LSM Kritik Kebijakan“window dressing” IndoAgri

0

Buruh pekerja di perkebunan kelapa sawit, (int)

LSM internasional mengkritik “window dressing” yang dilakukan perusahaan, menuntut adanya perbaikan dan aksi nyata untuk menyelesaikan eksploitasi pekerja, konflik hak atas tanah dan deforestasi di seluruh rantai operasional global Indofood.

JAKARTA: Rainforest Action Network (RAN), International Labor Rights Forum (ILRF), dan Organisasi Perjuangan dan Penguatan Untuk Kerakyatan (OPPUK) mengkritisi “Kebijakan Kelapa Sawit” terbaru yang dikeluarkan oleh IndoAgri, anak perusahaan makanan raksasa Indonesia Indofood, yang menjadi mitra utama PepsiCo. IndoAgri, dan perusahaan induknya Indofood, telah mengalami banyak terjangan tahun lalu, setelah ditemukan adanya eksploitasi pekerja anak yang terungkap di salah satu perkebunan mereka di Sumatra Utara, Indonesia.

Dirilisnya kebijakan kelapa sawit ini dilihat sebagai langkah pertama IndoAgri untuk meredam konflik, tapi beberapa LSM menemukan adanya kelemahan yang terdapat pada kebijakan terbaru perusahaan tersebut. Ini berarti bahwa usaha IndoAgri untuk merespon pelanggaran yang tercatat diseluruh kegiatan operasinya telah gagal. Kebijakan baru ini masih terdapat celah untuk terjadinya deforestasi, pelepasan emisi karbon dalam skala besar dan pelanggaran hak asasi manusia––meninggalkan pertanyaan pada reputasi PepsiCo sebagai mitra bisnis mereka, pada waktu yang sama ketika PepsiCo mengumumkan nilai keuntungan laba kuartal yang besar kepada investor.

“Bentuk window dressing seperti ini tidak akan mengelabui pelanggan IndoAgri, pemodal ataupun LSM yang telah berkomitmen untuk memegang teguh akuntabilitas perusahaan yang berdampak pada pekerja, masyarakat, dan lingkungan kita.” ujar Robin Averbeck, juru kampanye senior RAN.

Pada akhir 2016, PepsiCo, Nestle, dan Wilmar disebut sebagai mitra usaha bersama Indofood dalam laporan, “Harga Manusia untuk Kelapa Sawit Berkonflik: Kaitan Terselubung Indofood, PepsiCo’s pada Eksploitasi Pekerja di Indonesia,” yang mengungkap catatan kasus-kasus eksploitasi pekerja anak di perkebunan milik Indofood Sumatra Utara, Indonesia.

“Para pekerja perkebunan IndoAgri terus mengalami banyak pelanggaran atas perlindungan tenaga kerja, termasuk bekerja di bawah sistem upah yang tidak adil ketika pekerja harus mencapai target yang sangat tinggi untuk mendapatkan penghasilan yang sangat rendah. Sistem ini menciptakan kelas pekerja kasat mata yang tidak mendapatkan manfaat apapun dan hanya mendapatkan upah berupa kemiskinan. IndoArgi harus berusaha segera mengambil tindakan transparan untuk mengatasi catatan eksploitasi pekerja perkebunan kelapa sawit miliknya di Indonesia,” ungkap Herwin Nasution, Direktur Eksekutif OPPUK.

“Salah satu kesalahan kritis yang terdapat di kebijakan terbaru IndoAgri adalah kegagalan untuk mengadopsi mekanisme keluhan yang dapat dipercaya, yang sejalan dengan standar internasional yang ditetapkan dalam Prinsip-prinsip Bisnis dan Hak Asasi Manusia PBB”, tutur Eric Gottwald, Direktur Legal dan Kebijakan Senior ILRF. “IndoAgri malah hanya membuat komitmen tidak jelas yang akan memungkinkan perusahaan untuk memilih dan menentukan mekanisme keluhan mana yang akan digunakan.

Kebijakan ini dilihat sebagai usaha terakhir yang dilakukan oleh IndoArgi untuk meredam kritik setelahkeluhan formal diajukan untuk menghentikan aktivitas dua anak perusahaan perkebunan sawit Indofood––PT. PP London Sumatra Indonesia Tbk. (Lonsum) dan PT. Salim Ivomas Pratama Tbk. (Salim Ivomas)––dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) atas pelanggaran hak-hak pekerja yang menyalahi sistem standar sertifikasi dan hukum Indonesia. Baik IndoAgri maupun Indofood, belum mengakui atau mengatasi pelanggaran yang sudah tercatat.

“Sinyal kebijakan ini membungkus pendekatan ‘bisnis seperti biasa’ bagi IndoAgri dan mitranya PepsiCo, yang akan terus mengambil keuntungan terhadap pengorbanan hutan hujan Indonesia dan hak atas penduduknya,” kata Averbeck. “PepsiCo mungkin memberikan sinyal keuntungan yang tinggi kepada para investornya hari ini, namun kaitan perusahaan ini dengan pelanggaran hak asasi manusia dan deforestasi atas Kelapa Sawit Bermasalah akan terus menodai reputasi perusahaan dan akan menimbulkan risiko besar bagi investor. Penting bagi para pemodal dan investor PepsiCo dan Indofood untuk tetap akuntabel, meminta Indofood untuk bertindak transparan dalam menangani dampak buruk perusahaan mereka terhadap manusia dan bumi dengan memperbaiki kekurangan yang terdapat dalam kebijakan terbarunya.”

Pemodal dari Indofood terdiri dari: Citibank yang berbasis di Amerika Serikat, Bank Eropa HSBC, Rabobank, Standard Chartered, BNP Paribas dan Deutsche Bank; termasuk bank Jepang Grup Keuangan Sumitomo Mitsui, Bank Mizuho dan Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ.(REL)

Komentar Anda
SHARE