Makna Kehidupan Ditinjau dari Sisi Prinsip “MEJES” dalam Norma Adat Gayo

  • Whatsapp

Oleh: Dr. Joni MN, M.Pd.B.I **

A. Fenomena dan Nomena

Read More

Setiap individu manusia memiliki hak priogratifnya untuk mempertahakan kehidupannya. Artinya, bentuk hidup yang dimaksud dalam konteks ini umum adalah masih sebatas bentuk kehidupan yang layak dan wajar berdasarkan cara pandang pribadi masing-masing. Karena kelayakan dan kewajaran yang diwujudkan saat ini banyak masih bagi pandangan orang lain bernilai tidak layak atau belum wajar.


Kebanyakan individu-individu pada era 4.0 (four piint zero) ini, menggunakan tolok ukur kelayakan hidup masih dipandang berdasarkan materialistis; harta, jabatan, life style (gaya hidup) dan posisi di pemerintahan dan lainnya yang bersipat kebendaan. Misal, demi mempertahankan, mendapatkan, popularitas  jabatan rela mereka menghadap dukun dan meyakininya, rela mereka mengorbankan diri menjadikan diri sebagai “Pak Turut (Hamka, 2014)”, gratifikasi, dan lain-lainnya. Yang sangat dan amat tidak wajar atau tidak layak jika ditinjau secara kemanusiaan adalah tindakkan menjatuhkan dan mejelek-jelekan orang, serta memfitnah orang yang dia anggap orang itu sebagai saingannya.


Jika berbicara tentang kehidupan menurut beberapa tokoh berikut, yakni: hidup yang bermakna adalah sesuatu yang menurut definisi telah mencapai tujuan yang layak-pilihan (Nielsen 1964) atau melibatkan kepuasan karena telah melakukannya (Hepburn 1965; Wohlgennant 1981). Maksud dari kata layak-pilihan yakni layak di kita juga layak pada orang (tampa harus merusak) dalam proses pencapaian kelayakan tersebut. Sedangkan, kepuasan dalam konteks ini tidak tertuju hanya kepada kepuasan pribadi semata dengan tidak memperdulikan hak-hak dan perasaan orang lain.


Apabila kita melihat acara televisi, mendengar siaran  radio, menilik manusia-manusia bergelar saat ini berdasarkan kebutuhan sudah selayak dan sewajarnya masyarakat menikmati keindahan, kenyaman dan ketenangan dalam hidup. Tetapi, apa yang terjadi; tetapi, kembali kepada siaran-siaran televisi dan media-media lainnya, malah oknum-oknum yang notabenenya bergelar tinggi, memiliki jabatan dan oknum-oknum lainya, malah mereka yang membangun isu provokasi, berita hoaks serta juga tindakkan ekstrim yang konon kelihatan mereka merupakan oknum-oknum dari otak-otak, merekalah lebih banyak  perusak tatanan sosial.


B. Mejes

Richard Taylor (1970, bab 18) tentang Sisyphus dapat memperoleh makna dalam hidupnya hanya dengan memiliki hasrat terkuatnya yang terpuaskan. Hasrat yang terpuaskan dalam komteks pembahasan Taylor ini tidak tertuju kepada pilihan layak materialis, tetapi lebih kepada nurani kolektif dan solidaritas sosial. 


“Mejes” merupakan norma dalam adat Gayo yang berbentuk falsafah (peri mestike), falsafah ini memiliki bentu petunjuk dan harapan, yang meliputi makna: (1) mutentu (pandai dan tau diri), (2) mukemel (malu jika tidak berbuat baik), (3) tertip (teratur, rapi, dan saling menghargai), (4) meninggalkan sumang dan tidak melakukan madu nibedet (segala sesuatu yang bertentangan dengan adat). Jika, dikajib detail, ” Mejes” Ini cukup luas maknanya.


Berdasarkan filosofi hidup “Mejes”, kondisi tertentu semacam ini yang patut dihargai atau dikagumi, sebab nilai-nilai yang menjamin peradaban, pengabdian dan cinta (keindahan), kualitas hidup bukan kuantitas sebagai tujuan tetapi lebih pada sesuatu yang membuat kehidupan dapat lebih bermanfaat untuk orang, mahluk lain dan alam sekitarnya, atau berakhir terlepas dari kesenangan dasar yang terutama yang membuat pilihan-layak di bidang materialistis. 


