Langkah Shabela Optimalkan CSR Untuk Pembangunan Aceh Tengah

Pimpinan Bank BRI Cabang Takengon, Muhammad Alfi Syahrin bersama Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar didampingi Kadis Distransnaker, Kautsarsyah tandatangani MoU bersama optimasi penyaluran dana CSR, Senin (30/9/2019) di gedung Ummi.

TAKENGON: Dalam proses pembangunan, peran sektor swasta mempunyai andil besar. Sinergisitas antara pemerintah dengan swasta akan berdampak pada lajunya pembangunan. Inilah yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dengan mengandeng sedikitnya 40 perusahaan dan perseroan dalam rangka memacu pembangunan kabupaten penghasil kopi arabika itu.

Melalui Peraturan Bupati (PERBUB) Nomor 9 Tahun 2019  Perusahaan  yang beroperasi di Aceh Tengah diajak untuk ikut andil dalam pembangunan melalui penyaluran Corporate Social Responsibility (CSR) dan menyelaraskannya dengan visi dan misi Pemerintah Daerah.

Komitmen bersama ini dituangkan dalam penandatangan MoU antara Pemerintah Aceh Tengah dengan perusahaan di Aceh Tengah. Enam perusahaan mewakili puluhan perusahaan yang ada di Aceh Tengah melakukan penandatangan MoU itu, yakni Bank BRI Cabang Takengon, Pimpinan Bank Aceh Sariyah Cabang Takengon, PLN (Persero) Rayon Takengon, PLN (Persero)  UIP I UPK Kitsum 5,  Hotel Bayu Hill dan Tusam Hutani Lestari (THL).

Komitmen ini menurut Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar merupakan optimalisasi program pembangunan sesuai visi dan misi Aceh Tengah.

 
CSR adalah tanggung-jawab moral dan sosial perusahaan  terhadap strategic stakeholdernya terutama komunitas atau masyarakat disekitar wilayah kerja dan operasinya. CSR telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 40  tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Kewajiban pengusaha untuk menyisihkan sebagian laba  untuk membantu masyarakat sekitarnya.

Agar  tidak  menumpuk disuatu tempat atau hanya diseputaran kota Takengon saja, penyaluran dana CSR diperluas  dalam skala yang lebih luas lagi.

Bupati Shabela meminta perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Aceh Tengah untuk bahu membahu membangun daerah.  Mengingat anggaran yang dimiliki Pemerintah Daerah cukup terbatas, hanya tertumpu pada Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Otonomi Khusus (Otsus). Shabela memberi contoh Kota Surabaya yang  begitu cepat berbenah dengan adanya sumbangsih CSR.

Ia menyebut Aceh Tengah adalah mutiara terpendam.  Kekayaan dan potensi alamnya yang berlimpah belum dikelola secara optimal. Untuk menggali potensi yang ada konsep pembangunan Aceh Tengah mesti dilakukan secara terpadu tidak hanya dari aspek pariwisata dan pertanian tetapi luas lagi. 

“Untuk itu perlu kerjasama dan koordinasi yang baik dari semua pihak. Baik Pemerintah, swasta maupun dari masyarakat sesuai dengan kontribusinya masing-masing dalam rangka berpartisipasi mengembangkan potensi yang ada”ungkapnya.

“CSR Harus membantu masyarakat Aceh Tengah secara menyeluruh, tidak hanya menumpuk di suatu tempat, bukan hanya membangun tugu, melainkan realisasi CSR bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti membantu Pemerintah dalam merealisasikan 2 Hektar per KK, pihak perusahaan membantu cangkul atau semacamnya,” terang Shabela.

Penyaluran CSR adalah bentuk bina lingkungan guna mendorong pembangunan, perbaikan sarana, fasilitas umum dan fasilitas sosial masyarakat. Ekspansi perusahaan yang ada di Aceh Tengah diharapkan tak  hanya dalam hal perluasan usaha dan permodalan,  namun juga ekspansi kebaikan untuk membantu sesama yang membutuhkan.  

Penandatanganan kesepakatan bersama ini menurut Shabela langkah awal untuk mendorong perusahaan dan perseroaan yang usahanya terkait dengan sumber daya alam untuk melaporkan kinerja ekonomi, sosial dan lingkungan kepada publik. 

“Konsep kebersamaan dan komitmen dalam mengoptimalkan CSR untuk masyarakat yang membutuhkan di Aceh Tengah ini hendaknya  terus berlanjut karena masih banyak permasalahan yang belum diselesaikan, utamanya sebagai akibat bencana serta kerusakan infrastruktur dan sebagainya” kata Shabela.

Masyarakat saat ini semakin sadar akan haknya untuk meminta pertanggung jawaban perusahaan atas berbagai masalah sosial dilingkungan yang seringkali ditimbulkan oleh beroperasinya perusahaan. Kesadaran itu semakin menuntut kepedulian perusahaan bukan saja dalam proses produksi, melainkan terhadap berbagai dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan.  (Arsadi Laksamana)

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!
Sponsored content