Inggris dan Pemkab Aceh Tengah MoU Penanganan Sampah

  • Whatsapp

Kabargayo.com, Takengon | Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menyambut positif atas rencana salah satu lembaga asal Inggris yang ingin mengolah limbah sampah bernilai ekonomis di negeri berhawa sejuk itu. Kerjasama yang ini diharapkan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.

Read More

“Kami menyambut baik dan memberi dukungan sepenuhnya akan program ‘Ministry of Waste’ yang ingin mengolah limbah sampah di wilayah kabupaten Aceh Tengah,” kata Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar, Senin (02/04/2020) kemarin diruang kerjanya.

Selama ini kata dia, wilayah yang secara geografis terletak di tengah provinsi paling barat pulau sumatra itu, dengan suguhan dinasti Danau Lut Tawar yang memukau. Tidak dapat dipungkiri selain menyuguhkan pemandangan yang indah juga menjadikan Danau tersebut merupakan danau kebanggaan masyarakat Gayo. Sebagai sumber air bersih terbesar yang menyokong empat kabupaten terdekat dari wilayah Kabupaten Aceh Tengah, namun sangat di sayangkan merupakan tempat pembuangan sampah terbesar pada saat ini.

Ironi lain, dari sedikitnya 3 kecamatan di seputaran Kota Takengon, paling tidak sekitar 65 ton volume sampah yang dihasilkan setiap harinya.

“Selain itu polemik lainnya yang tidak kalah butuh penanganan cepat yaitu menyangkut kondisi TPA di Aceh Tengah yang tidak layak karena hanya seluas 2 hektar saja dan juga letaknya terlalu berdekatan dengan zona Kampus STAIN Gajah Putih,” terang Shabela.

Dengan demikian, konsep yang ditawarkan oleh Samanta Skrivere, selaku CEO/founder dari lembaga sosial yang bergerak di bidang sosial dan fokus pada permasalahan lingkungan Ministry of Waste yang disampaikan melalui juru bicaranya M. Fauzan Febriansyah, sangat diharapkan dapat menjadi solusi terbaik dalam penanganan sampah tersebut,

“Selaku kepala daerah kami sangat mendukung dan berharap dapat direalisasikan dengan segera mungkin. Besar harapkan kami agar MoU antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dengan Ministry of Waste ini agar dapat segera dilaksanakan,” ucapnya.

Untuk percepatan realisasi penanganan sampah ini, Shabela menyatakan akan memberikan dukungan penuh, baik mengenai regulasi, penyediaan lahan yang dibutuhkan, hingga menyediakan alokasi anggaran sesuai dengan paparan rencana dan projek proposal yang telah disampaikan oleh Ministry of Waste.

Dalam kesempatan ini CEO dan Founder Ministry of Waste, Samanta Skrivere, menyatakan pihaknya tertarik membantu pengolahan limbah sampah di Kabupaten Aceh Tengah karena dianggap memiliki lokasi yang cukup layak untuk dijadikan wilayah percontohan di waktu mendatang. Selain karena wisatanya, juga menjadi daerah yang berhasil menghadapi masalah persampahan yang merupakan isu global.

“Mengapa Lembaga Ministry of Waste lebih fokus ke kawasan Asia Tenggara, karena 60 persen polusi sampah plastik di laut dunia berasal dari Asia Tenggara,” ujarnya.

Ia menambahkan, lembaga ini menawarkan solusi total penanganan sampah mulai dari edukasi pada masyarakat. Untuk penanganan limbah secara modern, seperti sampah plastik, sampah karet, sampah organik, non-organik, sampah medis rumah sakit hingga sampah biologis dari perkebunan.

Menurut Samanta sampah-sampah tersebut mampu diolah menjadi barang yang bernilai ekonomis.

“Diapers bisa dijadikan batu bata, plastik bisa dijadikan pakaian, sampah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos dan makanan ternak, dan masih banyak fungsi sampah bisa di daur ulang menjadi bahan berguna,” imbuhnya.

“Kita coba akan jajaki kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Kerjasama ini akan berlangsung selama 20 hingga 30 tahun ke depan dengan biaya akan dibantu oleh investor dan pemerintah” lanjutnya.

Selain itu, menurut Samanta limbah ini bisa memiliki nilai ekonomis dan bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat, mulai menggerakkan rantai siklus ekonomi dan kemudian perputaran sampah yang awalnya tidak bernilai menjadi bernilai ekonomi, bermanfaat dan berguna langsung kepada masyarakat.

Kedepannya kita akan mengubah image TPA sebagai tempat yang tidak menarik menjadi penggerak ekonomi, baik langsung kepada masyarakat sekitar dan wisata destinasi edukasi bagi yang mengunjugi TPA tersebut”tutup Samanta. (ril/Kar)

Related posts