Mirisnya Perkembangan Sepak Bola Aceh Tengah

0

Oleh : Almer Agung Islami SH –

Mati surinya olahraga cabang sepak bola di Kabupaten Aceh Tengah, kini dalam kondisi yang kritis, karena, dari pemerintah sendiri tidak peduli bagaimana meningkatkan persepakbolaan. terlihat pemerintah menutup diri dalam mengadakan even-even turnament sepak bola, contoh kecil pada saat HUT Kemerdekaan Indonesia tahun ini yang masih tidak jelas keberadaannya apakah nantinya akan diadakan.

Kemudian disisi lain pemerintah tidak proaktif dalam perkembangan persepakbolaan Aceh Tengah dilihat dari tidak adanya program pembinaan jangka panjang untuk atlit usia dini. Mungkin pemerintah kita sekarang tidak peduli lagi dengan cabang olah raga sepak bola. Bisa jadi, pemerintah hanya perduli dengan even-even yang hanya bersifat seremonial belaka, yang hanya mempunyai nilai kemanfaatan yang sedikit, atau hanya untuk menghabiskan anggaran untuk dijadikan laporan di dinas terkait dengan mengacuhkan pentingnya cabang olahraga bukan hanya sepak bola.

Kebobrokan pemerintah lainnya ketika pegelaran Liga Nusantara di Kabupaten Gayo Lues, sangat disayangkan pada perwakilan dari Aceh Tengah mendatangkan pemain dari luar, padahal untuk keberangkatan pemain liga nusantara tersebut sudah dilaksanakan seleksi untuk pemain putra daerah, namun pada akhirnya pemain yang sudah di seleksi tersebut, tidak diberangkatkan dengan alasan yang tidak jelas, akibatnya pemain asli daerah saat ini seperti mati bakat. Anehnya lagi, pemain yang didatangkan dari luar tersebut yang katanya lihai dan pandai dalam mengocek bola yang bisa mengharumkan daerah, tidak pernah sekalipun menuai kemenangan, sebenarnya ini ada apa?.

Di sisi lain hingga kini, pergelaran sepak bola sangat jarang dilaksanakan, even turnament sepak bola yang rutinitas dilaksanakan pada HUT Kemerdakaan, pada tahun ini juga ditiadakan dengan adanya isu yang beredar bahwa tidak mendapatkan izin oleh pihak keamanan, karena disebabkan adanya keributan pada even sepak bola dalam HUT Kota Takengon yang ke-440, (kebenaran isu ini tentunya  masih perlu dipertanyakan kebenarannya) Sehingga pihak keamanan dalam hal ini pihak kepolisian tidak memberikan restu untuk digelarnya even sepak bola, padahal even-even lainnya yang bahkan lebih besar menimbulkan keributan, hingga sampai adanya korban luka, seperti di even pacuan kuda, masih bisa diberikan izin.

Jika dilihat dengan seksama, sekelas even pacuan kuda yang juga kegiatan rutinitas setiap tahunnya, lebih besar intensitas gejolak yang ditimbulkan, seperti adanya penikaman dan perkelahian bahkan yang lebih patalnya lagi, dijadikan ajang perjudian yang tentu sudah terang benderang melanggar ketentuan hukum yang berlaku, apalagi di Aceh negeri yang penuh syariat.

Di sisi lain, juga beredar isu even sepak bola ini tidak lagi dilanjutkan pada HUT RI karena, anggaran untuk HUT RI ke-72 khusus untuk bola kaki, diduga sudah dialihkan ke even-even lainnya oleh pemerintah kabupaten dalam hal ini Disparpora Kabupaten Aceh Tengah.

Mungkin olahraga di Aceh Tengah tidak dianggap populer lebih khusus cabang sepak bola. Padahal beberapa tahun yang lalu, pelaksanaan even turnament sepak bola diadakan sangat antusias oleh pemerintah, bahkan diadakan seleksi di tingkat kecamatan, untuk merangkum klub sepak bola yang terbaik dan bertanding pada HUT kemerdekaan Indonesia ditingkat Kabupaten.

Perlu diketahui sepak bola sudah menjadi bagian dari kegiatan budaya yang seharusnya rutin dilaksanakan, karena cabang olahraga sepak bola sampai kini masih menjadi olahraga nomor satu di dunia, dengan peminat terbanyak dan pendukung fanatik terbesar di dunia.

Tentu dengan adanya turnamen pada HUT 72, bisa menggairahkan kembali persepak bolaan di kabupaten Aceh Tengah. Sehingga akan melahirkan bibit-bibit baru calon pesepak bola, yang kini kabupaten Aceh Tengah masih nihil dan kekurangan daya dalam kualitas dari pemain itu sendiri.

Saya mempertanyakan dimana kendala kenapa bisa sepak bola tidak lagi dilaksanakan pada acara resmi seperti menjelang HUT kemerdekaan Indonesia. Jika dua isu tersebut yang menjadi kendala, tentu sangat naif apa yang dilakukan oleh Disparpora, bahkan cendrung mencinderai hati pemain-pemain sepak bola yang ada di Kabupaten berhawa sejuk ini.

Untuk itu, jika Disparpora Kabupaten Aceh Tengah, tidak becus dalam meningkatkan gejolak untuk berolah raga  bagi warga Aceh tengah, lebih baik buat saja acara yang bersifat seremonial belaka, yang pemenangnya hanya ditempel pada spanduk-spanduk di persimpangan jalan, dengan tidak memiliki manfaat bagi masyarakat, yang hanya menghabiskan uang negara.

Jika masalah seremonial belaka yang menjadi fokus utama pemangku kebijakan dan penyelenggara negara, sangat perlu dipertanyakan kapasitas yang dimiliki oleh pihak-pihak yang bersentuhan langsung dengan masalah olahraga di Kabupaten Aceh Tengah.

*Pemerhati Sepak Bola Aceh Tengah beralamat Asir-Asir.

Komentar Anda
SHARE