Menjadi Pemilih Cerdas adalah  Solusi Mencari Pemimpin yang Berkualitas  

0

cerdasHari Pencoblosan untuk pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur  begitu juga dengan Bupati dan Wakil Bupati di Aceh tinggal menunggu hari. Tentunya kita semua  berharap, melalui Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah  tersebut, kita akan   memperoleh pemimpin daerah yang berkwalitas, yang mampu mewujudkan pemimpin yang amanah. Harapan besar akan lahir pemimpin yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pelayanan umum dan meningkatkan daya saing daerah adalah harapan rakyat banyak.

Untuk mewujudkannya memang tidak mudah, diperlukan pemimpin yang berkualitas, yang mampu menggerakan seluruh elemen masyarakat, untuk menggali semua potensi yang ada di daerah, guna dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat banyak. Untuk mendapatkan seorang pemimpin yang benar-benar berkualitas dalam Pemilukada langsung tentunya kita harus menggunakan hak pilih kita untuk memilih.

Masalahnya, dengan berbagai pilihan yang ada dengan kandidat yang mengucapkan segudang janji-janji, acapkali kita seringkali ragu dengan kandidat yang hendak kita pilh.  Hal tersebut sebenarnya mengisyaratkan percampuran berbagai kondisi psikologis masyarakat, antara kepedulian untuk ikut Pemilukada, apatisme, dan ketiadaan harapan untuk masa depan pasca-Pemilukada. Pesimisme masa depan dan janji kampanye yang sekadar isapan jempol akhirnya mendorong pemilih menjadi pragmatis. Belum lagi adanya anggapan, siapa pun yang berkuasa tidak akan mampu melakukan perubahan signifikan.

Dalam ilmu politik, perilaku pemilih (political behaviour) merupakan kajian dengan wilayah studi tersendiri. Dalam Pemilukada, para ahli mengelompokan  beberapa kategori, yakni kelompok pertama menentukan pilihannya karena kesamaan ideologi dengan kandidat. Kategori pemilih Kedua, memilih berdasarkan pada afiliasi partai politik. Kandidat yang didukung partai politik pilihannya, kepada dialah pilihan dijatuhkan. Pemilih kategori ketiga, memilih berdasarkan kesamaan etnisitas.

Categori pemilihan keempat adalah memilih berdasarkan pada pragmatisme politik. Pragmatisme ini bisa muncul karena banyak hal, seperti politik uang, kedekatan dengan kandidat, dan sebagainya, kategori pemilih yang terakhir adalah memilih berdasarkan program dan integritas kandidat. Pemilih kategori ini adalah pemilih rasional.

Dalam alam demokrasi Pemilukada merupakan prasyarat utama dan tanda utama apakah demokrasi terjadi atau tidak. Pemilukada adalah ruang untuk menunjukkan keberkuasaan rakyat atas calon pemimpin yang mereka pilih. Melalui proses pemilihan itu, rakyat menyerahkan sebagian kedaulatannya kepada pemimpin mereka. Pemilukada juga merupakan pembeda antara

demokrasi dan nondemokrasi, dalam proses pemilihan maupun bentuk pertanggungjawaban kepada publik. Dengan Pemilukada rakyat bisa menuntut pertanggungjawaban atas kinerja sebuah pemerintahan yang berujung pada apakah ia masih layak dipilih lagi atau tidak.

Kemudian, bagaimana masyarakat memilih dengan cerdas sehingga melahirkan pemimpin yang berkualitas? Memilih dengan cerdas, berarti memilih dengan menggunakan akal sehat dan hati nurani. Memilih dengan akal sehat, berarti kita memilih dengan menggunakan penilaian yang objektif, tanpa dipengaruhi oleh faktor uang, hubungan kekerabatan, suku, daerah, agama, dll. Memilih dengan hati nurani, berarti kita harus melihat dengan hati nurani kita, siapa sebenarnya calon yang akan kita pilih, bagaimana kualitas moralnya, kualitas intelektualnya dan keterampilan profesional yang dimilikinya.

 Untuk menjadi  pemilih cerdas kita harus  mengenali calon sebelum menentukan pilihan, dengan cara menyelusuri riwayat hidup sang calon dan partai politik yang mengusungnya, dalam hal ini termasuk latar belakang pendidikan, pekerjaan, aktifitas dalam masyarakat, dan juga pribadi yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari di  masyarakat. Acapkali demi pencitraan seringkali para calon membuat riwayat hidupnya begitu lengkap dan dan meyakinkan. Nah, disinilah diperlukan kecermatan dan kecerdasan pemilih untuk menilai riwayat hidup tersebut, melalui berbagai cara yang dimungkinkan.

Sebagai pemilih cerdas, kita juga harus mengetahui visi, misi dan program para kandidat, visi  merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita atau impian seorang calon yang ingin dicapai ketika terpilih nantinya. Sedangkan, sebuah visi yang baik adalah dapat dibayangkan, menarik, realistis atau dapat dicapai, jelas, aspiratif dan responsif terhadap perubahan lingkun­gan, serta mudah dipahami. Para Pemilih dan masyarakat dapat mengetahui visi calon dapat dicermati melalui kampanye maupun pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh calon.

Sementara Misi adalah lanjutan dari visi. Sebenarnya misi adalah alasan mendasar eksistensi dari visi, yang telah mengarahkan secara tegas calon menuju suatu tujuan yang secara teknis dapat dijabarkan ke dalam program-program. Harus terdapat korelasi antara visi, misi, dan program. Misi berada ditempat strategis, sebab secara filosofis mesti bisa menterjemahkan visi dan mampu diimplemantasikan ke dalam program secara teknis. Hubungan visi, misi dan program dapat menjadi tolak ukur dalam melihat kapasitas para kandidat.

Begitu juga dengan program yang ditawarkan oleh para kandidat, program yang baik seharusnya adalah penterjemahan secara teknis dari visi dan misi. Para kandidat kerap mengemas program yang mereka tawarkan terdengar sangat baik atau terlihat sempurna. Disinilah pemilih harus cerdas dan dapat menilai apakah program-program tersebut realistis,terutama jika dilihat  kemam­puan para calon, apakah menyentuh persoalan-persoalan yang dihadapi para pemilih dan masyarakat, dan apakah benar-benar dirancang dengan suatu pemikiran yang komprehensif.

Kesadaran pemilih tentang perlunya mencermati secara cerdas para kandidat adalah kunci utama terpilihnya pemimpin yang akan bisa mengatasi persoalan rakyat. Hal inilah yang seharusnya terus ditumbuhkan oleh para masyarakat.“Masyarakat harus sadar bahwa Pemilukada adalah adalah persoalan penentuan orang yang nantinya akan menentukan nasib masyarakat itu sendiri. Tanpa bekerjanya prinsip-prinsip demokrasi maka pemilu sama saja dengan “buang-buang uang” untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. (RED)

Referensi: Daim Ichsany, SH, Menjadi Pemilih yang Cerdas dan Berkualitas

 

Komentar Anda
SHARE