Kesal, Kantor Reje kampung Delung Asli Dirusak Pemuda

REDELONG-Puluhan Pemuda Delung Asli melampiaskan kemarahannya degan melempari batu ke kantor Reje kampung Sabtu malam (20/8) pukul 22-00 wib sehingga menyebabkan kerusakan yang cukup parah hampir keseluruhan kaca dinding dan pintu pecah disinyalir aksi perusakan tersebut akibat kesal Reje Kampung tak kujung diberhentikan, perusakan tersebut juga disaksikan oleh ratusan warga Delung Asli dan Delung Tue Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah. Tidak lama setelah kejadian polisi datang kelokasi untuk mengamankan keadaan.

“Silakan difoto, kalau kurang biar kami tambah” teriak pemuda di tegah kerumunan, “Kami kesal disuruh kesana kemari, kami sudah melaporkan Kepada Pemerintah dalam hal ini Bupati, Camat, namun tidak ada respon untuk memberhentikan Reje Kampung, kami malah disuruh berdamai sementara masyarakat sudah tidak percaya” kata Bibi.

.Bukan masalah korupsi atau tidak lanjut bibi kebijakan yang dilakukan oleh Reje sudah tidak dapat di toleransi, masyarakat sudah tidak tahan atas sikap Reje yang sombong angkuh, semena-mena menjalankan roda pemerintahan.”Masyarakat punya batas kesabaran hampir 70 persen masyarakat menginginkan ia di berhentikan” cetus Bibi.

Fitra selaku Ketua Pemuda meyebutkan sudah banyak permasalahan yang ada di desa ini sehingga emosional warga tidak dapat ter elakkan, perusakan tersebut merupakan mosi ketidak percayaan terhadap Reje Kampung namun pihak yang terkait mengangap permasalahan tersebut sepele.

Dikatakan fitra, setelah ini pemerintah daerah untuk cepat tanggap terkait laporan dan keluhan masyarakat sebelum terjadi perusakan, sudah banyak kesalahan yang dilakukan seperti halnya,tidak adanya musyawarah di tahun 2015 ,dalam pembangunan drenase, gedung Paud, pagar Kantor Reje, MCK,gedung BUMK yang tidak terprogram dan pembelian tanah desa senilai Rp 10 juta.

Selain permasalahan itu, ungkap Fitra pembangunan asset desa berupa kolam apung yang diberikan pemerintah daerah berupa drum sebanyak 100 buah dan papan sebanyak 50 lembar tidak jelas entah kemana dan penjualan beras raskin tidak sesuai dengan harga Het yang ditentukan berkisar Rp 35 ribu-40 ribu/zak serta tidak tepatnya sasaran dana bantuan sosial panti jumpo tanpa sepengetahuan ketua yayasan tgk Anwar Sahadat.

Permasalahan lainnya papar Fitra, terkait pembuatan plank nama lorong dan plat penomoran rumah tidak pernah di musyawarahkan, pemuda tidak di izinkan mengelola teratak sehingga teratak dikelola oleh Reje dan tidak layak pakai padahal setiap warga yang melakukan pemasangan membayar Rp 700 ribu.

Bukan hanya itu,Fitra juga memberitahukan pemberhentian aparatur kampung secara sepihak seperti Sekretaris Kampung Husaili yang digantikan dengan Yusran, Kepala Dusun Sahputra diganti Kadian dan Aspia diganti dengan Abdurahman.

Ditengah kerumanan tersebut sejumlah warga lainnya ia menyatakan sebelum terpilih Salihin (reje Kampung-red) telah membuat surat peryataan Ikrar Janji yang ditandatangani di atas materai 6000 tertanggal 20 maret 2015, setelah dilakukan musyawarah dengan Petue Kampung Salihin besedia mengundurkan diri asal tidak diperiksa di hadapan hukum. (Uri)

Komentar Anda
SHARE