Konsep ” Mejes”  Melingkupi 2 unsur pemaknaan hidup, yakni (1) solidaritas sosial, dan (2) norma kolektif. Hal yang penting ini ternyata sudah terpapar dalam kitab suci (umat Islam) Al-Qur’an, sebagai berikut: 


Surah Al-Baqarah, ayat 177, di sini ALLAH  SWT menjelaskan kepada semua umat manusia, bahwa kebajikan itu bukanlah sekedar menghadap muka kepada suatu yang tentu, baik ke arah timur maupun ke arah barat, akan tetapi kebajikan yang sebenarnya adalah beriman kepada Allah dengan sesungguhnya, iman yang bersemayam di lubuk hati yang dapat menunjukkan kebenaran dan mencegah diri dari segala macam dorongan hawa nafsu dan kejahatan. Beriman kepada hari akhirat sebagai tujuan terakhir dari kehidupan dunia yang serba kurang dan fana. Beriman kepada semua nabi tanpa membedakan antara seorang nabi dengan nabi yang lain.


Berdasarkan  ayat di atas cukup jelas, yakni kewajaran dan kelayakan yang tertuju kepada materialistis ini lebih kepada kepuasan duniawi yang didominasi oleh bisikan-bisikan setan dan iblis. Karena jika adapun harta harus didapatkan dengan cara layak serta wajar kemudian dibelanjakan dengan cara yang layak pula.


C. Wajar dan Layak

Untuk mendapatkan kelayakan dan kewajaran banyak masih berorientasi kepada keduniawian. Jika fokusnya lebih kepada keduniawian, maka yang akan terjadi berteman dengan iblis, setan, dan perusak-perusak lainnya. Di sini materialistis menjadi tujuan utama kita, sehingga kita lebih sering meninggalkan nurani kolektif dan silidaritas sosial kita  (Mejes) yang sudah terbentuk sejak dahulu kala., yakni sejak orang Gayo itu ada.


1. Wajar: menurut KBBI (2014) yakni: menurut        keadaan yang ada; sebagaimana mestinya.     Misalnya: secara kemanusiaan dan       keyakinan (agama)’perlu dikembalikan      adat Gayo kepada proporsi dan profesional       (rues ku ines tungku ku pelu) yang wajar’


2. Layak: merujuk kepada KBBI (2014), yakni:      wajar; pantas; patut, mulia, dan terhormat.     Misalnya: ketika kita bermohon kepada      ALLAH SWT, lalu kita berdo’a, “Ya ALLAH       ‘berikanlah mereka kehidupan yang layak’


D. Penutup

Jadi, hidup yang bermakna yakni sesungguhnya kehidupan yang melembagakan Iman dan mensemayamkan iman di dalam lubuk hati yang diwujudkan dengan tindakkan dan perilaku yang sesuai dengan kefitrahan manusia yang sebenarnya manusia guna memanusiakan manusia yang lainnya. Kemudian, dalam mejalankan praktik berkehidupan baik sesama manusia, mahluk, dan alam sekitarnya dianjurkan harus ” Mejes”.


Hidup yang yang bermakna adalah hidup yang dapat menerapkan norma “Mejes” Yaitu memperlakukan manusia, hewan, dan mahluk lainya juga alam dengan wajar dan lebih layak. Praktik kehidupan yang mampu menjaga nilai dan norma manusia itu sendiri serta eksistensi alam juga lingkungannya adalah hidup yang memiliki (1) “mejes” Yang berlandaskan (2) konsef wajar dan (3) layak serta (4) kepantasan. 


Ke-empat konsep tersebut di atas sudah memperkuat dan malah lebih kuat dari tipelogi (1) solidaritas sosial, dan (2) naluri normatif.


*Penulis adalah Kepala Bidang Penelitian, Pengkajian dan Pendidikan MAG Aceh Tengah, juga Dosen STIT Al Washliyah Takengon

Related posts