Komunitas Zero Waste Aceh “Kawal” Kebersihan Aceh Food Festival

0

BANDA ACEH: Anggota Komunitas Zero Waste Aceh (ZWA) yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, praktisi dan pegiat persampahan yang berada di kota Banda Aceh mengawal kebersihan acara Aceh Food Festival. Festival ini diadakan di halaman Gelanggang Mahasiswa Unsyiah Darussalam sejak tanggal 12-14 September 2017.

Komunitas ZWA yang terbentuk sejak bulan Mei 2017 ini bertekad membantu menjadikan kota Banda Aceh sebagai kota bebas sampah yang akan dicapai tahun 2020 nanti. “Jadi kita mengawal even ini sebagai salah satu langkah untuk menciptakan Banda Aceh yang bebas dari sampah,”ujar Koordinator ZWA, Muhammad Nizar.

Zero Waste sendiri bermakna menghasilkan sampah seminimal mungkin yang akhirnya dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Timbulan sampah harus dihindarkan dengan cara memilah-milah material yang masih bisa digunakan kembali, atau didaur ulang atau penggunaannya dikurangi sehingga tidak menghasilkan sampah.

“Kita minimalkan sampah yang dibuang ke TPA, dengan mulai mengelolanya sejak dari awal munculnya sampah. Jika dari awal kita sudah melakukan pemisahan maka selanjutnya sampah akan mudah dikelola,”jelas Nizar.

Dalam even ini komunitas ZWA menerapkan metode edukasi dan melakukan patrol sampah di arena festival. Dalam edukasi, ZWA berkeliling ke stand-stand penjual makanan, memberikan pengarahan agar sampah dipisahkan dalam kantongnya masing-masing. ZWA juga menyediakan kantong plastik besar sebagai penampung sampah. Kemudian pemilik stand akan mengumpulkan sampah-sampah tersebut di posko ZWA.

Selain itu tim ZWA juga melakukan patroli sampah disekitar arena. Sampah-sampah yang berserakan dikumpulkan dalam wadah sesuai jenisnya, misalnya sampah plastik, botol dan sampah organik serta residu. Sehingga diharapkan arena menjadi bersih dari sampah yang berserakan.

“Tapi sayangnya ga semua orang punya kesadaran membuang sampahnya ke tong sampah. Bahkan masih banyak orang baik mahasiswa maupun umum yang meletakan begitu saja sisa makanannya di meja, di tanah seenaknya. Kayaknya masih butuh waktu untuk menyadarkan para pengotor ini,”sambung Nizar.

ZWA tidak bekerja sendiri saja melainkan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh serta panitia dalam melaksanakan “pengawalan” sampah ini.

“Sampah yang kami pisahkan, yang residu diambil oleh petugas kebersihan DLHK3, sedangkan sampah plastik kemasan dapat dijual kembali dan dananya masuk ke dalam kas komunitas,”tambah Nizar.

Kegiatan yang dilakukan ZWA ini bersifat sukarela artinya tidak memungut biaya dari panitia, tidak meminta dana dan semua keperluan diadakan secara swadaya.[REL]

Komentar Anda
SHARE