Menapaki Jalan Pulang (Refleksi Diri dalam Dekapan Bulan Suci Ramadhan)

Oleh : Dr. Zulkarnain, M.Ag (Rektor IAIN Takengon)

Ramadhan merupakan salah satu bulan istimewa yang disiapkan Allah untuk para hamba-Nya. Bulan Ramadhan selalu membentang selama 30 atau 29 hari lamanya, bulan Ramadhan hadir pada setiap tahun hitungan bulan Hijriyah. Dalam ruang dan waktu selama bulan Ramadhan para hamba (manusia) beriman, rela dan bersuka cita menjalankan “syari’at Ramadhan” seperi berpuasa pada siang hari, melaksanakan ibadah tarawih serta ibadah lainnya pada malam hari.

Read More

Berpuasa merupakan bagian lakon ritualitas, perintah dari sang Khalik kepada makhluk manusia sejak manusia tersebut hadir dan mengisi peradaban bumi. (berpuasalah sebagaiamana manusia sebelum kamu berpuasa). Bagi umat muslim berpuasa wajib dilaksanakan dalam bulan Ramadhan. Syari’at Ramadhan, sebagai akitivitas ‘ubudiyah yang terbaik, tentu sebagaimana telah dituntun oleh Rasul Allah Muhammad Shallahi ‘alihi wa sallam, tuntunan tersebut telah termuat dalam berbagai kitab hadits yang muktabar, secara khusus membahas bab shiyam (puasa wajib atapun puasa sunat). Serta diurai oleh para fuqaha dalam kitab-kitab fiqh.

Ibadah puasa sebagai salah satu rukun Islam, dipahami sebagai ibadah siriyah (benar-benar berpuasa yang tau pelakunya dan Allah berserta para malaikatnya). Dalam sejumlah nukilan (hadits Qudsi) “puasa itu untuk KU (Allah ingatkan) maka Akulah yang memberi ganjaran pahalanya”. Sekaitan ini maka manusia berpuasa didorong untuk melakukan puasa yang terbaik, bukan hanya menahan hal-hal yang membatalkan ibadah puasa, tetapi betul-betul mengedalikan diri untuk berfokus kepada Allah Rabbul Alamin, (berupaya mentransformasi diri berpuasa awammenjadi diri berupuasa khawash).

Orentasi berpuasa diiringi upaya transformasi yang demikian itu, diharapkan tepat guna dalam memperkuat kualitas diri bertaqwa, karena ibadah puasa berproses menuju peningkatan derajat diri dihadapan sang Khalik, disebabkan ibadah puasa yang mengantarkan diri pada kualitas tazkiyatun nafs, (mensucikan jiwa); Taqrrub ila Allah,(selalu berupaya dekat kepada Allah); akhlaqul karimah, (berakhlak mulia); ilmu yaqien-‘ainal yaqien, (kualitas keilmuan hakiki); dan sa’adah wal falah, (berbahagiadan sejahtera baik dalam konteks duniawi maupun ukhrawi).

Upaya insani memperkuat kualitas sebagaimana disebutkan di atas, sangat diharapkan dapat diperoleh melalui dekapan bulan suci Ramadhan (padanya ada nuzul Qur’an, lailatul Qadar dan zakat fithrah). Karena pada hakekatnya dalam atmosfir kualitas itulah setiap diri berharap (senandung do’a) menutup lembaran kehidupannya di dunia fana ini (husnul khatimah).

Rentang kehidupan diri sampai saat ini (Ramadhan 1443 H), mungkin telah melewati 40 bahkan 60 kali bertemu dan menjalankan ibadah Ramadhan. Kesadaran kolektif diri, dalam hitungan berapa puluh kalipun setiap diri telah bertemu bulan Ramadhan, pada prinsipnya itulah hitungan usia diri menapaki jalan pulang, jalan pulang menuju sang Khalik. Setiap diri berharap sang khalik menerimanya dalam kondisi jiwa yang suci lagi tenang (muthmainnah), berbahagia karena disiapkan tempat mulia (syurga), bersuka cita karena bertatap pandang dengan Dzat maha Kuasa. Semoga Allah memberi kesempatan Ramadhan tahun depan mendekap setiap diri. **

Related posts