerah. Bahasa daerah memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan suatu daerah sehingga wajib dilestarikan agar tidak punah dimakan oleh kemajuan Zaman.

Namun bagaimana cara untuk melestarikan bahasa daerah? tentunya masyarakat setempat harus menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan logat dan cirri khas daerah tersebut.  Para orang tua atau pemuka agama harus bisa memberikan bimbingan kepada generasi muda untuk tetap menggunakan bahasa daerah yang sopan dan bertingkah laku yang baik dimanapun mereka berada.

Semua itu baik bahasa maupun budaya dan adat istiadat Gayo merupakan tanggung jawab  masyarakat gayo itu sendiri, untuk menjaga dan melestarikannya dengan baik untuk generasi yang akan datang.

Sebelumnya dalam media ini saya juga pernah menulis tentang “gempuran perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terhadap budaya gayo” contohnya adalah televisi. Banyak masyarakat yang menirukan perkembangan dari sinetron dalam acara televisi, sehingga bahasa daerah ada yang di ubah-ubah dan ada juga yang di kurangi maupun ditambah pengucapanya.

Saat ini banyak kita dengar bahasa daerah di campur dengan bahasa yang didapat dari sinetron yang ditayangkan di televisi sehingga terdengar janggal. salah satu contohnya sekarang ini banyak para remaja dan juga anak-anak yang menggunakan bahasa pergaulan yang sangat tidak penting untuk diikuti oleh generasi muda karena bahasa. Sementara itu pergaulan akan berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman penggunanya mengikuti trend atau mode akan tetapi tidak ada gunanya.

Satu lagi yaitu kesenian daerah gayo yang disebut “didong”, belakangan  ada yang menggunakan bahasa luar daerah pada kesenian  didong.  Padahal, sudah jelas kesenian didong itu adalah milik suku Gayo tapi kenapa beberapa para seniman khususnya ceh didong banyak menyanyikan lagu didong dalam bahasa Aceh, dan juga bahasa Jawa.

Saya pribadi bertanya-tanya apakah didong itu memang dibuat bebas untuk menggunakan bahasa? saya rasa tidak! Karena didong adalah kesenian suku gayo. Didong sendiri  dulunya didong ini digunakan sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan dakwah khususnya bagi masyarakat gayo.

Maksud saya disini marilah kita menjaga ciri khas budaya gayo karena kesenian didong itu adalah milik suku gayo. Kesenian didong itu adalah merupakan salah satu alat untuk menyampaikan inspirasi berupa dakwah bagi masyarakat gayo.  lain halnya jika menggunakan bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia merupakan bahasa Negara yang juga wajib kita jaga kelestariannya sesuai undang-undang dasar 1945, tertulis bahasa Negara ialah bahasa Indonesia. Bahkan isi sumpah pemuda 28 oktober 1928 juga menyatakan: kami putra putri Indonesia, menjujung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Di Indonesia, bahasa daerah secara hukum relatif terlindungi, ada dua kekuatan yang memayungi exsitensi bahasa daerah, dalam UUD 1945 pasal 36 disebutkan, Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah yang masih digunakan penuturannya. Bahasa tersebut merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup. Lalu Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang otonomi daerah bahwa pemerintah dan pemerintah provinsi wajib melakukan pembinaan bahasa daerah.

Dengan demikian, sebaiknya kita bersama-sama mengembangkan bahasa daerah menjadi bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga bahasa gayo akan tetap terjaga dengan baik kelestariannya, selain itu bahasa daerah adalah merupakan bahasa sejarah yang wajib untuk di hormati oleh generasi muda sampai pada masa-masa yang akan datang.

Suhardiman Asarga Linge

Komentar Anda
SHARE