Kebijakan Baru, Pemerintah Optimis Peternak Lebih Sejahtera

Harga ayam di tingkat peternak berangsur naik dan stabil dengan regulasi terbaru dari kementerian terkait diharapkan akan meningkatkan kesejahtraan peternak. Indonesia dinilai memiliki potensi cukup besar lebih mengembangkan sektor peternakan.

JAKARTA: Sekian lama, peternak ayam mengalami situasi yang tidak menentu. Selama beberapa tahun terakhir, harga ayam hidup atau live bird jauh dari yang diharapkan. Pernah pada suatu masa harga ayam hidup Rp 9 per kg, jauh dari harga yang layak. Ini tentu saja menimbulkan keresahan di kalangan peternak karena mata pencahariannya tersebut tidak mendatangkan hasil yang sepadan dengan kerja keras mereka.

Melihat kondisi ini, baru-baru ini Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) tidak tinggal diam. Di bawah komando Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, hal utama yang selama ini mengganjal diubah. Kebijakan adalah kuncinya. Maka, Kementerian Pertanian pun mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian atau Permentan No 32 Tahun 2017. Secara garis besar, Permentan ini mengatur beberapa hal terkait penyediaan, peredaran dan pengawasan ayam ras. Selain itu, kebijakan ini juga didukung oleh Peraturan Menteri Perdagangan atau Permendag No 27 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani.

Kini, harga ayam di tingkat peternak telah berangsur naik dan relatif stabil. Peternak ayam dapat menikmati keuntungan karena harga ayam hidup atau live bird mulai membaik. Hal ini dipaparkan sendiri oleh beberapa peternak ayam.

Sugeng, yang merupakan Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) menceritakan tentang perbaikan harga jual ayam hidup. Saat ditemui di Kecamatan Ranca Mungur, Bogor, 14 Maret 2018 lalu, ia menyampaikan bahwa saat ini harga ayam hidup di tingkat peternak bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya di bulan yang sama. Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh penerapan Permentan No 32 tersebut.

Senada dengan Sugeng, Nano, yang juga anggota GOPPAN menjelaskan hal yang sama. “Biasanya pada bulan Februari-Maret kita demo, namun pada saat ini tidak ada demo karena harga stabil,” ungkapnya tersipu malu.

Pendapat Sugeng dan Nano juga didukung oleh Alvino dari Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN). “Harga saat ini bagus dan kita berharap ini bisa berlangsung seterusnya. Kami bisa tersenyum lebar dengan harga sebagus ini,” tuturnya sambil menyungging senyuman.

Rasa berterimakasihpun dilontarkan oleh para peternak. “Kami sampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dari Bapak Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, serta Bapak I Ketut Diarmita selaku Dirjen PKH,” kata Singgih Januratmoko, Ketua Umum PINSAR (Perhimpunan Perunggasan Rakyat Indonesia)

“Harga sekarang sedang bagus-bagusnya di seluruh Indonesia. Harga ini sesuai dengan harga batas atas pemerintah, yakni 19 ribu rupiah per kg ayam hidup,” ucap Singgih. “Alhamdulillah, ini semua berkat kerja keras Bapak Mentan dan Dirjen PKH,” tambahnya bersemangat.

Hal ini terjadi karena menurut Singgih, peternak dan Kementerian Pertanian saling bahu-membahu bekerja sama untuk memperbaiki perunggasan nasional yang sebelumnya kacau balau.

Singgih mengenang kembali tahun tahun sebelumnya di mana harga selalu di bawah harapan. Bahkan, tahun 2013, tepatnya bulan Februari dan Maret harga anjlok hingga Rp 9 ribu per kg. Singgihpun menderita kerugian karena tidak mendapat keuntungan sama sekali. Bahkan modalnyapun hilang setengah.

