Koordinator Jang-Ko Nilai Dinas Sosial Aceh Tengah Lamban “Bekerja” Untuk Bantuan Masa Covid-19

  • Whatsapp
Koordinator Jang-Ko, Maharadi (foto-dok)

Kabargayo.com, Takengon; Dinas Sosial Kabupaten Aceh Tengah dinilai lamban menyikapi terkait bantuan untuk masyarakat kurang mampu di daerah dingin itu. Hari ini jangankan untuk mendistribusikan, tingkat pengadaan barang, diduga belum terjalin dengan pihak ketiga, lain lagi deengan bahasa validasi data.

Seharusnya jauh hari dinas sosial sudah melakukan pembagian sembako atau apapun namanya. Hari ini masyarakat terus terhimpit akibat perekonomian yang tidak jelas, selama wabah corona ini.

“Semua kalangan hari ini terhimpit ekonomi akibat wabah corona. Nah, tugas pemerintah (dinas sosial-red) agar bersikap cepat untuk menyediakan dan menyalurkan bantuan,” harap Koordinator Jaringan Anti Korupsi (Jang-ko).

Sebenarnya melihat aturan tidak ada alasan keterlambatan pembagian sembako, “Dinas ditunjuk untuk mampu membantu bupati dalam semua hal terkait dinas tersebut. Jangan hanya bisa mengikuti langkah bupati tapi, lamban berbuat atau bertindak,” ujar Maharadi.

Menurut Maharadi, hari ini karena sifatnya bencana semua aturan dipermudah, agar masyarakat bisa mendapatkan langsung bantuan. Begitu juga dengan bantuan dari provinsi Aceh, Sejauh kami ketahui bahwa dinas Sosial Aceh Tengah, lambat mengirimkan data. “Mereka lamban mengirimkan data, maka lambatlah menerima manfaat atau sembako,” kata koordinator itu.

Maharadi meminta bupati Shabela untuk mengevaluasi dinas-dinas yang lamban bekerja dalam situasi seperti ini. “Seharusnya bupati lakukan perintah langsung terhadap kinerja masing-masing dinas,” bukan hanya menguntit langkah bupati sebut Maharadi lagi.

Sementara, Kabupaten lain yang ada di Aceh, sudah menyalurkan bantuan sembako, “Kok Aceh Tengah belum, hal ini yang kita pertanyakan, apakah Dinas sosial di Aceh Tengah tidak berkerja pada masa pandemi ini, ” tanyanya lagi. 

Masyarakat petani butuh aksi nyata, karena saat ini, harga jual Kopi Arabika Gayo ditingkat petani saat ini terpuruk. 

Pengepul enggan membeli gabah kopi dari petani langsung dengan skala besar. Harga Gelondong (Cherry) saat ini turun berkisar Rp.6000 per bambu sebagian Rp.5000/kg. Saat ini masyarakat mengalami kesulitan menjual kopi, setelah panen.

Petani harus merelakan membagi 3/4 kopinya kepada jasa petik, sisa yang dibawa petani 60 % dan belum lagi dikurangi biaya pemupukan, perawatan.  Sementara, sembako belum di bagikan. Apalagi sekarang menghadapi ramadhan dan Hari raya idul fitri. “Ayo bekerja dinas sosial Aceh Tengah,” tutup Maharadi. (putra gayo)

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.
  • Whatsapp

Related posts