Ketika dr. Hardi Yanis Bertanya, Salah Saya Dimana?

  • Whatsapp

TAKENGON: Raut wajah dr. Hardi Yanis, Sp.PD  terlihat letih. Direktur Rumah Sakit Datu Beru ini berulangkali menghela napas panjang, seakan berusaha mengusir beban. Kritikan terhadap dirinya  sebagai direktur di rumah sakit itu akhir-akhir ini cukup menguras energinya.

Menjadi orang nomor satu di rumah sakit yang telah mendapat akreditasi paripurna itu, Hardi Yanis mempunyai tanggung-jawab untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga dokter yang ada. Alasan inilah yang membuat ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan sebagai dokter subspesialis  ginjal dan hipertensi di Unsyiah.

Kepada wartawan, ia meyakinkan sejak awal dirinya telah meminta izin pimpinan untuk melanjutkan pendidikan untuk menjadi dokter ahli ginjal. Sesuai prosedur seperti aturan yang ditetapkan.

“Tidak ada  aturan yang dilanggar, saya tidak tahu salah saya dimana?”ungkap Hardi Yanis.

Ditanya soal tanggapannya terhadap kritikan Wakil Bupati Aceh Tengah, Firdaus SKM bahwa ia tidak fokus mengurus rumah sakit yang ia pimpin itu, karena sedang melanjutkan pendidikan Hardi Yanis nampak sangat  berhati-hati menjawab. Sebagai bawahan ia tidak ingin dan merasa tidak pantas berpolemik  dengan atasannya  itu.

Ia hanya menjawab kritikan tersebut menunjukan perhatian besar Wakil Bupati Aceh Tengah  terhadap RSUD Datu Beru. Bentuk tanggung-jawab demi kemajuan rumah sakit yang telah menjadi BLUD itu.

“Selaku direktur RSUD Datu Beru saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Wakil Bupati (Firdaus) yang sudah melakukan Sidak, karena beliau juga sebagai pimpinan daerah, punya tanggung jawab yang besar di bidang kesehatan ini,” ungkap Hardi Yanis.

Dibawah kepemimpinannya, RSUD Datu Beru sebut Hardi Yanis, terus melakukan pembenahan-pembenahan. Sebagai rumah sakit regional terus berupaya dikembangkan. Tak hanya harus unggul dibidang infrastuktur dan peralatan, tapi juga harus unggul di SDM, tak hanya cukup dengan dokter spesialis tapi juga harus ditambah  dokter subspesialis atau konsultan.

Untuk peningkatan pelayanan, keberadaan dokter subspesialis sangat diperlukan. Tingkat spesifikasi keilmuannya  lebih tinggi ketimbang dokter spesialis. Prof. Dr. dr. Maimun Syukri, SpPD, KGH FINASIM,  yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah pada Pertemuan Ilmiah Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PIB PERNEFRI), di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Jumat(19/10/2018) menyebutkan di Aceh cuma ada 3 orang dokter ahli ginjal dengan 5, 2 juta penduduk.

Dengan adanya dokter ahli ginjal, tenaga kesehatan di daerah yang menemukan kendala saat melayani pasien cuci darah tidak harus konsultasi ke rumah sakit provinsi lagi.

Selama menempuh pendidikan, Hardi Yanis mengaku menggunakan uang pribadi, bukan beasiswa atau dana dari pemerintah dan tak pernah menggunakan SPPD. Dirinya  mengaku bisa membagi waktu.

” Tidak setiap hari saya sekolah, hanya hari-hari tertentu saja ” ungkapnya.

RSUD  ini katanya,  tengah berupaya melakukan pengembangan layanan unggulan di bidang pengobatan jantung dan pelayanan ginjal. Untuk bidang jantung, sebut Hardi Yanis dua orang dokter akan melanjutkan pendidikan.  Dengan syarat harus mampu membagi waktu dan tidak menganggu tugas pokoknya  di RSUD Datu Beru.

Bicara kualitas pelayanan, RSUD Datu Beru, sebut Hardi Yanis tetap bertahan sebagai rumah sakit rujukan (Bener Meriah dan Gayo Lues)  bersama  RSUD Zainal Abidin di kelasnya masing-masing ditengah banyaknya rumah sakit yang turun kelas. RSUD ini juga tengah bersiap menjadi rumah sakit pendidikan.

Ia juga menerangkan, tentang keluhan ada meja piket yang kosong tanpa petugas, Hardi Yanis meluruskan, bahwa saat itu perawat ada namun kebetulan sedang mengecek pasien lain, artinya bukan tidak ada petugas perawat.

Begitu juga dengan peristiwa rubuhnya plafon salah satu ruangan di RSU Datu Beru belum lama ini, hal tersebut merupakan insiden dan tidak ada yang menginginkan hal itu terjadi. Ia juga telah memerintahkan kepada jajaran untuk diperbaiki, meski hal bukan sepenuhnya tanggung-jawab pihak rumah sakit.

Sebagai manusia, Hardi Yanis mengaku tak sempurna. Namun demikian ia ingin memberikan pemahaman bahwa dirinya berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat semaksimal mungkin.

Begitu juga niatnya untuk sekolah lagi bertujuan demi peningkatan pelayanan RSUD Datu Beru, yang nantinya memiliki dokter-dokter dengan kualifikasi pendidikan Subspesialis.

Hal tersebut katanya sudah menjadi tanggung-jawabnya. Beragam  kritikan  tersebut ia anggap sebagai energi positif untuk peningkatan pelayanan yang prima seperti yang diharapkan masyarakat.(Arsadi Laksamana)

Kabargayo.com menerima kiriman artikel dari pembaca, kirim ke email: beritagayo@gmail.com dengan biodata diri.
  • Whatsapp

Related posts