Singgih bersyukur karena Kementan lalu mengeluarkan, Permentan 32.Sekian lama, peternak ayam mengalami situasi yang tidak menentu. Selama beberapa tahun terakhir, harga ayam hidup atau live bird jauh dari yang diharapkan. Pernah pada suatu masa harga ayam hidup Rp 9 per kg, jauh dari harga yang layak. Ini tentu saja menimbulkan keresahan di kalangan peternak karena mata pencahariannya tersebut tidak mendatangkan hasil yang sepadan dengan kerja keras mereka.

Melihat kondisi ini, Kementerian Pertanian, khususnya Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) tidak tinggal diam. Di bawah komando Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, hal utama yang selama ini mengganjal diubah. Kebijakan adalah kuncinya. Maka, Kementerian Pertanian pun mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian atau Permentan No 32 Tahun 2017. Secara garis besar, Permentan ini mengatur beberapa hal terkait penyediaan, peredaran dan pengawasan ayam ras. Selain itu, kebijakan ini juga didukung oleh Peraturan Menteri Perdagangan atau Permendag No 27 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani.

Kini, harga ayam di tingkat peternak telah berangsur naik dan relatif stabil. Peternak ayam dapat menikmati keuntungan karena harga ayam hidup atau live bird mulai membaik. Hal ini dipaparkan sendiri oleh beberapa peternak ayam.

Sugeng, yang merupakan Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) menceritakan tentang perbaikan harga jual ayam hidup. Saat ditemui di Kecamatan Ranca Mungur, Bogor, 14 Maret 2018 lalu, ia menyampaikan bahwa saat ini harga ayam hidup di tingkat peternak bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya di bulan yang sama. Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh penerapan Permentan No 32 tersebut.

Senada dengan Sugeng, Nano, yang juga anggota GOPPAN menjelaskan hal yang sama. “Biasanya pada bulan Februari-Maret kita demo, namun pada saat ini tidak ada demo karena harga stabil,” ungkapnya tersipu malu.

Pendapat Sugeng dan Nano juga didukung oleh Alvino dari Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN). “Harga saat ini bagus dan kita berharap ini bisa berlangsung seterusnya. Kami bisa tersenyum lebar dengan harga sebagus ini,” tuturnya sambil menyungging senyuman.

Rasa berterimakasihpun dilontarkan oleh para peternak. “Kami sampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dari Bapak Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, serta Bapak I Ketut Diarmita selaku Dirjen PKH,” kata Singgih Januratmoko, Ketua Umum PINSAR (Perhimpunan Perunggasan Rakyat Indonesia)

“Harga sekarang sedang bagus-bagusnya di seluruh Indonesia. Harga ini sesuai dengan harga batas atas pemerintah, yakni 19 ribu rupiah per kg ayam hidup,” ucap Singgih. “Alhamdulillah, ini semua berkat kerja keras Bapak Mentan dan Dirjen PKH,” tambahnya bersemangat.

Hal ini terjadi karena menurut Singgih, peternak dan Kementerian Pertanian saling bahu-membahu bekerja sama untuk memperbaiki perunggasan nasional yang sebelumnya kacau balau.

Singgih mengenang kembali tahun tahun sebelumnya di mana harga selalu di bawah harapan. Bahkan, tahun 2013, tepatnya bulan Februari dan Maret harga anjlok hingga Rp 9 ribu per kg. Singgihpun menderita kerugian karena tidak mendapat keuntungan sama sekali. Bahkan modalnyapun hilang setengah.

Singgih bersyukur karena Kementan lalu mengeluarkan, Permentan 32. Kebijakan ini sangat berpengaruh pada perbaikan kondisi dan harga, dan peternak di seluruh Indonesia pun bisa menikmati hasil ternaknya. “Tahun 2018 ini harga stabil,” ungkap Singgih.

“Harapan semua peternak agar program-program Kementerian Pertanian untuk menata perunggasan dijalankan terus secara konsisten,” paparnya menutup obrolan

Ditemui secara terpisah, Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, mengungkapkan kebahagiaannya mendengar kabar baik dari para peternak ayam. “Hal ini tentunya dapat terwujud berkat kerjasama yang baik antara pemerintah dengan semua pihak, terutama para peternak yang tidak lelah berkoordinasi dan bekerja sama dengan pemerintah untuk mencari solusi dalam mengatasi permasalahan”, ungkapnya.

