Morip Mu -Ejes (Hidup Beradab dan Berperaturan)

BOH ENTI ARA MUTUKE LENGKONG - ENTI ARA WAN KEKIRE " JOLOK BENGKON"

Oleh: Dr. Joni MN, M.Pd.B.I **

Bertindak, bertutur kata ini melingkupi, yakni cara berpikir dan cara pandang terhadap objek. Dalam konteks ke-Gayoan term ini mereka tamsilkan dengan ungkapan “Peri bebulang – ike cerak keta gelah bepingang”. ” Peri” Maksudnya ‘berbicara yang formal dan tertentu’, sedangkan “cerak” Maknanya ‘berbicara lepas, tidak formal.

Kedua tindakkan yang diwujudkan dengan dua ungkapan tersebut di atas ditilik berdasarkan norma adat Gayo, dua-duanya dianjurkan (1) “bebulang” maksudnya; diusahakan harus bernilai lsi ibadah dan tidak saling singgung – menyinggung satu dengan lainnya, sedangkan (2) “bepingang”, maknanya juga masih dalam lingkup menutupi aib di ri dan orang lain, selanjutnya harus sopan, kalau peri di atas anjurannya ialah santun.

Kedua unsur norma adat Gayo di atas jika didekatkan dengan kajian filsafat etika khususnya pada kajian tata cara berkomunikasi bahwa dianjurkan segala tindakkan kita dan tata cara kita berinteraksi harus bernyawa positif, karena ke-positifannya dapat menciptakan aura dan energi positif juga kepada diri si penutur, mitra tuturnya dan juga dampaknya terhadap lingkungannya.

Jadi, positif dalam kajian ini adalah langkah pertama untuk menciptakan kebahagiaan dan menuju kesuksesan. Pola pikir positif ini harus diikuti dengan perbuatan positif. Sering, di saat-saat tertentu, pikiran positif sering kali hilang dan kalah karena sipat egoisme, sirik, kedengkian, keserakahan, almarah dan ketidak- mampuan dalam menghadapi kesedihan tidak jarang ini timbul karena kesulitan hidup, karena selalu negatif; Akhirnya orang ini mengukur kebaikan orang dengan kejelekan yang dia miliki.

Sering terjadi, akhir-akhir ini pikiran positif lenyap dan hilang dari dalam pikiran seorang yang mengaku bahwa aku beriman, ini terbit hanya karena sipat keserakahan, serakah bisa memiliki dan mendapatkan uang, harta, jabatan, dan serakah terhadap kepopuleritasan serta serakah terhadap pujian.

Sering demi unsur-unsur tersebut orang yang berniat baik pun dibilang tidak baik, dan bahkan dijelek-jelekan lagi lepada orang lain, dia terus berpikir menemukan cara bagaimana agar orang tidak lagi dipercaya sama orang lain, sehingga dia membangun gosip, yakni orang itu tidak tau apa-apa, dan hal-hal yang memjatuhkan prestise orang yang dia anggap sebagai orang yang menghambat maksud serakahnya.

Pikiran orang itu kepada orang yang dianggap menghalang-halanginya selalu negatif dan dia tidak pernah senang sama orang yang berniat baik, menyuruh orang untuk membantu dia mengerjakan sesuatu dengan cara tinggi hati ” Jis & Jengkat”…. Orang dahulu mengatakan “nantin tuahmu”!!!,

Orang yang berpikiran positif dan berniat tulus dan yang bertujuan baik, yakni, memperbaiki norma-norma adab yang rusak, tetapi orang itu selalu dipinggirkan oleh orang yang berpikiran negatif,. Orang tersebut bisa membuat orang percaya kepada dia, karena sangat pandai bermain peran, segala peran bisa ia mainkan demi mendapatkan maksud lawamahnya tersebut.

Orang semacam ini adalah orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan pulus dan.demi mendengar impian bernilai pujian. Gara-gara tujuan tersebutlah, dia senang mengadu domba antar satu dengan lainya, di Gayo disebut dengan perilaku “Musang Polut”, yakni orang semacam ini selalu membenci orang yang membenarkan kesalahannya dan selalu curiga kepada orang yang berbuat baik.

*Penulis adalah Kepala Bidang Penelitian, Pengkajian dan Pendidikan MAG Aceh Tengah, juga Dosen STIT Al Washliyah Takengon

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!