Partisipasi Ekonomi Perempuan Kurang dari 25 Persen

JAKARTA: Tingkat partisipasi ekonomi perempuan masih rendah yaitu 15-25 persen, meskipun perempuan mengisi 70 persen dari tuntutan konsumsi. Kondisi ini terjadi karena beragam faktor di antaranya karena tantangan mencapai kesetaraan jender di dunia kerja yang masih terjadi. “Bisa bersumber dari internal penyedia pekerjaan karena kebijakan yang tidak sensitif jender maupun faktor eksternal dalam bentuk norma dan pandangan yang cenderung mensubordinasi perempuan,” kata Suyono Reksoprojo, Board Indonesia Coalition Business for Women Emporment (IBCWE) membacakan sambutan pendiri dan Ketua Dewan Pembina IBCWE, Shinta Widjaja Kamdani saat Graduation Journalist Short Course Kesetaraan Gender di Dunia Kerja, Kamis (7/12) malam di Jakarta.
Suyono melanjutkan, rendahnya partisipasi ekonomi perempuan terjadi karena perusahaan tidak menyediakan fasilitas yang mendukung perempuan untuk berkembang. Padahal data MSCI World Index 2016 menunjukkan perusahaan dengan kepemimpinan perempuan yang dominan, memperoleh laba bersih (return on equity) 10,1 persen setiap tahun,dibandingkan perusahaan tanpa kepemimpinan perempuan, yang laba bersihnya berkisar 7,4 persen.

Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif IBCWE menambahkan sektor privat menyediakan sembilan dari sepuluh kesempatan kerja yang tersedia di negara-negara berkembang. “Namun jumlah perempuan yang berpartisipasi di dunia, kerja, di sektor formal secara global, kurang dari 50 persen,” ujarnya.

Mengutip laporan Organisasi Buruh Dunia atau International Labor Organization (ILO). ILO, Dini menyampaikan kesempatan perempuan berpartisipasi di pasar tenaga kerja sektor formal 27 persen lebih rendah dari laki-laki.

Ia juga menyoroti adanya tantangan lain seperti keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat manajemen menengah hingga tingkat board, dan perbedaan penghasilan antara pekerja perempuan dan laki-laki. Karena merasakan masih adanya ketimpangan kesempatan itu makan IBCWE berupaya mendorong terwujudnya kesetaraan gender di dunia kerja melalui berbagai kegiatan,dan kerjasama dengan mitra-mitra.

IBCWE berharap bisa berkontribusi secara riil dengan mengambil peran langsung dan terjun ke publik. “Meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya isu kesetaraan gender merupakan salah satu fokus dari IBCWE. Dan salah satunya adalah melalui media tradisional maupun digital yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujar Dini menegaskan.

Sementara itu Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Abdul Manan periode 2017-2020 mengatakan banyak fakta yang mengindikasikan bahwa kesetaraan gender menjadi salah satu soal yang perlu mendapatkan perhatian besar media, meski tak bisa dipungkiri ada sejumlah kemajuan yang bisa dicatat.

“Kita masih juga kerap mendengar praktik ketidaksetaraan yang juga masih banyak terjadi,” ujarnya.

Salah satu bentuk diskriminasi di tempat kerja adalah dengan tak memposisikan perempuan sebagai pencari nafkah utama seperti halnya laki-laki. Perbedaan perlakuan ini berdampak akses, kesempatan lebih luas pada leadership perempuan tapi juga terjadi diskriminasi dalam hal pengupahan. Akibatnya, perempuan kerap tak mendapatkan tunjangan untuk suami dan anaknya. Padahal, jika laki-laki berkeluarga bekerja, ia mendapatkan tunjangan untuk istri dan anaknya.

“Karena itu penting membekali jurnalis pemahaman soal kesetaraan gender agar dapat mengali ketimpangan jender yang masih terjadi,” ujarnya.Karena itu IBCWE bekerja sama dengan Sekolah Jurnalisme AJI menggelar Short Course Kesetaraan Gender di Dunia Kerja selama bulan Oktober hingga November. Training ini melibatkan 17 jurnalis yaitu dari Republika, VIVA.co.id, satuharapan.com, RRI, Tempo, CNN TV, KBR, Detik.com, Tirto.id, Merdeka.com, RTV, Suara.com, Femina, Metrotvnews, dan Koran Jakarta. Seluruh peserta diseleksi melalui usulan proposal dan wawancara.

Sejak pertengahan September hingga akhir November, sebanyak 10x pertemuan dilakukan di dalam ruangan dengan pemateri yang kompeten dengan isu yang diusung. Peserta short course juga menyelesaikan kelasnya dengan membuat karya jurnalistik yang ditayangkan di media masing-masing, dengan bimbingan dua orang mentor, Ati Nurbaiti dari The Jakarta Post dan Ging Ginanjar dari BBC.

Tema yang diangkat beragam, mulai dari cuti ayah yang memberi dampak positif pada produktivitas pekerja di perusahaan dan relasi kerja, turbulensi profesi pramugari maskapai penerbangan hingga dinamika relasi pekerja rumah tangga dengan pihak penyedia kerja dan pembuat aturan dan perjuangan perempuan-perempuan yang berkiprah di dunia yang dinominasi laki-laki.

Seluruh peserta yang telah melalui gemblengan dan mentoring menyelesaikan short course mereka. Upacara wisuda diadakan untuk merayakan kelulusan peserta. Harapannya, para lulusan akan menjadi jurnalis yang memiliki perspektif yang sensitif gender dalam penulisan atau pembuatan karya jurnalistik mereka selanjutnya. Sehingga mimpi menciptakan dunia yang setara dan adil bagi perempuan dalam dunia kerja terwujud melalui proses yang dilakukan bersama.** (REL)

Komentar Anda
SHARE