“Kami, pemerintah, sebelumnya sampai beberapa kali melakukan pertemuan dengan stakeholder lainnya untuk mencari solusi permasalahan terkait anjloknya harga telur dan daging ayam di tingkat peternak. Bahkan kami juga sempat didemo oleh beberapa perwakilan peternak di kantor kami. Demo juga sampai ke Istana Negara”, kenang I Ketut Diarmita.

Untuk mengatasi masalah perunggasan, terutama dalam rangka pemberdayaan dan perlindungan terhadap peternak mandiri, I Ketut menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut dilakukan, terutama untuk menjaga stabilitas harga daging dan telur ayam di tingkat peternak.

“Kami bersyukur kebijakan pemerintah tersebut ternyata berdampak terhadap kenaikan harga yang cukup signifikan di tingkat peternak sesuai dengan harapan kita semua,” pungkas Ketut Diarmita menampakkan rasa bahagianya.

Dari semua ini makin terlihat bahwa upaya mencapai swasembada protein yang dicanangkan Menteri Amran, selain nantinya akan berdampak pada masyarakat sebagai konsumen, juga mampu memberi kebahagiaan bagi para peternak. Jika peternak tersenyum, Menteri Amranpun turut tersenyum tentunya.

Kebijakan ini sangat berpengaruh pada perbaikan kondisi dan harga, dan peternak di seluruh Indonesia pun bisa menikmati hasil ternaknya. “Tahun 2018 ini harga stabil,” ungkap Singgih.

“Harapan semua peternak agar program-program Kementerian Pertanian untuk menata perunggasan dijalankan terus secara konsisten,” paparnya menutup obrolan

Ditemui secara terpisah, Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, mengungkapkan kebahagiaannya mendengar kabar baik dari para peternak ayam. “Hal ini tentunya dapat terwujud berkat kerjasama yang baik antara pemerintah dengan semua pihak, terutama para peternak yang tidak lelah berkoordinasi dan bekerja sama dengan pemerintah untuk mencari solusi dalam mengatasi permasalahan”, ungkapnya.

“Kami, pemerintah, sebelumnya sampai beberapa kali melakukan pertemuan dengan stakeholder lainnya untuk mencari solusi permasalahan terkait anjloknya harga telur dan daging ayam di tingkat peternak. Bahkan kami juga sempat didemo oleh beberapa perwakilan peternak di kantor kami. Demo juga sampai ke Istana Negara”, kenang I Ketut Diarmita.

Untuk mengatasi masalah perunggasan, terutama dalam rangka pemberdayaan dan perlindungan terhadap peternak mandiri, I Ketut menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut dilakukan, terutama untuk menjaga stabilitas harga daging dan telur ayam di tingkat peternak.

“Kami bersyukur kebijakan pemerintah tersebut ternyata berdampak terhadap kenaikan harga yang cukup signifikan di tingkat peternak sesuai dengan harapan kita semua,” pungkas Ketut Diarmita menampakkan rasa bahagianya.

Dari semua ini makin terlihat bahwa upaya mencapai swasembada protein yang dicanangkan Menteri Amran, selain nantinya akan berdampak pada masyarakat sebagai konsumen, juga mampu memberi kebahagiaan bagi para peternak. Jika peternak tersenyum, Menteri Amranpun turut tersenyum tentunya.

Analis menilai langkah Indonesia yang didukung dengan SDA berlimpah dan aspek regulasi yang kuat akan berkontribusi bagi masa depan peternakan dan pertanian nasional. Indonesia dinilai memiliki potensi cukup besar lebih mengembangkan sektor peternakan dan pertaniannya, meningkatkan produktifitas dalam negeri sehingga terhindar dari berbagai ancaman krisis, terutama ancaman krisis pangan global.(Agus Rahmad)

Harap berkomentar dengan sopan dan tidak menyinggung SARA, Kami tidak bertanggung jawab dengan komentar anda!