Masa “Pak Nas” Delapan WTP Dua Adipura dan Penghargaan Bagi Penghafal Al Qur’an

TAKENGON: Setelah memimpin Aceh Tengah selama 12 tahun, Masa kepemimpinan Ir H Nasaruddin MM sebagai Bupati Aceh Tengah akan segera berakhir pada penghujung Desember 2017 ini. Tentunya menjadi  orang nomor satu di Kabupaten penghasil kopi ini bukanlah perkara yang mudah. Namun demikian di masa bupati yang akrab disapa “Pak Nas” ini harus diakui Aceh Tengah mendapat sederet prestasi bergengsi yang telah di raih.

Dalam rentang dibawah kepimpinan “Pak Nas”, berhasil meraih delapan kali Kabupaten meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Opini WTP yang diraih Aceh Tengah pertama sekali untuk tahun anggaran 2007, kemudian tahun 2008, 2009, 2010, 2012, 2014, 2015 dan terakhir yang kedelapan tahun anggaran 2016. Sementara itu, pada 2011 dan 2013, Kabupaten Aceh Tengah hanya mendapatkan predikat opini wajar dengan pengecualian.

Ketua BPK RI Perwakilan Aceh, Isman Rudi mengatakan pemberian opini WTP oleh BPK RI merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran laporan keuangan.“Pemeriksaan laporan keuangan bertujuan untuk memberikan opini kewajaran laporan keuangan secara profesional oleh pemeriksa, dengan memperhatikan kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan, efektifitas sistem pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

Selain delapan kali WTP, di masa “Pak Nas” Kabupaten yang berhawa sejuk ini juga berhasil meraih dua kali mendapatkan sertifikat Adipura, yakni pada tahun tahun 2016 dan 2017, penghargaan Adipura merupakan sebuah penghargaan yang diberikan pemerintah kepada kabupaten dan kota yang dinilai berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup.

Lain itu, dimasa “Pak Nas”, program Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Keluarga yang dicanangkan Bupati yang dikenal relejius ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Hal itu terbukti dengan diadopsinya MTQ Keluarga ke tingkat provinsi ada akan digelar se-Aceh pada 2018 mendatang.

Di Aceh Tengah Perhelatan penguatan Syariat Islam tersebut yang telah dilaksanakan tiga tahun berturut-turut sejak 2015. Digelarnya MTQ keluarga menurut “Pak Nas”, merupakan upaya mendorong masyarakat terutama bagi keluarga-keluarga untuk mempelajari dan mengamalkan Quran dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, katanya, hadiah atau penghargaan bukanlah tujuan utama dari musabaqah ini.

“Para keluarga yang terbaik ini nanti bisa menjadi contoh di tengah masyarakat, demikian juga Reje dan Imam menjadi panutan bagi warganya untuk mempelajari dan mengamalkan Quran dalam kehidupan sehari-hari,” sebut “Pak Nas”. Hadiah bagi para pemenang MTQ Keluarga ini sendiri adalah umroh ke tanah suci. Hadiah umrah ini sebagai bentuk penghargaan bagi warga yang sudah mempelajari Quran, baik membaca maupun menghapal. Semenjak diadakan puluhan pemenang telah diberangkatkan umroh. MTQ bagi Reje (Kepala Desa) dan Imam Kampung di Aceh Tengah juga dilaksanakan, Bagi yang keluar sebagai juara juga diberangkatkan umroh bersama isteri. Para penghafal Al Qur an juga diberikan hadiah Umroh.

“Pak Nas” memulai kariernya sebagai seorang Penyuluh Pertanian Spesialis (PPS) pada Dinas Pertanian Provinsi Daerah Istimewa Aceh Tahun 1982. Tahun 1984 diangkat sebagai Kasi Penyuluhan pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Barat, sejak masa ini kariernya terus menanjak, Tahun 1994 ditugaskan sebagai Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tenggara dan kemudian menjadi Asisten Administrasi dan Pembangunan Setdakab Aceh Tengah dari tahun 2000-2002 dan sempat menjabat Sekda Aceh Tengah 2002-2005 dan Tahun 2004-2006 dipercaya sebagai Pj. Bupati Aceh Tengah hingga lewat Pilkada ia berhasil meraih hati rakyat Aceh Tengah dan dilantik sebagai Bupati Aceh Tengah selama dua periode, yakni 2007-2012 dan 2012-2017.

“Pak Nas” dikenal sebagai sosok Kepala Daerah yang memiliki talenta multidimensional dan punya kharisma dan wibawa tersendiri dari caranya memimpin. Ia menyadari betul pentingnya sebuah kemampuan untuk bisa menempatkan diri dalam berbagai situasi, permasalahan, dan kendala yang dihadapi. Dari kesadaran ini, ia mampu menjadi sosok pemimpin yang relatif bisa menenangkan semua pihak. Baginya hubungan silaturrahmi dengan semua orang adalah satu hal yang harus dijunjung tinggi.

“Pak Nas” juga dianggap seorang pemimpin yang mampu yang sejalan memainkan peran ulama.Tak jarang, Nasaruddin, didaulat untuk menyampaikan dakwah Islamiyah-nya di berbagai kesempatan, seperti menjadi khatib pada khutbah Jum’at dan sebagai penceramah di acara-acara keagamaan seperti Maulid Nabi, Israq Miqraj, Safari Ramadhan, dan berbagai kesempatan lainnya. Ia juga memiliki jadwal rutin untuk melakukan pembinaan pengajian di desa-desa. Berbaur dan ikut mengaji bersama warga adalah satu hal tersendiri yang jarang dilewatkannya.

Lewat dedikasinya memimpin Aceh Tengah, Bupati yang juga menjabat sebagai Wakil Koordinator FKKA (Forum Koordinasi Pemerintahan Kabupaten/Kota Provinsi Aceh, 2014-2019) sendiri telah mendapatkan sederet penghargaan, diantaranya  Penghargaan Satya Lancana Karya Satya XX Tahun dari Presiden Republik Indonesia (2008), Penganugrahan Penghargaan Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden Republik Indonesia (2010), Penganugrahan Tanda Penghargaan Manggala Karya Kencana (MKK) oleh Presiden RI (2014) dan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan ini adalah kali pertama yang diterima kepala daerah asal Aceh dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas).

Sebagai manusia biasa dan sebagai Bupati Aceh Tengah, kata “Pak Nas”, ia memahami masih banyak hal yang belum sempurna dan ada sederet pekerjaan harus terus dibenahi namun sebagai pemimpin tentunya ia telah berbuat banyak demi kemajuan dan kemakmuran Kabupaten Aceh Tengah. (Arsadi Laksamana)

Komentar Anda
SHARE